
Kami memasuki pekarangan rumah dan bang Rahmat menunggu ku membuka pintu. motor di parkit di dekat pohon jambu air yang ada di samping teras. kami pun masuk dan langsung menuju meja makan.
"bang aku sangat bersyukur karna aku masih di berikan rezki yang cukup. ku lihat teman ku sangat kesulitan ekonomi." aku berucap sambil membuka belanjaan ku.
''ia sayang kadang hidup kita ada di bawah dan juga ada di atas. kita tidak tau nasip manusia kedepan nya bagai mana. jadi kita harus selalu berbuat baik pada yang membutuh kan siapa tau nanti kita yang minta pertolongan pada mereka." bang Rahmat berkata aku pun mengangguk sangat membenarkan semua ucapan nya.
"banyak juga ya bang, gimana cara habisin nya ini" aku bingung sendiri melihat jajanan yang sudah tersusun di meja yang masih di dalam pelastik.
"haha, baru sadar ya sayang. ya sudah nanti kita bawa saja ke tempat Wati untuk anak anak nya. sebagian kita makan." usul bang Rahmat. aku pun setuju.
"benar juga bang. baik lah abang mau yang mana biar Bunga siapkan dan bikinin teh untuk abang. ?"
"abang mau pentol bakar nya 2, sempolan nya 1, pentol mercon nya 2, dan itu apa nama nya 3 deh."
"usus bakar bang"
"nah itu dia ko susah ya aku nyebut nya,hee. " ia menunjuk sambil mengambil tempe bakar satu yang ia makan langsung.
"sayang aku minta es buah itu aja ga usah di bikinin teh. kelihatan nya enak.!" tambah nya lagi.
"baik Bunga siap kan dulu ya.!" ucap ku. aku mengambil piring dan gelas untuk menaruh semua pesanan nya tadi. setelah selesai ku sajikan pada nya. baru aku mengambil untukku.
"terimakasih sayang." ucap nya.
"sama sama bang" aku pun tersenyum ke arah nya kami memakan dengan candaan kecil masih seputaran kata jimat yang membuat Wati bingung tadi hingga aku pun tertawa. bang Rahmat terlihat kesal tapi ia pun tertawa. hingga selesai makan kami pun membersihkan diri untuk sholat ashar. setelah selesai kami duduk di teras rumah. kami menikmati waktu sore dengan damai di kampung yang baru dengan teman lama. kami sambil berdiskusi tentang toko yang akan kami bangun.
" sayang nanti abang rencana nya mau bikin pabrik pakan. abang lihat di ujung sana banyak berjejer kandang ayam yang di kelola PT. abang perkirakan ada 200 kandang ayam. dan di ujung sana lagi ada PT lain nya yang mengelola kandang ayam. mereka selama ini memesan dari luar daerah sayang. abang dengar dari Anto tadi. bagai mana menurut kamu sayang.?'' bang Rahmat minta pendapat ku.
" boleh juga bang. di ATM ku ada uang untuk menambah modal abang. " ucap ku dengan semangat.
"tidak usah sayang, uang kamu simpan aja dulu. abang kira uang abang masih cukup untuk modal kita. '' jawab nya.
"baik lah bang. " ujar ku menyetujui usul nya.
hari pun menjelang magrib kami masuk ke dalam rumah untuk bersiap melakukan sholat.
Kami sudah bersiap untuk ke rumah Wati. aku tidak lupa membawa jajanan tadi pengecualian es buah yang ku beli dari nya ku taruh di kulkas. kan tidak sopan kalo membawa barang yang kita beli dari nya.
" semua nya sudah siap syang...?" tanya bang Rahmat.
__ADS_1
"sudah sayang."
kami pun berjalan menuju ke luar rumah. aku mengunci pintu sedangkan bang Rahmat memutar motor. kami pun berangkat dengan pelan meninggalkan pekarangan rumah.
"tidak jauh juga ya bang, di situ kan!" aku menunjuk rumah yang aga kedalam dekat dengan warung bakso. terlihat rami warung bakso nya. banyak muda mudi nongkrong di sana. saat kami lewat kami pun berbarengan menundukkan kepala pada mereka dan tersenyum. mereka semua pun mengikuti apa yang kami lakukan. di sini memang seperti itu cara menyapa orang walau ta kenal. sangat ramah orang orngnya. berbeda dengan di kota kalo tidak kenal ya acuh acuh saja. kami pun sampai di rumah yang sederhana terbuat dari separuh nya batako dan atas nya papan. batako nya pun tidak di lapis semen. kelihatan banyak mainan berserakan di teras rumah ada gantungan baju anak anak dan orang dewasa yang berjejer di samping teras menggunakan hanger. terdengar suara anak kecil menangis. kami pun turun dan mengetuk pintu.
Tok,,tok,,tok,,
"assalamualaikum, " bang Rahmat mengetuk pintu dan mengucap salam
"waalaikumsalam, sebentar." Wati membukakan pintu dengan anak yang di gendong nya di pinggang. anak itu terlihat habis menangis.
"eh ma..salah,Rahmat dan Bunga masuk." ucap nya dengan kikuk karna ingin mengucap kata jimat itu. aku pun menatap bang Rahmat menahan tawa.
"sayang...!" ucap nya dengan penekanan.
"ok baik. aku akan bisa menguasai diriku." ucap ku dengan serius. kami pun masuk. terlihat Wati sedang menggeser mainan anak nya yang berserakan.
"maaf berantakan, silahkan duduk. " ucap nya. terlihat mereka baru selesai makan karna anak yang pertama sedang membereskan piring kotor. anak yang ke dua lagi menonton tv. kami pun duduk bersila. karna tidak ada kursi di rumah ini. hidup Wati sangat sederhana. ia pun mengenakan sarung untuk rok nya.
"tunggu sebentar ya. bang Angga nya masih di kamar mandi." jelas nya.
"ini wat untuk anak anak mu. mereka klihatan sangat lucu dan menggemaskan. nanti ajak ke rumah ku ya. agar aku ada teman. " ucap ku. anak nya menatap kami dengan seksama mungkin karna baru lihat. aku menjawel pipi nya.
"aku buatkan minum dulu ya. bang Angga juga belum ku buatkan minum jadi sekalian.'' ujar nya.
"wat kami teh saja, bang Rahmat tidak minum kopi.'' jelas ku.
"baik lah." ia pun bergegas kedapur yang bisa kami lihat dari posisi kami duduk karna pintu tengah nya sejejer dengan pintu depan. ta berapa lama suami Wati datang dan duduk di depan kami. ia membawa kotak roko dan korek.
" hey lama ta jumpa, kelihatan nya makin sukses aja." ujar Angga. aku baru ngeh kalo ia Angga Wijaya yang dulu juga satu kelas dengan ku. ia dulu pernah suka dengan ku. tapi itu dulu. bang Rahmat memandang ku karna ia tau kisah kami. aku menolak nya karna aku tidak menyukai nya. dan bang Rahmat tau semua kisah ku karna ia adalah sahabat ku.
"kamu Angga Wijaya kan. kebetulan sekali. jadi reoni SMA ini nama nya. alhamdulillah sukses sih belum kami baru memulai hidup di sini dari 0. karna kami baru menikah.
"oh, ia aku sampai lupa kalo dulu yang nikah dengan bunga Dion ya. tapi ajaib juga sekarang beralih sahabat jadi istri nih. pasti seru kisah nya." ia berujar.
"ia aku juga ga nyangka, cinta ku yang terpendam terbalas juga.hee," ucap bang Rahmat sambil tertawa. Angga menyalakan sebatang roko nya dan menyasap nya.
"tokcer juga kamu ga, bisa punya 3 anak. aku jadi iri." bang Rahmat berucap lagi. aku pun tersenyum mendengar nya.
__ADS_1
"ia alhamdulillah kami di berikan kepercayaan untuk menjaga mereka. ya di syukuri aja. hee,," Angga tertawa. ta berapa lama Wati datang.
"di minum seadanya, roti nya masih di warung jee,," ucap Wati
"pasti kalian ga menyangka kan aku nikah dengan Angga. " tambah nya. kami mengangguk. ya dulu Wati dan Angga waktu sekolah seperti tikus dan kucing tidak bisa bertemu pasti saja berdebat.
"haha,, benar juga ko bisa. mau tau dong cerita nya. " ujar ku.
"ah, tidak usah. tidak seru." ucap Wati.
"apa nya yang tidak seru, kamu tau Bung, Wati duluan yang nembak aku, haha,,, " jelas Angga.
"ternyata seru. nanti aku tunggu cerita lengkap nya.'' aku berucap serius.
"oh ya ga, kata nya kamu kerja di deket lapangan. lagi bikin apa.?" tanya bang Rahmat pada Angga.
"bikin pagar lapangan 2 hari lagi sudah habis kerjaan nya, karna nunggu bahan datang mat, " ucap Angga ia di senggol oleh Wati. dan Wati membisikkan sesuatu. kami saling berpandangan pasti kata jimat itu lagi. aku pun tersenyum dan bang Rahmat memutar bola mata nya malas. kami berbicara melalui gerakan.
"ok ok aku paham." Angga berucap.
"gini aku kesini mau minta tolong. minta bikinkan ruko di halaman rumah kami. apa kamu bisa.?" tanya bang Rahmat pada Angga.
"bisa, tapi aku butuh pelayan satu. untuk membantu ku bekerja. apa tidak papa.?" ucap Angga.
"tidak papa. apa kamu sudah ada orng yang akan membantu mu."
"sebenar nya ada si Ujang teman ku bekerja biasa nya tapi ia ada kerjaan lain. aku harus cari orang lain." Angga berujar.
"em,, gimana kalo nanti aku tanya sama Anto suami nya Tika kali aja ia bisa bantu kamu. gimana menurut mu,?" tanya mas Rahmat. aku dan Wati hanya menyimak.
"boleh. tidak ada masalah. persiapkan saja bahan bahan nya nanti aku langsung kerja kan. seadanya saja dulu beli bahan nya nanti kalo kurang bisa beli lagi. dari pada berlebihan.'' bang Rahmat terlihat mengangguk setuju.
"besok aku mulai mempersiapkan barang nya. nanti pas malam sebelum mengerjakan kamu kerumah dulu.!" kata bang Rahmat.
"baik lah. nanti aku kerumah mu." Angga berucap.
"diminum nanti dingin." ujar Wati.
kami pun melanjutkan dengan perbincangan hangat. kami bertukar cerita setelah lama ta bertemu. anak Wati terlihat menonton sambil memakan jajanan tadi.
__ADS_1
...****************...