
Aku menatap batu nisan kecil yang bertulisan Pulan binti Dion Syahputra. aku masih duduk di kursi roda di temani ayah dan ibu. anak ku telah meninggal saat subuh tadi. aku sudah ikhlas karna tidak kuat melihat penderitaan nya. mungkin ini lebih baik untuk nya karna ku rasa ia tidak akan merasakan sakit lagi. dan akan menunggu ku di surga. aku masih memandangi batu nisan itu. ayah maupun ibu tidak ada yang mau mengganggu ku. hingga ada tangan yang menyentuh pundak ku. ku kira itu ayah aku pun mengabaikan nya. hingga saat ia memutar kursi rodaku ke samping. ia berjongkok di hadapan ku. lelaki yang memakai kacamata hitam dan berpakaian serba hitam. aku masih menatap nya dengan tatapan kosong hingga ia melepas kacamatanya. aku langsung berhambur ke pelukan nya. dengan emosi yang sudah lama ku pendam hingga terisak membuat salah satu bahu nya basah. ia mengelus punggungku dengan lembut.
"maaf, aku tidak bisa menjaga anak Abi." hanya kata itu yang sanggup aku keluarkan di sela isakan tangis ku. mas Dion pun hadir dengan tangn di borgol. ia menyaksikan ku dengan wajah sendu. ya mas Dion di ijin kan untuk menghadiri pemakaman anak nya hanya satu jam. setelah itu ia kembali. sedari awal pemakaman aku mengabaikan nya. hingga saat ini. setelah aku melerai pelukan ku dengan Rahmat, ya dia Rahmat yang hari ini pulang untuk menemui ku. bersamaan dengan itu mas Dion mendekati ku.
"Bunga maafkan mas, mas tidak sengaja. kalo saja ini akan terjadi mas tidak akan melakukan nya. ini semua karna indah.!" ia malah menyalahkan indah. aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran nya. aku pun mengabaikan nya. dua orang polisi menghampiri nya.
"maaf pa Dion waktunya sudah habis. kita harus kembali.!"
mas Dion masih menatap ku hingga di bawa pun ia masih menoleh ke arah ku. aku hanya menatap nya tanpa ekspresi.
__ADS_1
"ayo kita pulang.?" Rahmat menangkup kedua tangan nya di pipi ku dan mengarahkan nya ke wajah nya.
"hemm,,'' aku mengangguk..
diiringi oleh ibu dan ayah, kursi roda ku di dorong oleh Rahmat. aku masih termenung. belum sepenuh nya bisa menguasai diri.
Sore nya aku pun sudah bersih dan segar, aku ke luar kamar. ternyata ibu dan ayah ada di meja makan. aku pun menghampiri nya. ku lihat Rahmat tidak ada.
"Rahmat pergi sebentar syang. nanti ia akan kembali." ucap ibu yang mengerti dengan gelagat ku. aku pun mengangguk.
__ADS_1
setelah selesai kami pun makan. sambil berbincang hangat. kata ayah ia akan mengurus perceraian ku dengan mas Dion. dan saat selesai ia akan pulang. karna pekerjaan nya pasti menunggu. dan ibu ijin pulang duluan karna ada pesanan baju pengantin yang harus diselesaikan tepat waktu. aku pun mengerti. setelah selesai makan pun aku langsung kekamar untuk beristirahat.
...****************...
Pagi hari setelah makan pagi ibu ijin pulang duluan. ia menaiki trevel. setelah keberangkatan ibu ayah pun berangkat ke pengadilan agama. aku sudah menyerahkan berkas berkas yang di perlukan. kini tinggal aku sendiri. Rahmat pun malam tadi tidak datang. entah apa yang sedang ia urus. aku duduk di teras rumah. melihat ibu ibu belanja sayur di tempat mang Ujang. setelah bertegur sapa dengan mereka, mereka pun sibuk memilih milih sayuran. di sana juga ku lihat ada bu Susi yang baru datang ia tersenyum licik. entah apa maksud dari senyuman nya itu. tapi aku abaikan .
Sedang asyik melihat ibu ibu itu. datang sebuah mobil yang masuk ke halaman rumah ku. ku lihat Rahmat yang keluar. aku tau sudah siapa sebenar nya. ya ia tuan muda Leo bukan sahabat ku Rahmat. dengan ala pengusaha muda pakaian nya sangat rapi dan gagah. aku malah melihat nya seperti orang asing.ia pun menghampiriku dengan senyuman termanis nya. aku pun merasa canggung dengan nya. hingga ia duduk di samping ku yang kami terhalang oleh meja. ku lihat bu Susi sedang menyinyiri ku dengan mulut yang miring kanan kiri. aku pun ta perduli.
...****************...
__ADS_1