
Wajah rayyan langsung mengelap, begitu melihat pemandangan di tengah kolam renang. Sedangkan dirinya semakin mempercepat lari namun bagi rayyan sekarang seperti tidak sampai sampai sampai ke tepi kolam. Seakan akan jarak meraup tubuhnya.
Telinganya tidak mendengar lagi suara teriakan 2 maid di sisi kolam renang bahkan suara angin di sekitarnya, rayyan menulikan itu. Mata serta telinganya hanya fokus pada tengah kolam renang.
Tubuh layya di dalam air dengan Yusuf dan Maryam dia tahan, untuk tidak tenggelam.
Jeritan ketakutan sekaligus cemas kedua anaknya. Yusuf dan Maryam. Sangat nyaring terdengar di telinganya. Serta suara air yang berciprat ke sana sini, mengalun di telinganya semakin membuat batin dalam dirinya menjerit ketakutan. Entah karna apa.
Padahal ia tahu jelas. Ia tidak mencintai wanita itu. Wanita yang sedang mempertaruhkan nyawanya demi kedua anaknya. Tetapi kenapa rasa ketakutan akan sekelebat bayangan muncul dari kepalanya, wanita itu tidak ada lagi. Meninggalkan nya, juga dua anak mereka. Tidak. Ia sangat yakin. Ia sedang tidak mencemaskan kedua anaknya. Akan tetapi. Wanita itu.
Ia selalu melafalkan dalam hati. Di setiap langkahnya berlari ke sini. Kalau dia sudah bisa berenang. Ini sudah 4 tahun. Tentu dia sudah bisa berenang. Juga mengingat kedua anak mereka yang sangat menyukai mandi di kolam renang. Trauma. Tentu itu sudah sembuh. Ia berpikir begitu. Mengingat ada kedua anak di samping nya. Namun, Ia hanya bisa menelan semua pemikiran nya itu.
Layya yang ia lihat sekarang. Layya yang ada di hapadannya sekarang. Sedang mempertaruhkan nyawanya demi kedua anak mereka. Kepalanya menggeleng keras seperti sedang melawan ketakutan akan traumanya itu. Juga, sedang bertahan untuk kuat. Mulutnya terkatup rapat, supaya air tidak masuk ke dalam paru parunya dan masih bisa menahan kedua tubuh anak mereka. Di tambah menahan nafas dan ia yakin. Wanita itu berharap dengan sangat. Akan ada seseorang datang dan membantu kedua anaknya.
Rayyan menggertakkan giginya. Wanita itu, tidak memikirkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Kesakitan, sekaligus sesak di dalam dadanya seperti menghantam nya sekaligus. Sebentar, ia seperti tidak bisa berpikir jernih. Sekelabat bayangan, akan ketiadaan layya lagi di dunia ini. Membuatnya tidak bisa menerima itu.
Kedua buku tangan rayyan menggepal erat di sertai langkah nya berlari semakin cepat.
Brukh.....
"arh...!". Suara ringisan rayyan saat terpeleset dan ter jatuh ke lantai marmer putih.
"Ray?!".
Rayyan yang sudah di kuasai kekalutan sekaligus ketakutan, yang dia sendiri tidak tahu. Bangkit kembali dari jatuhnya saat sejenak tadi terbaring. Bahkan ia tidak mendengar suara pekikan mami juga Reina di belakangnya. Pikirannya tidak ada hal yang lain lagi, selain dari menyelamat kan istri dan kedua anaknya. Apalagi saat terakhir melihat sebelum ia terjatuh. Layya yang sudah lemas, jatuh semakin dalam ke air di ikuti kedua anaknya.
Tangan kedua anaknya yang melambai ke atas tidak bisa berenang. Menghiasi mata kepala dan pikirannya.
Layya yang sudah lemas, jatuh semakin dalam ke dasar kolam renang. Sedangkan kedua manik matanya masih setia terbuka. Melihat menatap kedua anaknya, yang sangat menyakiti batinnya. Bahkan layya tidak bisa menangis lagi. Hatinya meringis sekaligus meminta pertolongan.
__ADS_1
Kedua anaknya. Sedang menderita di atasnya.
'ya Allah... Siapapun dia. Tolong suruh dia menyelamat kan kedua anakku. Jika dia rayyan papanya. Aku janji padamu. Aku sudah memaafkan, semua kesakitan yang dia berikan padaku. Dan ikhlas kedua anakku ada bersamanya dan semoga dia...Bisa menjaga mereka dengan baik'. Mata layya pelan pelan terpejam. Ia menyungging senyum tipis di bibirnya.
'selamat tinggal sayang? Semoga kalian bahagia bersama papa kalian'.
Bhurrrr...
Rayyan melompat ke kolam.
Layya yang sempat melihat itu sebelum kedua matanya tertutup sempurna. Menyungging senyum tipis.
'terima kasih Ray? Aku akui sekarang...Kamu ayah mereka dan...Jagalah mereka... Dengan baik'.
Dan kegelapan menyelimuti layya.
__ADS_1