
Setalah menempuh perjalanan selama 7 jam akhir nya sampai di kota tujuan. kami mampir 2 kali untuk makan di tengah tengah perjalanan. semua badan ku terasa pegal. sekarang kami berada di terminal bus yang ada di kota kelahiran ku. untuk pertama ki nya aku menginjakkan kaki di kota ini setelah 4 tahun yang lalu aku pergi dari rumah. Nina ku gendong aku mencari tukang ojek untuk mengantar ku langsung ke rumah. setelah dapat aku pun minta antar ke alamat rumah ku. 30 menit perjalanan akhirnya aku sampai di depan pagar rumah ku. aku pun membayar ongkos ojek. setelah tukang ojek nya pergi aku menghampiri satpam di rumah. kelihatan nya ia satpam baru bukan pak Kani lagi yang dulu bekerja jadi satpam saat aku masih tinggal di sini.
"permisi pa, ibu Laila dan bapa Harun nya ada.?" tanya ku pada satpam yang bernama Joko itu. aku melihat nama nya tertera di baju nya.
"ibu ada non di dalam kalo tuan nya sedang kerja. ada keperluan apa ya non.?" tanya pa Joko padaku ia tidak tau kalo aku anak dari tuan nya.
"tolong bilang tasya dan anak nya mau bertemu dengan bu Laila.!" ucap ku pada satpam itu.
"baik non tunggu sebentar ya saya ke dalam dulu!" ucap nya setelah itu ia menuju rumah. ta lama ia pun kembali bersama mama.
"Tasya,,,!" teriak mama ia sedikit berlari menghampiriku. ia langsung memelukku.
"mama, maaf kan tasya ma. tasya sudah berdosa sama mama dan ayah!" ucap ku sambil menangis di pelukan mama ku yang selama ini ku rindukan.
"ga sayang semuanya sudah terjadi, kita lupakan saja.!" ucap mama setelah melerai pelukan ku.
"ini cucu Oma ya,,!" ucap nya sambil menatap padaku.
"ia ma, ini anak tasya!" jelas ku.
"sini sayang sama Oma ya, Oma gendong!" Nina langsung mau di gendong mama.
"ayo syang kita masuk!" ajak mama. pa Joko membawakan tas ku. aku pun masuk ke rumah ku dengan rasa haru. aku sudah membayang kan yang tidak tidak. seperti di sinetron yang mama tidak mau langsung menerima ku. ternyata ia tetap mama ku yang dulu ia selalu baik dan sayang terhadap ku. sekarang tinggal aku menghadapi ayah ku saja.
__ADS_1
"sayang kita makan dulu ya. pasti laper kan. Oma yang suapin ya.!" ucap mama setelah menggiring kami ke meja makan. aku dan Nina pun makan.
"bunda makanan di rumah Oma enak. tidak seperti di rumah kita ya bunda!" ucap Nina jujur aku pun mengangguk.
"emang nya di rumah Nina makan nya sama apa sayang?" tanya mama ku pada Nina.
"hanya sayur saja Oma, disini banyak ada ayam sayur sama ikan. Nina suka!" celetuk nya lagi. mama pun menatap ku. seolah ia akan banyak minta penjelasan pada ku. aku pun melanjutkan makan ku. setelah selesai mama mengantarku ke kamar ku dulu. tidak ada yang berubah semua nya masih sama dan bersih. Nina tertidur setelah selesai makan dan mandi. mama keluar kamar ku setelah mengantar kan kami. aku pun mandi dan berganti baju dengan baju ku yang dulu. masih muat karna tubuh ku tidak berubah walau sudah punya anak. hanya kurang terawat saja karna sering bekerja. setelah selesai berganti pakaian aku pun keluar menemui mama. ia sedang duduk di ruang tamu. yang ku lihat ia habis menghubungi seseorang, mungkin menghubungi ayah.
"ma,!" ucap ku pada nya.
"ia sya, sini duduk. ko anak mama terlihat kurusan dan hitam sekarang. mama mau dengar semua cerita dari kamu. ayah hari ini juga pulang cepat karna tau kamu di rumah bersama Nina!" jelas nya.
"ayah tidak marah ma sama tasya?" tanya ku pada mama memastikan.
"ia marah karna kamu tidak pernah pulang. kami mencari mu kemana mana tapi tidak ketemu. hingga kami pasrah. kamu tidak salah sepenuh nya. kami yang salah sayang karna sudah melarang keputusan kamu. maaf kan mama sama ayah ya sayang!" ucap mama sambil kembali menangis. aku pun memeluk mama.
"Hem,, kamu berhutang cerita selama 4 tahun pada mama. mama harap tidak ada yang di sembunyikan dari mama!" jelas nya. aku pun menceritakan semua nya pada mama. mama dengan serius mendengarkan tanpa bertanya. ia pun sambil berlinangan air mata mendengarkan cerita ku.
"betapa menderita nya anak ku selama ini. bahkan aku tidak bisa membantu nya saat keadaan susah. orang tua macam apa kami ini nak. maaf kan mama syang. cucu Oma jadi ikut menderita.!" ucap nya panjang lebar. ta lama deru suara mobil terdengar.
"syang itu ayah pulang. kita keluar menyambut ayah!" ajak mama. kami pun keluar menemui ayah. ayah terlihat sedikit terburu buru berjalan. kami bertemu di pintu depan.
"ayah,,," ucap ku sambil memeluk nya dan ayah pun memeluk sambil mencium keningku beberapa kali.
__ADS_1
"Alhamdulillah ya allah, engkau telah memulangkan anak hamba!" ucap ayah bersyukur di sela sela pelukan kami.
kmi pun duduk di ruang tamu. mama sudah menceritakan yang aku ceritakan. ayah sangat marah pada mas Deni. aku ta bisa melarang nya karna semua salah mas Deni.
"bunda....!" Nina berlari menghampiri ku dan memeluk ku.
"eh anak bunda sudah bangun. pinter ga nangis ya anak bunda.!"
"ga bunda Nina kan sudah besar!" ucap nya. ia menatap opa nya dengan lekat. karna ia belum tau dengan opa nya.
"ini cucu opa ya. cantik sekali. sini sayang sama opa.!" ucap ayah pada Nina.
''bunda opa sama Oma ini siapa?" tanya Nina terlihat bingung karna yang ia tahu hanya kakek dan nenek saja.
"sayang opa dan Oma ini adalah orang tua bunda. sama seperti Nina yang memiliki bunda dan ayah. jadi panggil nya opa Oma ya. sana salim dulu sama opa!" ucap ku. ia pun menghampiri opa nya. opa kelihatan sangat seng mempunyai cucu. terlihat jelas ia sangat bahagia. opa langsung memangku Nina. mereka sudah akrap, ayah memang suka sama anak kecil. Oma pun ikut bercanda dengan opa dan Nina. mereka sampai melupakan aku anak nya sendiri hehehe.
"tuan nyonya. makanan sudah siap!" ucap bi atun pada orang tua ku.
"baik nanti kami kesana, terimakasih ya tun!" ucap Oma pada bi Atun.
"sama sama nyonya saya kebelakang dulu.!" ucap nya seraya meninggalkan kami.
"Nina syang Opa mandi dulu ya. baru kita makan setelah itu kita bermain lagi" ucap opa pada Nina.
__ADS_1
"ok opa ganteng,!" ucap Nina yang memuji opa nya. entah dari mana kata itu. aku hanya bilang kalo ayah Deni ganteng. ternyata ia mengingat nya.
"sini ikut Oma kekamar untuk nyiapin baju ganti untuk opa!" ajak Oma pada Nina. ia pun di tuntun Oma untuk kekamar. kini tnggal aku sendiri di sini di ruang tamu. aku sangat bahagia karna orang tua ku menerimaku dengan tangan terbuka. hati ku sudah merasa tenang. aku sudah bertekad untuk melupakan mas Deni dan menjalani hidup ku yang baru.