
Setelah mengantarkan kang Firman ke gudang penyimpanan mobil pak Haji Bondan aku pun pulang ke rumah sebelum nya aku mampir di sebuah taman hanya untuk duduk dan menikmati cendol dawet dari pedagang pinggir taman itu. aku menikmati dengan sambil melihat lihat orang yang sedang berlalu lalang. aku pun menyendok es cendol dawet ku yang masih banyak.
"hey,,,Indira kan!" terdengar suara laki laki menyapa ku. aku pun mendongak dan melihat siapa yang sudah menyapa ku.
"Arif,,!" ucap ku sedikit kaget dengan keberadaan nya di sini.
"aku boleh duduk?" tanpa ku jawab ia pun sudah duduk sambil tersenyum ke arah ku.
__ADS_1
"aku mencari mu selama ini. ternyata kamu sudah jauh disini.!" jelas nya aku hanya menunduk tanpa melihat wajah nya. cendol dawet yang tadi terasa enak sekarang rasa nya hambar. aku hanya diam tanpa ingin menjawab.
"aku di sini ada tugas dari kelurahan. aku juga ga tau kamu disini. eh ga di cari malah ketemu tanpa sengaja. gimana kabar mu?" ia terus berbicara dan bertanya pada ku.
"kabar ku baik, !" jawab ku singkat.
"maaf atas semua yang ku lakukan pada mu. aku berniat ingin bertanggung jawab dengan semua yang sudah ku lakukan. aku kira suami mu sudah...!" ia menggantungkan kalimat terakhir nya.
__ADS_1
"apa kamu hamil setelah kita melakukan nya?" ia bertanya dengan penasaran.
"sayang nya tidak Rif. dan aku juga sudah punya suami. maaf kalo tidak ada keperluan lagi aku pamit pulang!" ucap ku sambil beranjak dari duduk ku.
"Tunggu Ra, aku benar benar menyesal dan ingin bertanggung jawab. jangan lari lagi dari ku Ra aku mohon. aku tidak bisa hidup tenang kalo belum dapat maaf dan bertanggung jawab dangan apa yang telah ku perbuat." ucap nya lagi sambil menahan tangan ku. aku gegas menepis nya.
"aku sudah memaafkan mu Rif, dan aku juga sudah mempunyai suami. lupakan semua nya. anggap aja tidak pernah ada yang terjadi antara kita.!" ucap ku sambil menunjukkan cincin di jari manis ku.
__ADS_1
''aku tidak akan berhenti sebelum aku melihat dengan mata kepala ku kalo kamu memang mempunyai suami.!" ucap nya lagi.
"terserah kamu Rif!" ucap ku sambil meninggal kan nya menuju ke motor ku. karna es cendol dawet tadi sudah ku bayar. aku melihat ia mengacak acak rambut nya dengan prustasi melalui sepion motor ku saat memasang helm. setelah itu aku menjalan kan motorku gegas meninggal kan tempat yang membuka luka lama ku. kenapa aku harus bertemu dengan nya lagi. aku sudah berharap tidak pernah bertemu dengan nya. aku ingin bahagia dengan kehidupan ku yang baru. sesampai nya di rumah aku langsung masuk dan mengurung diri di kamar hingga siang hari baru aku keluar saat sholat, setelah itu aku kembali ke dalam kamar ku buka pesan yang sudah ku arsip kan selama 2 tahun ini. ada banyak pesan dari teman teman yang ku arsip kan termasuk Caca. ku buka satu persatu. ternyata Caca sudah menikah dengan Teguh teman sekantor kami dulu. ia satu keyakinan dan ia sudah menikah 6 bulan yang lalu. sekarang ia sudah mengandung. ku buka arsip pesan dari Rendi ia juga sudah banyak membuka cabang perusahaan nya ia sekarang sudah sangat sukses. tapi yang ia tau ia belum menikah kata nya belum ada yang bisa menyentuh hati nya. ada harapan terselip agar kami bisa bertemu. kemaren ia terakhir mengirim pesan pada ku. kata nya ia akan pergi ke suatu daerah untuk mengembangkan perusahaan nya ia membeli tanah di daerah itu. ia berharap bertemu dengan ku. pesan dari Arif ku abai kan. setelah membaca aku pun sedikit lega karna mendengar teman teman ku sekarang sudah bahagia. tanpa berniat untuk membalas aku pun meletakkan hp ku di atas meja rias. aku pun kembali berbaring untuk tidur siang.