
Setelah makan malam mas Dion duduk di ruang tamu. tapi kali ini tanpa gaway nya. ya tentu karna indah kan sudah jadi istri nya. tapi dari tadi terdengar bunyi pesan dari gaway mas Dion. mungkin pesan beruntun dari indah. aku menghampiri mas Dion.
"ini kopi nya mas.'' mas Dion menatap ku lekat. aku tersipu.
''maaf mas sudah menyia-nyiakan berlian seperti kamu Bunga. entah apa yang mas pikirkan saat itu hingga bisa membuat kesalahan fatal." dengan suara lirih dan penuh penyesalan mas Dion mengungkapkan penyesalan nya. tapi nasi sudah jadi bubur mau bagai mana lagi.
"sudah lah mas, itu sudah terjadi. sekarang bagai mana sikap mas sebagai laki laki bertanggung jawab dengan dua rumah tangga sekali gus." aku menanggapi dengan senyuman.
"terimakasih."
aku pun mengangguk.
"boleh mas mengelus calon anak mas,?" aku pun menghampirinya. dan duduk di sebelah mas Dion. ia mengelus elus perutku yang sudah mulai membesar. aku terharu dengan perlakuan nya ini yang selama ini aku ingin kan. walau ada indah di antara kami aku mencoba menerima nya dengan lapang dada.
"mas,, kamu nangis..?" aku melihat mas Dion menangis.
"mas sangat menyesal, sekalian bahagia."
"maksud mas?"
"menyesal menghadirkan indah di antara kita. dan bahagia yang kita idam idam kan telah ada di rahim kamu."
"ini hanya perihal waktu mas."
kami lama mengobrol di ruang tamu. mas Dion memaksa aku untuk memberikan ke dua kaki ku untuk di pijit nya. aku pun merebahkan diri di sofa dengan bersandar di sisi sofa.
"yang aku dengar kalo bumil itu mudah lelah,'' ia berucap sambil memijit kaki ku.
aku pun memejamkan mata menikmati pijitan nya sangat enak. hingga aku merasa mas Dion beranjak. ia tiba tiba menggendong ku. aku membuka mata dan melingkarkan kedua tangan ku di leher nya. aku di bawa ke kamar dan di baring kan nya.
__ADS_1
"besok mas libur. kita periksa kandungan mu ya ?" ajak nya. aku pun mengangguk.
kulihat mas Dion bangkit ia mengambil minyak zaitun yang ada di meja rias. lalu kembali duduk di sisi ranjang.
"sayang lepaskan pakaian mu. biar mas pijitin semua badan mu!" aku pun menurut . hanya tertinggal celana d***m dan br*. dengan posisi perut di ganjal guling agar tidak tertindih.aku sangat menikmati sentuhan mas Dion sampai aku terlelap.
...****************...
Pagi nya aku bangun dengan posisi miring dengan full selimut hingga leher. aku merasakan ada tangan melingkar di tubuh ku. aku sedikit kaget karna biasa nya aku tidur sendiri. aku bangun dengan tiba tiba. aku melihat ke samping ternyata mas Dion. aku sudah mengembalikan semua ingatan ku. tadi ternyata belum terkumpul hingga kaget. mas Dion pun terbangun karna tangan nya terseret.
''ada apa sayang?" ia pun kaget.
"tidak ada. hanya kaget ada tangan memelukku. aku belum terbiasa. maaf mas.!" jelas ku jujur.
"ya sudah ayo kita mandi dan sholat.!" ajak nya. aku pun tertegun.
saat mandi mas Dion dengan telaten menggosok badan ku. hingga selesai mandi kami pun sholat berjamaah. mas Dion sebagai imam dan aku Ma'mun nya. aku pun bahagia. yaallah jangan ambil kebahagiaan ku lagi. aku memanjatkan do'a. aku pun menuju ke dapur untuk memasak.
"mas mau makan apa hari ini.?" tanya ku pada mas Dion.
"apa saja yang penting enak. sudah lama aku tidak makan masakan mu sayng." aku membenarkan ucapan nya. tanpa menyalah kan nya.
"baik lah tunggu sebentar ya mas. apa mau dibikin kan kopi dulu."
"tidak nanti saja setelah makan." ucap nya.
gaway mas Dion berbunyi lagi entah yang ke berapa kali. ia mengangkat nya kali ini.
"iyaa aku akan pulang." hanya itu kata yang aku dengar keluar dari mulut nya.
__ADS_1
"Bunga mas mau ke warung bu Agus dulu sebentar indah minta belikan pembalut." jelas nya aku pun mengangguk. dan melanjutkan sesi masak ku .
setelah semuanya siap aku enunggu mas Dion datang untuk makan bersama. tak lama mas Dion datang.
''sudah mas ?" aku bertanya.
"sudah, '' jawab nya singkat.
"ayo kita makan.!" ajak ku. aku pun menyiapkan makanan di piring nya. mas pun menerimanya dengan senyuman merekah di bibir nya.
"terimakasih.''
"sama sama mas."
setelah makan mas Dion bersiap untuk ke kantor. aku pun mengantar nya sampai depan rumah dan mencium tangan nya ia membalas dengan mengecup keningku dan mengelus perutku.
"ayah pergi kerja dulu ya. jaga ibu baik baik."
''bunda ayah" aku meralat ucapan nya.
"ok maaf ayah salah. jaga bunda ya." ia mengulangi ucapan nya smbil mengelus perut ku.mas Dion pun menuju motor nya. saat pulang tadi ia membawa motor nya kesini. mas Dion menaiki motornya.
"mas berangkat dulu ya. assalamu'alaikum" ia pun menjalan kan motor nya.
"waalaikumsalam'' jawab ku sambil tersenyum.
Aku melihat mas Dion melambaikan tangan saat melewati rumah nya. di mana di teras rumah nya ada indah dan Dio. aku merasa lucu dengan ke adaan sekarang kami berbagi suami dengan rumah berdekatan. rencana awal ku tidak seperti ini. tapi apa daya sekenario Tuhan berkehendak seperti ini.
...****************...
__ADS_1