Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
Bab 41


__ADS_3

2 Minggu kemudian.


Seiring berjalannya waktu begitu juga dengan kesibukan yang di alami seorang layya.


Kontrak kerjanya dengan perusahaan imperial rayyan sudah berakhir kemarin dan mereka sudah menandatanganinya bersama meski tanpa saling bertemu karna layya berurusan dengan aldi sang asisten Ceo tersebut. kata aldi rayyan lagi berada di dubai untuk perjalanan bisnis.


Itu bukan urusannya sih, yang penting ia sudah menyerahkan dengan 100% siap ke pihak kliennya dan tanpa melihat kekecewaan pada pihak tersebut.


Tapi ngomong ngomong tentang perjalanan bisnis rayyan. beberapa kali ia sempat mendengar dari beberapa mulut wanita yang suka bergosip baik ketika ia kemari mengecek desain maupun ketika ia berada di kantin perusahaannya sendiri bahkan pernah ia tidak sengaja melihat dari layar tv saat menonton tv dengan ayrin dan ia yang saat itu sedang mengacak acak siaran. ia melihat berita, yang mengatakan kalau rayyan melakukan perjalanan bisnisnya kali ini bersama dengan kekasih+tunangannya yaitu reina. ia dan ayrin sempat melihat keduanya berada di beberapa negara, yang ia dengar sambilan mereka berlibur.


"sepasang pengkhianat...sa~ngat serasi! ". itulah kata yang keluar dari mulut sahabatnya ayrin ketika melihat penayangan rayyan dan reina. hingga ia memutuskan mengambil siaran lain.


Ketika mendengar dari mulut para wanita itu yang suka bergosip ria. ia pikir+ia kira itu hanya gosip. tidak mungkin seorang rayyan yang sangat otoritas dalam bekerja mau menggabungkan bekerja dan bermain namun ternyata cinta mengalahkan semuanya. ia sempat dengar kalau rayyan sendiri yang menjemput atau meminta reina untuk menemaninya bekerja....bukan urusannya.


"hhhhh...". layya mendesah lega begitu merebahkan punggungnya ke sofa di belakangnya. ia sekarang berada di ruangan kerja pribadinya di perusahaan setelah tadi mengurus beberapa desain serta menseleksi beberapa karyawan baru.


"helaan nafasmu bisa membuat se ekor nyamuk mati desainer Zunaira? ". ucap nadia sekretarisnya.


Layya memperbaiki duduknya. menatap ke berkas yang berada di pelukan nadia.


"sudah selesai? ". tanyanya.


Nadia mengangguk sembari meletakkan bokongnya ke sofa samping layya.


"bagaimana? kamu sudah bersiap siap? ". tanya ayrin menoleh melihat layya.


Layya mengangguk sembari membuka berkas di depannya.


"Maafkan aku, seharusnya aku bisa menemanimu ke sana".


Lagi lagi layya mendesah.


"sudahlah pekerjaan juga penting".


"kamu sudah memutuskan tentang penawaran yang di katakan di rektur? ".


"aku pikir aku harus melihatnya dulu baru mempertimbangkan".


Nadia mengangguk mengerti.


Ya benar. besok ia harus berangkat ke Singapura sendiri mewakili pak di rektur yang katanya tidak bisa hadir karna harus menghadiri sebuah acara besar di dubai bersama istrinya dan juga pak wakil direktur bersama pasangannya. jadinya ia yang di utus untuk mewakili hadir. tadinya ia mengajak nadia tapi nadia tidak bisa karna pekerjaan di perusahaan membuatnya terikat. ia akan di sana selama 2 hari dan yah, kedua anaknya harus berada di kediaman ibu imelda mami rayyan 2 hari ini beserta lala juga.


Selama 2 minggu ini. bukannya rayyan yang datang melihat, bermain dengan kedua anaknya seperti yang pria itu minta tapi ibu imelda yang cukup sering berkunjung dan terkadang pak aditama juga ikut. hingga seminggu terakhir ini pak tama dan ibu imelda mengajak kedua anaknya ke kediamannya kata pak tama bermain air di kolam renang tentu saja kedua anaknya tertarik karna mereka sangat suka main air. hingga membuat keduanya setiap pagi sebelum ia berangkat kerja. keduanya sudah siap dengan baju yang siap berangkat dan jawaban mereka ketika di tanya mau kemana.


"mau main main, bunda kerja saja, kami tidak akan melarang bunda! ". anak yang sholeh bukan. jika keduanya sudah mengambil keputusan maka siapapun tidak akan bisa mengubah meskipun harus ia rayu dengan berbagai rayuan termasuk menawari mainan.

__ADS_1


Ia sempat berpikir apa ia harus menjual apartemen ini lalu membeli satu apartemen yang ada kolam renangnya dan khusus untuk anaknya. kolam renang anak anak, tapi mengingat mereka suka air, suka bermain air dan juga keduanya belum bisa berenang itu sangat bahaya bukan. ia tidak akan tenang dalam bekerja. tidak akan bisa.


"aku lapar, mau turun bareng...makan siang? ". tanya layya setelah bangkit dari rebahannya.


"aku akan menyimpan ini dulu, kamu duluan aja". jawab nadia setelah menyatukan beberapa berkas di meja kerja layya.


"baiklah". keduanya keluar bersama sama. layya yang melangkah lurus ke pintu keluar dari ruangan para karyawan yang bekerja di luar ruangan layya sedangkan nadia berbelok ke samping kanan menuju meja kerjanya.


Jam sudah menunjukkan pukul 2 lewat. tentu saja perutnya sudah keroncongan dari tadi.


Ting...


Pintu lift terbuka.


Layya melangkah keluar. ia memutuskan untuk makan siang di restaurant seberang jalan dan ia sudah mengirim pesan tadi ke nadia.


"layya...?". suara seseorang menghentikan langkah layya.


Layya membalik badan melihat orang yang memanggilnya tersebut. kedua alis layya sontak saja menyatu karna ia tidak kenal siapa pria tersebut.


"maaf?... anda...". layya memiringkan kepala bertanya.


"oh...ha ha ha...sudah lama sepertinya ya?... melihat kamu tidak mengenali aku layya? ". pria tersebut tertawa sumbar. dan ternyata pria itu adalah alex teman rayyan+manajer rayyan dulu.


Layya semakin menyatukan alisnya.


Alex menjulurkan tangannya untuk bersalaman.


"aku tidak menyangka bisa bertemu dengan mu di sini euhmmm...aku alex, ingat? seorang menajer model beberapa tahun yang lalu". ujar alex dengan senyum bodohnya.


Layya terlihat berpikir keras beberapa detik kemudian kedua matanya membulat.


"ah...kak alex?... apa kabar kak? ". tanya layya balik setelah mengingat, siapa alex di ingatannya dulu. layya menjabat tangan alex sebentar lalu melepaskan.


"seperti yang kamu lihat lalu...". mata alex melihat ke seluruh lobby di sana dan kembali melihat layya di hadapannya.


"kamu kerja di sini?... design?! ".


Layya mengangguk membenarkan.


Alex tersenyum tipis. pertanyaan yang sudah ia ketahui jawabannya namun ia tidak menyangka bisa bertemu layya hari ini dan di sini juga. hal yang tidak pernah ia duga.


"tapi...kenapa...kak alex...".


"ah...aku ada perlu dengan seseorang di sini, urusan kerja". alex menjawab pertanyaan yang mau layya tanyakan.

__ADS_1


"ah...". layya mengangguk mengerti.


"euhmmm...kalau begitu aku...".


"oh baiklah, maafkan aku sudah mencegatmu lama, kamu tentu sangat sibuk".


Layya tertawa bodoh.


"tidak juga, hanya saja aku sedang lapar banget".


"dan waktu makan siang sudah terlewat". keduanya tertawa bodoh.


"aku pamit dulu kak? ".


"baiklah!". alex mengangguk.


Layya membalik dan kembali melangkah.


Alex yang masih melihat punggung layya tersentak saat teringat sesuatu. ia dengan cepat mengejar langkah layya sebelum layya keluar dari pintu lobby.


"layya tunggu...". cegat alex.


Layya sontak menghentikan langkahnya. berbalik melihat alex.


"ya kak? ". jawab layya sopan.


Alex menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebelum berbicara.


"setelah makan siang kamu selesai..., bolehkah kita bicara sebentar?... jika bisa...aku akan menunggumu di sini,ah...tidak akan lama, ada beberapa hal yang mau aku tanyakan...". alex melihat wajah layya takut takut. takut di tolak.


Layya mencoba berpikir dan mempertimbangkan.


"apa sangat penting?! ". tanya layya.


Alex sontak menarik nafasnya. tentu saja sangat penting. ia bahkan hampir gila. baik dulu maupun waktu sekarang.


Alex mengangguk angguk mantap membuat layya yakin kalau hal yang mau ia tanyakan sangat sangat penting.


"ini menyangkut nyawa seseorang". jawabnya dengan wajah serius. sontak hal itu membuat kedua manik mata layya membulat.


'nyawa?..memang nyawa siapa?!'.


"baiklah tapi...bagaimana kalau setelah selesai kerja, karna setelah makan aku ada beberapa pekerjaan". jawab layya tanpa berpikir lagi.


Alex mengangguk mantap. tidak masalah.

__ADS_1


"it's okay, aku akan menunggu di sini lagian...tidak akan lama". jawab alex setelah melihat jam tangannya.


__ADS_2