
Sore hari kami duduk di teras rumah sambil menikmati teh hangat melati kesukaan bang Rahmat dan kue bolu. aku sangat betah di sini karna suasana nya sangat sunyi jauh dari keramaian.
"sayang malam malam ini ada acara di mesjid setelah magrib. kamu mau ikut ada ibu ibu juga di sana. cuman acara halalbihalal untuk orang tidak mampu. kita bisa menyumbang sedikit untuk di bagikan." jelas bang Rahmat.
"boleh bang, nanti aku mau nyumbang juga. uang yang dulu abang ambilkan waktu mau bayar sewa rumah masih ada."
"ok. nanti setelah solat magrib kita kesana sayang." usul nya.
" bang sudah ada yang mau beli rumah yang bekas bu Hanun ...?" tanya ku karna setau ku rumah itu sudah mau di jual setelah kami ke Medan dulu.
"kata bu Eka ada yang sudah mau bli semalam. tapi nunggu uang orang itu cair dulu. kata nya yang mau beli jual sawah untuk diam di kota. semoga cepat beres."
"lalu kita akan kesana mengurus nya....?" aku bertanya. karna rasa nya aku tidak berani untuk ke sana lagi.
"tidak, semuanya sudah abang serahkan pada bu Eka. nanti kalo ada yang beli baru kita ketemu di luar untuk menyelesaikan surat pengalihan nya." jelas bang Rahmat pada ku.
"syukur lah, aku tidak Sudi lagi ke sana," dengan ekspresi kesal yang aku tunjukkan.
"ia sayang, aku akan slalu membuat mu nyaman. tanpa gangguan orang orng yang jahat pada mu dulu." bang Rahmat mengelus kepala ku. aku pun tersenyum.
"terimakasih bang Mamat, hee,,," aku tertawa.
"sayang mulai lagi deh" ia menatap ku dengan memutar bola mata malas. terdengar suara gaway bang Rahmat di dalam kamar.
"sebentar sayang biar aku ambil kan.!" ucap ku pda nya.
"terimakasih sayang."
aku gegas kekamar mengambil gaway bang Rahmat. yang sekilas ku lihat Tio memanggil.
@bang Rahmat : ada apa Tio....?
@Tio :....................
@bang Rahmat : baik lah kirim semua vidio itu ke nomer ku. nanti aku teransper. terimakasih atas kerja keras mu.
@Tio:.…...…..........
Bang Rahmat pun mengakhiri panggilan nya. ia tersenyum pada ku.
"sayang vidio yang membuat mu resah sudah di hapus Tio dari gaway Dion."
__ADS_1
"yang benar mas, terimakasih mas. lalu...?"
"ya aku berencana melaporkan mereka tanpa harus aku turun tangan. karna Dion telah menjadi sindikat vidio por*o dan pen**al anak di bawah umur. sudah banyak korban nya. ia pun jadi pengedar benda haram."
" kenapa mas Dion seperti itu. setau ku ia waktu dengan ku tidak memperlihatkan tanda tanda mencurigakan."
"karna ia pintar sayang. ia sudah bekerja seperti itu sebelum dengan mu. makan nya kamu tidak curiga. aku sudah menyelidiki nya."
"ko ga kasih tau aku langsung sih."
"aku ga mau menjelekkan suami mu. aku memang mencintai mu tapi aku mau kamu tau dengan sendiri nya dan minta pisah sendiri tanpa harus aku ikut andil. makan nya aku berusaha menjaga mu. tapi sayang sesuatu terjadi hingga tidak bisa menjaga anak mu...!" ada penyesalan di mata bang Rahmat.
"sudah lah bang itu sudah berlalu. lagian apa kamu sanggup melihat anak ku waktu itu." terlihat bang Rahmat menggeleng. ia tau bagai mana kondisi anak ku yang bola mata nya pecah dan kaki nya patah saat di lahir kan. aku pun meringis mengingat nya.
"ini yang terbaik untuk anak ku bang. mungkin kalo masih ada ia akan menderita." aku menambahkan lagi. bang Rahmat mengangguk.
...****************...
Sehabis solat magrib kami pun berangkat ke mesjid di dekat lapangan. aku menggunakan gamis hitam kerudung maroon. bang Rahmat memakai Koko maroon peci hitam dan sarung hitam. kami seperti kapelan, kami hanya jalan kaki karna banyak warga yang terlihat berjalan kaki beriring iringan.
"sayang amplop nya sudah siap. ini ada dua amplop. abang isi satu aku isi dengan uang ku sendiri. " ucapku dan menyerah kan satu amplop pada bang Rahmat. aku mengisi dengan 2 juta bang Rahmat 3 juta.
"baik lah. kita berangkat." ajak ku. kami pun berjalan berbarengan sambil melihat warga yang sudah duluan. kaya acara lebaran kami beriring iringan seperti ini.
"aku suka bang dengan adat di sini. jadi yang tidak mampu sebulan nya bisa dapat bantuan." ucap ku gembira.
"ia sayang, sebenar nya ada sih bantuan dari pemerintah hanya saja tidak merata. nah maka dari itu di adakan acara ini." jelas bang Rahmat. aku hanya manggut manggut mendengarkan nya.
banyak warga dari yang tua dan muda berkerumun mereka seperti sudah biasa, tanpa di suruh mereka berbaris dengan tertib. kami langsung menghampiri panitia yang duduk di depan meja. ada panitia yang menghitung. bagi yang menyumbang kami baris menghadap ke warga yang akan menerima bantuan.
"pak, saya titip. maaf saya warga baru di sini. saya istri nya bang Rahmat. ucap ku pada seorang lelaki yang ku lihat ia ketua panitia.
"ah ia neng terimakasih. saya akan bagikan malam ini juga. insyaallah amanah tanpa ada kecurangan. neng bisa ikut berbaris di sana dan menyaksikan pembagian sumbangan ini langsung dan nanti tanpa menyebut nama kami akan menyebutkan jumlah uang nya saja agar menghindari hal hal yang tidak di ingin kan.," jelas ketua panitia kepada ku dan bang Rahmat. kami pun mengangguk. kami ikut berbaris di barisan depan ku lihat banyak juga donatur di sini ada 5 orang.
"assalamualaikum warahmatullahi wabarokaatuh. dengan mengucap salam tadi saya buka acara rutin halalbihalal yang di adakan setiap tanggal 10 setiap bulan nya. harapan saya acara ini semoga tetap berjalan dari tahun ke tahun hingga anak cucu kita nanti. baik saya akan sebutkan berapa berapa uang yang di sumbangkan oleh saudara kita satu persatu yang berjumlah 5 orang.
Pulan bin Pulan :
__ADS_1
3.000.000
1.000.000
2.000.000
200.000
300.000
jadi total semua nya adalah : 6.500.000
total yang hadir:
anak anak yang mendapat kan bantuan total nya ada 49anak baik yang hadir dan tidak hadir akan dapat. orang dewasa termasuk lansia yang tidak bisa hadir 32 orang. masing masing akan mendapat kan
80.000. dan sisa nya akan di masukkan ke wakaf mesjid. uang dari pemberian donatur sudah kami tukarkan dari pihak panitia dengan uang wakaf mesjid. supaya enak membagi ya. disini saya mengakhiri acara ini wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokaatuh."
panjang lebar ketua panitia menjelas kan. hingga yang ku dapat dari masing masing orang mendapat kan 80.000. kalo yang punya anak banyak lumayan dapat nya. termasuk adil. kami pun bersalam salaman antara donatur dan saling sapa dengan ramah. hingga satu persatu pun pulang. ku lihat Tika berbaris di antrian penerima bantuan ada juga Wati bersama anak anak nya. aku tidak menegur nya takut ia malu. akhirnya pun kami pulang ke rumah dengan suka cita.
...****************...
__ADS_1