
Tok,,tok,, ada bunyi pintu di ketuk. aku pun perlahan menuju ke pintu depan. aku mengintip di jendela melihat siapa yang datang.
deg,,deg,,deg,, jantung ku memompa lebih cepat. aku pun terduduk ku lihat masih wajah mas Dion yang terpampang di kaca jendela. aku pun mencoba memberanikan diri untuk membuka lebar lebar gorden.
"apa mau mu mas," aku sedikit berteriak. ia menyungging kan senyum yang licik.
"aku menginginkan tubuh mu. sudah lama aku tidak menyentuh area bawah mu yang berwarna pink itu. " ia menggerakkan lidah dengan liar nya. tubuh ku bergetar ngeri. aku ta bisa berkata kata. hingga setelah berucap itu ia pergi begitu saja. wajah nya sekarang berantakan banyak bulu bulu tidak rapi menghiasi wajah nya. aku masih berdiri merasa syok dengan semua yang terjadi. hingga ada mobil datang memasuki halaman rumah ku.
Bang Rahmat turun dari mobil ia melihat jelas aku berdiri tertegun dari jendela kaca. ia bergagas menghampiri ku dan mengetuk jendela.
dorr,,dorr, terdengar suara gedoran dari kaca jendela.
"sayang kamu kenapa. cepat buka pintu nya.!'' seru nya padaku. sedetik,dua detik, hingga detik ke lima aku baru bisa menguasai diriku. aku bergegas membuka pintu dan berhambur ke pelukan nya.
"bang, Bunga takut.. mas Dion datng lagi" adu ku pada bang Rahmat.
"tenang sayang ayo kamu siap siap kita pergi dari sini bawa yang penting penting saja." ajak nya. ia menunggu di kursi yang ada di teras aku masuk merah tas aga besar pemberian bang Rahmat. aku memasukkan perhiasan buku tabungan dan surat surat penting lain nya terakhir dompet san gaway. setelah itu aku bergagas keluar. ku lihat bang Rahmat beradu pandang dari jarak jauh dengan mas Dion.
"bang, sudah, ayo kita pergi. tidak usah pedulikan dia." ucap ku sambil mengunci pintu.
kami menuju mobil. bang Rahmat membukakan pintu. ia mengitari mobil dengan berjalan lambat kulihat tatapan nya masih mengarah pada mas Dion. seakan mereka sedang melakukan perang batin. mobil beranjak dari tempat nya hingga melewati rumah mas Dion. bang Rahmat masih beradu tatap dengan mas Dion. seperti dendam lama muncul kembali. setelah melewati rumah mas Dion baru Bang Rahmat menatap ke depan.
"sayng besok kamu ikut abang saja ya ke Medan" usul nya.
"tapi apa tidak mengganggu.?" tanya ku lagi. sekarang hatiku mulai tenang.
__ADS_1
"tentu tidak sayng aku malah senang. nanti ku telpon ayah mu untuk meminta ijin langsung." jelas nya. aku pun mengangguk mengiyakan usulan nya.
"sekarang kita mu kemana?" tanya ku lagi.
" kalau ke rumah ku. bagai mana.?"
"emm,, aku tidak enak dengan orang tua mu bang, nanti apa kata mereka.!" jawab ku.
"bagaimana kalo ke apartemen ku saja.!" usul nya lagi. aku pun mengangguk menyetujui nya. yang aku tau ibu nya bang Rahmat kurang suka dengan ku dari dulu. apa lagi aku sudah janda. itu yang aku cemas kan.
"bang, apa mama nya abang tau tentang kita. ?" tanya ku.
"sudah, tapi ia belum memberikan jawaban. " dari jawaban nya pun aku tau bahwa mama nya tidak merestui kami.
"ya biarkan saja. aku tidak perduli. toh aku seorang laki laki bisa menikah tanpa restu orng tua. rencana ku nanti juga hanya bilang sama mama tanpa mengajak nya menemui orang tua mu sayang. " jelas nya.
"apa abang yakin?''
"sangat yakin walaupun aku kehilangan semua yang aku punya aku tak apa aku siap. apa kamu mau hidup mulai dari 0 dengan ku.?"
"aku tak masalah asal jangan ada orang ke 3. kamu tau sendiri aku sudah cukup trauma dengan kehidupan ku yang dulu. jadi jangan membuka luka itu lagi." pinta ku pada bang Rahmat.
"ok sudah aku putus kan setelah kita pulang dari Medan aku akan melamar mu dan menikahi mu langsung. aku tidak sabar hemm,,,!" ia berucap sambil mengangkat ke dua alis nya berulang ulang. memperlihatkan wajah genit nya.
"awas saja kalo macam macam" ancam ku. ia pun mengerucut kan bibir nya. yang langsung aku tarik pelan. membuat ia tambah marah. aku pun tertawa.
__ADS_1
"sayang..." ia berteriak.
kami pun memasuki parkiran. setelah sampai kami langsung ke atas menuju lantai 21. ia membuka pintu dengan kartu. kami pun masuk. aku meletakkan tas jinjing ku di meja.
"kamu mandi gih, tapi aku hanya punya kemeja ini. bisa ko kamu pake. " ujar nya. aku pun mengambil nya dan menuju ke kamar mandi. setelah 15 menit aku keluar menggunakan kemeja dan handuk di kepala ku. lengan kemeja nya kepanjangan sedikit hingga hanya ujung jari ku yang kelihatan. baju nya besar hingga klo aku memake celana nya kan aneh. jadi aku make kemeja nya aja tanpa memakai lapisan celana jadi memake ****** ***** saja dan sial nya bra ku tadi tercebur hingga tidak bisa di pake. aku sedikit malu karna ****** ku yang kecil sedikit terlihat di kemeja putih itu.
"sudah,,?" ia bertanya. rupanya ia mau mandi juga.
"abang mau mandi ?" ia pun mengangguk mengambil handuk setelah itu masuk ke kamar mandi.
"aku duduk di meja rias melihat penampilan ku. apa aku akan membuat ia hilang kendali. ah, semoga saja tidak.'' ucap ku pada diri ku sendiri.
sekitar 10 menit bang Rahmat keluar menggunakan handuk menutupi area bawahnya. dadanya yang bidang terlihat pipi ku langsung merona. ia pun menghampiri ku. bau aroma sabun kentara tercium di tubuh nya. ia mengambil handuk yang ada di kepala ku. mengambil pengering rambut dan membantu ku untuk mengeringkan rambut. aku dan bang Rahmat saling tatap di pantulan cermin. aku berpaling menghadap nya.
"bang aku takut kita akan terpisah lagi" lirih ku.
ia menangkup wajahku untuk melihat wajah nya.
"abang janji tidak akan ninggalin kamu lagi. abang akan menebus kesalahanku dahulu. yang membiarkan mu hidup dalam kesengsaraan.abang minta sayng jangan ragu dengan kesungguhan abang." ia meyakinkan ku.
"aku akan setia menemani mu bang apa pun yang terjadi." sungguh ku.
malam ini pun kami satu ranjang tanpa ada kontak pisik yang terjadi hanya berpelukan saja. aku pun merasakan ada yang mengganjal di bokong ku. dengan aku yang sudah bisa berumah tangga pasti aku tau itu apa. tapi aku kagum bang Rahmat bisa mengendalikan diri nya. tangan nya melingkar di perut ku. terdengar suara dengkuran halus dari mulut nya. aku pun menyusul nya ke alam mimpi.
...****************...
__ADS_1