
Imelda beranjak berdiri dari duduk di sofa yang berada di kamar tersebut. Sedang matanya menatap ke putranya, rayyan.
Imelda membuka mulut, mau menyapa putra nya.
Namun, ia kembali menelan suaranya. Ketika rayyan lebih dulu mengeluarkan suara.
"layya istriku mi!". Beritahu rayyan dengan suara lirih terserat akan kepedihan. Sedang kedua matanya masih menatap wajah yusuf, putranya.
Imelda tersentak terkejut. Ia tidak menyangka putra nya, Rayyan. Akan memberitahu nya secepat ini.
"ya mi! Mereka berdua...Cucu mami. Anak kandung ray. Anak ray dan layya...!". Rayyan terdiam sambil terus menatap wajah kedua anaknya bergiliran.
Imelda mengalihkan matanya melihat ke samping sebentar sebelum kemudian kembali melihat rayyan, putranya.
Imelda tetap diam. Menantikan pemberitahuan selanjutnya dari rayyan. Meskipun ia sedikit kecewa. Namun tidak di pungkiri, kalau ia benar benar sangat senang sekaligus bahagia. Ternyata, kedua anak kecil. Yang selama ini sangat ia sukai, sekaligus sudah membuatnya jatuh cinta. Dari pertama melihat yaitu di bandara. Ia terus memikirkan mereka, merindukan untuk bisa terus melihat mereka dan berada di samping mereka.
"lalu apa mi! Ray tidak bisa mengakui mereka!". Ujar rayyan menyentak lamunan Imelda.
Kedua alis Imelda menyatu. Tidak mengerti dengan ucapan rayyan.
'apa maksud...'.
"Layya istri ray...Tapi ray tidak bisa mengakui itu. Yusuf dan maryam anak ray...Tapi ray tidak memiliki hak untuk itu...". Rayyan kembali terdiam.
Mengatur nafasnya perlahan, yang sudah terasa berat baginya.
Rayyan berbalik menatap imelda. Senyum tipis tersungging di wajah tampannya. Namun, tidak dengan hatinya sekarang.
Rambut hitamnya yang biasa tersisir rapi, di padu dengan setelan jas kerja. Namun, sekarang. Rayyan biarkan acak acakan begitu tanpa tersisir. Semakin menambahkan ketampanannya, juga kharismanya.Tidak terlihat rayyan yang seorang CEO tapi terlihat rayyan seorang pria biasa.
Rayyan menggunakan kaos putih polos di padu dengan celana pendek casual warna abu abu tua.
"apa yang terjadi..? Mereka anakmu ray?!".
"ray menyakiti layya...". Sahut rayyan cepat begitu ucapan imelda berakhir.
Rayyan segera menarik nafas berat sambil menoleh melihat Imelda.
Imelda terdiam.
Rayyan kembali menunduk menatap lantai. Sebelum kemudian.
Rayyan menurun kan tubuhnya. Berjongkok di hadapan Imelda yang berdiri.
Hal tersebut. Sontak saja membuat Imelda terkejut dan mundur kebelakang.
"ray?!".
"karna itu...". Rayyan menjeda ucapannya. Kembali menatap wajah maminya. Berharap dan sangat berharap.
"bisakah mami, merahasiakan ini dulu dari layya? Kalau mami dan papi sudah tahu hubungan kami". Pinta rayyan memohon.
Imelda membulatkan matanya. Rasanya ia mau menampar wajah putranya. Namun, ia harus menahan itu.
'kenapa?!'. Ia mau menanyakan kata itu. Namun, ia harus kembali menelannya karna ucapan rayyan selanjutnya.
"dan juga...Dari papi! Kalau ray sudah tahu mami dan papi sudah tahu".
Kedua alis imelda mengerut. Semakin membuatnya tidak mengerti. Tunggu...
"ini tidak akan baik untukmu ray? Jika papimu tahu ini...?". Imelda menaikkan sedikit nada suaranya. Marah ke putranya.
"ray tahu!". Jawab rayyan lemah.
"kamu tahu? Dan kamu tetap akan melanjutkan ini?!". Imelda hampir saja menaikkan nada suaranya jika ia tidak teringat kalau ada dua bocah yang sedang terlelap.
Rayyan mengangguk.
Hal itu. Semakin membuat imelda marah.
"kamu juga tentu tahu bagaimana jika papi mu marah ray? Terlebih dengan ini. Kamu sudah tahu tapi tidak datang ke hadapan papimu dan mengaku. Kamu lebih tahu ray? Jika papimu mengambil tindakan ini sendiri, mencari semua kebenaran sendiri. Dan tentu kamu yakinkan? Papimu akan menemukannya". Seru Imelda marah.
"...". Rayyan tetap dalam diamnya.
Imelda terpaksa menarik nafas berat dan tajam. Ia berjongkok mensejajarkan tinggi dengan rayyan. Menangkup wajah putra satu satunya. Sedang kedua manik matanya menatap wajah lesu rayyan.
"pergilah ke hadapan papi dan mengaku semuanya... Sebelum papimu mengetahui semuanya sendiri. Mami tidak sengaja dengar barusan, sebelum papimu ke luar. Kalau papimu sudah menugaskan Jefri kembali bekerja. Kamu mengerti maksud mami kan?!".
"...". Rayyan tetap dalam diamnya. Namun, kali ini tidak dengan pikirannya.
Paman Jefri. Adalah asisten pribadi papi dulu, yang paling sangat setia terhadap papi. Dan beberapa tahun lalu setelah ia mengambil alih perusahaan. Paman jefri di pensiun kan oleh papi. Dan sekarang, paman jefri kembali bekerja. Itu artinya. Mulai dari sekarang, tidak ada lagi yang bisa ia sembunyikan dari papi. Termasuk, ia yang ke dubai dengan layya. Sebentar lagi... Papi akan segera tahu. Apalagi...Peristiwa di kapal pesiar itu.
__ADS_1
Sial.
'kenapa harus sekarang sih? '.
"....ay?!". Panggil Imelda, yang sama sekali tidak di dengar rayyan.
'aku harus cepat sebelum papi tahu semuany...'.
"Ray?!". Panggil Imelda dengan suara sedikit membentak.
Hal itu tentu saja membuat rayyan tersadar dan dengan cepat melihat maminya.
"mami membuatku terkejut!". Ucap rayyan dengan wajah yang di buat buat.
Imelda sebentar memejamkan matanya. Menahan kekesalan nya. Tahukah anak ini apa yang akan dia hadapi kedepannya? Mengingatnya saja. Ia tidak akan sanggup.
"jawab mami ray? Jangan membuat mami ketakutan dan gelisah begini".
Rayyan mengukir senyum tipis menenangkan maminya.
Meraih kedua telapak tangan imelda. Rayyan menggenggamnya.
"ada hal yang harus ray lakukan dulu mi? Dan maaf kan ray mi. Ray tidak bisa menghadap papi sekarang dan menceritakan semuanya".
"ray?!". Lirih Imelda tidak setuju.
Rayyan menggeleng. Sedang bibirnya masih mengukir senyum.
"Tetap tidak mi? Tapi ya. Ray akan menerima konsekuensi nya dari papi. Ray siap".
"kamu pikir ini pelatihan?! Kamu bisa mati di hajar papimu!". Geram imelda berang.
Rayyan tetap diam dan masih bertahan dengan pendirian nya.
Berbicara dengan papi. Dan jujur untuk semuanya. Ia sangat yakin. Sekarang atau nanti. Itu akan tetap sama. Ia akan tetap di hajar papi. Namun jika sekarang. Bukan kemarahan papi yang ia takut kan. Melainkan kepercayaan layya terhadapnya yang tidak akan ada lagi. Ia sudah berjanji. Mami dan papinya tidak akan pernah tahu dan tidak akan pernah mengambil yusuf dan maryam darinya. Dan...Jika ia ke sana sekarang. Tentu, Apapun yang ia ucapkan. Papi akan tetap mengambil alih yusuf dan maryam.
Tidak. Itu tidak boleh terjadi sekarang.
Di tambah.
Ia dan layya. Akan berakhir di pengadilan dalam memperebutkan kedua anak mereka. Meski ia tidak akan pernah mau melakukan itu, tapi ia yakin. Dengan watak layya yang sekarang, keras kepala. 100% wanita itu akan melakukannya.
"dan kamu pikir mami bisa melihat itu? Putra mami satu satunya? Mami enggak bisa ray?".
Rayyan yang tersadar mendengar suara lemah maminya.
"percayalah mi. Ray akan baik baik saja!".
"tapi mami, tidak baik baik saja ray?!".
Rayyan terkekeh. Bagaimana seorang pria. Mengaku ke brengsekannya sendiri, di hadapan papi dan maminya? Mengetahui sendiri. Bukankah itu lebih baik? Meski ia sudah bisa membayangkan. Bagaimana marahnya papi dan mami, setelahnya.
Rayyan lagi lagi menarik nafas berat.
"kenapa?". Suara Imelda, yang seketika saja membuat rayyan tersentak. Ia menatap wajah maminya.
"kenapa kamu sangat bersikeras begini? Apa yang terjadi antara kamu dan layya ray? Apa mami juga...Tidak boleh tahu dari mulut anak mami sendiri?!".
Rayyan terdiam beberapa saat sambil terus menatap wajah maminya.
Bagaimana bisa? Dia anak dari sahabat mami. Dan ray, sudah menyakitinya.
Rayyan mengalihkan matanya ke arah lain. Pertanda tidak mau menjawab.
Imelda tersenyum memaksa sebelum bangkit berdiri.
"berdirilah! Mami kecewa denganmu ray?!". Lirih imelda sebelum berbalik membelakangi rayyan.
Rayyan membulatkan matanya. Membuat maminya marah. Itu adalah hal, yang sama sekali tidak mau ia lakukan.
"ray belum siap menerima amarah layya mi? Dan terlebih itu. Ray tidak mau membuat layya ketakutan!". Ya. Itu salah satunya.
Imelda sontak kembali berbalik menatap rayyan.
"ketakutan? Ketakutan apa yang kamu maksu...".
"selama ini, layya sangat takut ray akan mengambil yusuf dan maryam darinya...". Potong rayyan cepat.
Imelda mengeryit dan semakin yakin dirinya. Kalau tentu ada terjadi sesuatu yang buruk antara rayyan dan layya.
"kenapa layya harus begitu? Apa yang sudah kamu lakukan padanya? ".
__ADS_1
"..."
Imelda mendesah.
"mami tebak, itu...Bukan sekedar menyakiti bukan?!".
"...". Rayyan tetap diam, yang membuat maminya di ambang batas sabar untuk tidak menjerit frustasi.
Setelah beberapa saat. Imelda mendesah lelah.
"baiklah! Mami mengerti. Jika saat itu tiba. Kamu tentu sudah mempersiapkan diri dan tubuhmu itu. Anak keras kepala". Rutuk Imelda di ujung kalimat.
"terima kasih mi!".
"mami masih marah!".
Rayyan menyungging senyum tipis.
"maafin ray!".
Imelda menoleh menatap putranya. Sebelum kemudian lagi lagi mendesah lelah.
"layya di mana?!".
"Di kamar ray! Sedang berendam. Ray menyuruh itu".
Lagi lagi Imelda menoleh menatap rayyan setelah tadi mengalihkan matanya ke arah lain.
"dan layya menurut saja? Tidak membantah?!". Sebenarnya hubungan yang seperti apa yang kalian memiliki?.
Rayyan yang sudah berdiri dari tadi. Menatap maminya.
"mami tidak akan percaya jika ray bilang. Dia sangat keras kepala!".
"bukankah itu sama juga dengan sifatmu?!".
Shhh..
Rayyan meringis akan kata kata maminya. Sebelum kemudian. Rayyan terkekeh kecil.
"ray rasa tidak separah layya mi?!".
Imelda menggeleng tidak habis pikir dengan putranya.
"kamu mencintai nya?!".
Pertanyaan.
Pertanyaan yang seketika membuat tubuh rayyan berhenti bekerja. Dengan kedua bola matanya membulat lebar.
Bukan orang lain. Tapi mami nya.
Apa yang harus ia jawab. Mencintai? Tidak, ia tidak mencintai layya. Dari dulu dan sekarang, cintanya. Tetap untuk reina.
Jika orang lain. Maka dengan lantang dan percaya diri. Ia akan menjawab'tidak'. Tapi ini maminya.
"ray?". Panggil imelda.
Rayyan tetap diam. Tidak tahu harus menjawab apa.
Lagi lagi Imelda hanya bisa mendesah menarik nafas panjang.
"apa pertanyaan itu juga sulit untuk kamu jawab!?".
Lagi lagi rayyan diam.
"hahhh...". Suara desahan imelda karna lelah.
"keluarlah! Dan bukankah kamu sudah menyuruh orang untuk mengantar baju ganti untuk layya!?". Dengan sikapmu tadi. Maka iya.
Rayyan cepat cepat melihat jam tangannya.
"ah benar! Beruntung mami mengingat kan ray! Ray hampir lupa. Ray keluar dulu. Terima kasih mi". Rayyan cepat cepat berbalik. Melangkah lebar, keluar dari kamar.
Imelda menggeleng melihat sikap rayyan di depan matanya.
Beberapa menit yang lalu. Dia habis ******* bibir layya. Layaknya seperti tidak akan ada hari esok. Di tambah seperti tidak akan bisa hidup tanpa layya. Dan tadi ia bertanya. Apa mencintai layya. Dia tidak bisa menjawab.
"hahhh...". Lagi lagi Imelda mendesah.
Apa yang sebenarnya terjadi padamu ray?.
__ADS_1