
5 HARI KEMUDIAN
Hari ini hari pertamaku tinggal di rumah baru ku. semua nya sudah lengkap kami hanya pindah membawa baju. semua perabotan rumah di kontrakku aku jual pada tetangga. termasuk motor metik peninggalan kang Firman. total semua nya ada 10 juta aku jual murah. kami pun sudah siap untuk menuju rumah baru kami. jam menunjukkan pukul 10 siang ada 2 koper yang kami bawa serta satu tas kecil alat make up ku. kami mggunakan mobil mas Rendi menuju rumah baru kami. aku menghembuskan nafas untuk mengawali kehidupan baru ku di rumah baru dengan suami baru.
"sayang nanti kita kepasar untuk beli keperluan dapur.!" ajak mas Rendi.
"ga usah mas. nanti ada langganan sayur ibu ibu biar beli di situ aja.!" ucap ku pada nya. ia pun mengangguk.
"baik lah sayang. semoga betah ya di rumah baru kita.!" ucap nya. aku pun mengangguk.
kami pun sampai di depan teras rumah kami. aku turun mas Rendi pun mengambil koper. aku membuka pintu ku lihat semua sudah bersih dan rapi bnyak terpajang di dinding foto pernikahan sederhana aku dan mas Rendi. aku pun masuk mengitari rumah baru ku. sangat nyaman dan tenang. semua sudah di ganti oleh mas Rendi. termasuk chat dinding.
"sayng..!" panggil mas Rendi.
"ia mas, ada apa!" ucap ku sambil menghampiri nya.
"itu mas tadi panggil tukang bubur. mas ingin bisa tolong belikan dulu. mas mau antar koper ini dulu ke kamar. " aku pun mengangguk, menuju ke tukang bubur tadi.
"bang tolong buatkan 2 porsi ya. ga usah pedes. !" ucap ku pada tukang bubur itu.
''baik neng.!" jawab nya. aku menunggu pesanan ku di buat kan.
__ADS_1
"eh, ada janda bekas Firman di sini!" ucap bu Yati. aku pun tersenyum menanggapi nya.
"bang beli 3 porsi stu pedes yang 2 ga usah.!" ucap bu Yati lagi. ku rasa aku harus menghadapi tetangga julid selama aku tinggal di sini.
"baik bu, tunggu sebentar ya.!" ucap tukang bubur itu.
"Hebat juga suami kamu tukang bangunan bisa ngontrak rumah besar dan punya mobil?" ucap nya lagi.
"ia bu Alhamdulillah" ucap ku singkat.
"berapa bang?" jawab ku setelah melihat pesanan ku mau selesai.
"20 ribu neng!" ia pun menyerahkan 2 mangkok bubur.
"duluan bu Yati!" ucap ku pada hu Yati. ia pun ta menjawab. aku pun menuju teras rumah ku yang sudah ada mas Rendi dengan membawa 2 botol air mineral kemasan.
"terimakasih sayang!" ucap nya setelah aku menyerahkan bubur itu.
"sama sama!" kami pun makan bubur itu di depan teras.
"bang,," teriak mas Rendi lagi. ia memanggil penjual pentol.
__ADS_1
"sayang kaya nya enak di campur sama pentol!" ucap nya seraya berdiri. ia menghampiri tukang pentol itu. jarak kami lumayan dekat. sehingga terdengar percakapan mereka.
"bang tolong bungkus kan 20 ya.!" ucap bang Rendi.
"baik mas.!"
"oh ia ga usah pake saos.!" tambah nya lagi. ku lihat tukang pentol itu mengangguk. di sana masih ada bu Yati yang menunggu pesanan nya.
"istri kamu jangan terlalu di manja nanti di ngelunjak.!" celetuk nya pada mas Rendi.
''ini saya yang mau ko bu!" jawab nya singkat.
"ibu mau sekalian saya belikan!" tambah mas Rendi lagi.
"alah so soan mau bayarin gajih harian 100 ribu aja belagu.!" ucap nya.
"ini bang uang nya!" bu Yati membayar pesanan nya dan langsung pulang. mas Rendi terlihat menggelengkan kepala nya melihat tingkah bu Yati.
"ini bang uang nya, terimakasih.!" ucap mas Rendi setelah itu ia menghampiri ku membawa pentol pesanan nya.
"ini syang!" ucap nya.
__ADS_1
kami pun menikmati bubur itu sambil melihat mobil proyek yang mondar mandir mengantarkan bahan bangunan. ya itu semua milik suami ku yang di bilang tukang bangunan. lagian apa salah nya bekerja bangunan kan yang penting halal. ucap ku dalam hati.