Kebahagiaan Istri Yang Disia Sia Kan

Kebahagiaan Istri Yang Disia Sia Kan
bab 61


__ADS_3

      Jam menunjuk kan pukul 7.00 aku dan bang Rahmat sudah bersiap untuk pergi ke kantor. kami pun turun ke bawah untuk makan pagi. terlihat mama Laras dan ka maya sudah ada di meja makan tanpa ada nya Bagas. kami pun menghampiri mereka.


" slamat pagi ma ka Maya... !" sapa ku pada mama Laras dan ka maya.


"pagi Bunga sayang, Leo mari sini makan.!" jawab mama Laras dan mengajak makan.


"mana Bagas,?" tanya bang Rahmat.


"Bagas ta pulang sejak semalam.!" jelas mama Laras.


"hemm,, !" bang Rahmat terlihat mengangguk. ka maya tidak menggubris kami. ia asik dengan makanan nya. aku menyiapkan makanan bang Rahmat. kami pun makan sambil berbincang dengan mama Laras. ia bertanya tentang ke hamilan ku. ia terlihat sangat menyayangi ku. mungkin ia ta sabar dengan kehadiran seorang cucu. selesai makan kami pun berangkat ke kantor.


"Ani, tolong belikan gorengan kaya kemaren ya sama es kelapa nya." aku menghampiri Ani di meja kerja nya.


"baik non!"


aku menyerah kan uang 100 ribu pada nya. ia pun gegas pergi. aku menghampiri bang Rahmat yang sedang menunggu ku.


"ayo sayang kita ke ruangan kerja mu.!" ajak ku.


"Hem,, baik lah.!" ucap nya sambil tersenyum.


saat sudah duduk di ruangan kerja bang Rahmat gaway ku berbunyi tanda ada panggilan masuk ku lihat ternyata dari Tika.


@aku :assalamualaikum Tik, ada apa?" tanya ku.


@Tika : ini Bung, aku sama mas Anto mau teransper uang bulanan toko. dan sudah ku kirim lewat pesan laporan tentang toko semua nya bisa di cek ulang Bung, kalo ada yang keliru tolong kasih tau ya.!"


@Aku : oh, ia baik Tik. terimakasih ya. semoga Toko nya berkembang dengan pesat.


@Tika : aamiin Bung, oh ia aku juga mau bilang mau ijin jualan nasi di depan toko, boleh?"


@Aku : boleh Tik, nanti usaha warung nasi mu tidak usah di masukkan dalam laporan toko ya. itu murni usaha kamu. ok..

__ADS_1


@Tika : baik Bung, terimakasih sekali lagi. aku tutup dulu ya ada pembeli. bang Anto nya lagi ke belakang.


@aku : oh ia Tik, sama sama. assalamualaikum.


@Tika: Waalaikumsalam


sambungan telpon pun terputus aku membuka pesan melihat isi laporan yang Tika maksud. kulihat toko ada kemajuan. ternyata Tika juga memakai sistem online. ta berapa lama ada notif banking dan pesan dari Tika bukti transferan nya. berjumlah 15 juta 300 ribu. aku pun membalas pesan untuk Tika.


@aku : Tik aku transfer kamu 5 juta tolong serahkan pada panitia halalbihalal di mesjid ja.!"


@Tika : baik Bung.


setelah itu aku tidak membalas lagi.


"sayang dari Tika, ya.?" tanya bang Rahmat ia sedari tadi memperhatikan ku.


"ia bang, ini Tika mengirimkan rincian tentang toko kita. ia mentransfer uang 15juta 300 ribu. aku mengembalikan pada nya 5 juta untuk di sumbangkan ke panitia halalbihalal di mesjid." jelas ku.


"oh ia sayang syukurlah kalo toko nya jalan. aku sampai lupa kalo kita punya toko.hee,," ia terkekeh menertawakan diri nya.


Tok,,tok,,tok,, "misi tuan ini saya ani. membawa pesanan nona.!" jelas ani.


"masuk!"


ani pun masuk dan meletakkan pesanan ku di atas meja.


"saya permisi tuan nona." ucap nya sambil beranjak meninggalkan ruangan. aku pun langsung menghampiri makanan yang ada di atas meja.


"sayang mau....?" tanya ku pada bang Rahmat.


"nanti saja sayang masih banyak kerjaan.!" ia pun melanjutkan bekerja di depan leptop dan berkutat dengan berkas berkas nya.


"baik lah, aku makan sendiri aja dulu." gumam ku. ia pun tersenyum. setelah makan aku melanjutkan mengetik naskah novel ku. hingga siang hari. aku bangkit dari duduk ku untuk membuat susu hamil. aku menuju dispenser.

__ADS_1


"sayang aku mau istrahat di kamar ya.!" aku ijin dengan bang Rahmat. aku membawakan air putih ke meja nya. ia pun mengangguk. terlihat sangat sibuk hingga tidak melirik ku.


"ya sudah sayang selamat bekerja ya!" ucapku lagi sambil mengecup pipi nya.


"ia sayang maaf aku sangat bnyak kerjaan hingga ta bisa menemani mu." jelas nya.


"tidak apa sayang" aku pun menuju ke kamar yang ada di dalam kantor ini. aku pun merebahkan diri hingga terlelap.


"sayang bangun waktunya makan siang.!" bang Rahmat menggoyangkan tubuh ku. hingga aku pun menyipitkan mata ku.


"jam berapa sayang...?" tanya ku sambil berusaha duduk.


"sudah jam 1 sayang. pasti dede kecil laper ya." ucap nya. sambil mengelus perut ku.


"aku ke kamar mandi dulu sayang..!" aku pun bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan muka. setelah merapikan sedikit riasan ku, aku pun menghampiri bang Rahmat yang sedang duduk di kursi tamu. ia terlihat melakukan panggilan telpon.


"sayang sudah?" tanya bang Rahmat pada ku.


"sudah syang!" jawab ku singkat. aku merah tas untuk siap siap keluar dari ruangan.


"sayang Tio ngabari kalo hari ini kita sudah bisa melihat rumah yang kita pesan kemaren" jelas nya. ternyata Tio yang menelpon tadi.


"jam berapa kita kesana nya sayang?" tanyaku lagi sambil menggandeng tangan bang Rahmat untuk menuju pintu.


"jam 4an aja sayang ya. aku masih ada kerjaan sedikit." jelas nya.


"ok,!"


kami pun menuju ke parkiran untuk mencari resto. kami meninggalkan halaman kantor dengan perlahan. 15 menit kami sampai di pelataran resto. kami pun masuk dan memesan makanan. ta sengaja aku melihat Bagas dengan seorang wanita di salah satu kursi pengunjung di resto itu. wanita itu bukan ka Maya. ia terlihat sangat akrab. hingga tertawa bersama wanita itu.


"bang bukan nya itu Bagas suami nya ka Maya...?" aku memberi tau bang Rahmat melalui kode mata..


"ia benar itu Bagas." bang Rahmat mengambil gaway nya dan merekam aksi Bagas yang bersenda gurau dengan seorang wanita hingga wanita itu pun sesekali mencium pipi Bagas. ia ta menyadari kehadiran kami.

__ADS_1


"sudah sayang biarkan saja. kita lanjut makan!" ajak bang Rahmat. kami pun melanjutkan makan kami. hingga ku lihat Bagas ke luar bersama dengan wanita itu saling bergandeng tangan. aku sangat kasian dengan ka Maya. ia pasti terluka setelah tau apa yang Bagas lakukan. setelah kami selesai makan kami pun kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan bang Rahmat yang belum selesai. saat memasuki lobi. kami bertemu dengan Bagas ia bersama wanita tadi gegas ia melepaskan gandengan tangan wanita itu. ia terlihat salah tingkah. melihat tatapan bang Rahmat. kami pun melanjutkan langkah kami menuju ke ruangan kerja bang Rahmat. kami mengabaikan Bagas.


...****************...


__ADS_2