Kebahagiaan Istri Yang Disia Sia Kan

Kebahagiaan Istri Yang Disia Sia Kan
bab 38


__ADS_3

       Aku dan bang Rahmat duduk di balkon hotel hening tidak ada suara dari mulutku atau Bang Rahmat. setelah membersihkan diri hingga solat pun kami bergantian. makan pun dalam keadaan hening. hingga kini sampai duduk di balkon. aku tetap membuatkan teh walau tanpa ada suara dari bang Rahmat. hingga 15 menit kami berada di balkon pun tak ada suara.


"bang maaf, seperti nya aku mau pulang saja." akhirnya aku membuka suara. masih hening. aku pun beranjak dari duduk ku. hingga tangan ku di tahan nya. air mata ku mulai membasahi pipi.


"tunggu,, kenapa pulang" ia bertanya.


"aku sudah tau jawaban dari diam mu. jadi aku rasa aku tidak harus ada di sini."


"memang nya apa yang kamu tau dengan diam ku,?" aku pun terdiam.


"aku diam karna aku merasa bersalah tidak bisa melindungi mu. aku ingin membalas mereka yang sudah berani menyentuh mu. terutama Dion." jelas nya. aku tercengang mendengar penjelasan nya.


"abang tidak marah sama Bunga?"


" kenapa harus kamu sayang yang di salahkan, disini kamu sayng yang jadi korban. kamu mengerti kan" ia menjelaskan dengan suara lembut. ia menarik tangan ku dan mendudukkan ku di pangkuan nya.


"aku tidak akan meninggal kan mu sampai kapan pun. itu janji ku pada mu sayng." setelah berucap ia mencium dan ******* bibir ku dengan lembut. hingga aku pun terbawa suasana.


hash,,,ha, aku mencari oksigen sebanyak-banyaknya , ia pun mengelap bekas air liur di bibir ku. dan tersenyum.


****************


     Hari ini adalah malam terakhir kami menginap di hotel ini. aku dan bang Rahmat siap siap tidur untuk mempersiapkan diri. jam 7 jadwal penerbangan kami. aku sudah berbaring memejamkan mata. bang Rahmat masih mengerjakan sesuatu di leptop nya. kami pun sudah packing sore tadi. bang Rahmat menutup laptop nya. ia melingkarkan tangan di tubuh ku. aku yang sudah biasa tidur tidak memakai br* ta sengaja tangan nya menyentuh aset ku. aku pun menegang. aku takut ia akan tidak kendali. aku tak bergeming pura pura tidur. ternyata ia pun gugup setelah menyentuh aset ku. di lihat dari tubuh nya yang kaku tak bergerak dan di bagian blakang ku terasa sesak. aku masih ingin tau apa yang akan ia lakukan pada ku. ternyata ia membenarkan tangan nya di perut ku dan mendengkur. syukurlah ucap ku dalam hati. kami pun tertidur dengan lelap.


 kami sudah ada di pesawat. pagi tadi kami bangun pagi dan melakukan aktifitas seperti biasa nya hingga selesai. makin ke sini makin deg deg an. karna kami langsung mendarat di kota tempat tinggal orang tua ku. bang Rahmat ingin melamar ku Cera langsung.


   Setiba nya di bandara yang ada di kota orang tua ku. kami memesan taxi, untuk pulang ke rumah. badan ku serasa pegal semua aku meregangkan otot saat turun di taxi. kami langsung masuk. aku mengantar bang Rahmat kekamar tamu. saat di dalam kamar tamu sempat sempat nya ia memelukku dan ******* bibir ku, setelah puas ia baru melepas nya.


"kamu nakal ya bang," aku memukul lengan nya.


"he,, kan kita akn terpisah tidur nya. aku pasti kangen dengan aset mu itu.,," ia berbisik di telingaku.


"tau ah, aku mau istrahat di atas. bay,," aku gegas keluar dan menaiki tangga untuk beristirahat.


 Hingga makan malam baru aku turun. mama dan ayah tidak terkejut dengan kedatangan ku. mungkin bang Rahmat sudah memberi tau.


"slamat malam ayah ibu" aku menghampiri mereka di meja makan. bang Rahmat sudah duduk rapi di sebelah ayah. kami pun makan setelah itu duduk di ruang tamu.


  "maaf om tante saya tanpa persiapan datang ke rumah om. ijin kan saya untuk meminang anak om jadi istri saya apa kah om berkenan?" bang Rahmat mengutarakan maksud dan tujuan nya. aku pun di lirik ibu dan ayah mereka tersenyum padaku. seolah minta persetujuan ku. aku pun mengangguk.

__ADS_1


"ehemm,, baiklah sebelum niat baik mu itu om terima. apa kamu sudah tau bagai mana anak om yang banyak kekurangan ini. apa kamu mau menerima nya dengan sungguh sungguh. om tidak mau hal yang sama terulang kembali. !" jelas ayah.


"ia om saya sudah menerima anak om apa ada nya. saya berjanji tidak akan menyakiti lahir batin nya. " janji bang Rahmat dengan wajah serius.


''baik lah om terima lamaran mu, selamat datang di keluarga om." ayah dan bang Rahmat pun berpelukan. aku sangat bahagia hingga memeluk ibu yang duduk di samping ku.


"bagai mana rencana kedepan nya. apa kah ingin di adakan resepsi besar besaran atau sederhana saja.?" tanya ayah.


"saya ingin sederhana saja yah, dan kalau bisa secepat nya. saya tidak ingin hal buruk terjadi."


"bagai mana dengan keluarga mu. ?"


"ayah tau sendiri bagai mana mereka. saya ingin mereka tidak mengganggu acara kami yah. kami hanya perlu restu dari kalian." ucap bang Rahmat dengan bersungguh-sungguh.


"pa kamu yakin ingin melepas semua nya demi anak ayah. ayah takut nya di tengah jalan kamu berubah!" jelas ayah.


"aku sangat yakin yah. setelah menikah aku akan kembalikan semuanya pada mama. kami memulai dari 0. "


"baik lah kalo begitu. gimana kalo 2 hari lagi acara nikah nya. kita ada kan sederhana. "


"setuju" ucap bang Rahmat. ia melirik ke arah ku dan tersenyum.


setelah acara lamaran seadanya kami pun ke kamar masing masing. untuk beristirahat.


****************


"ini sudah keputusan ku ma. dengan atau tidak restu mama aku akan tetap menikah dengan Bunga."


"baik lah, 3 hari lagi aku akan ke rumah mama untuk mengembalikan semua nya."


  setelah itu sambungan pun di akhiri oleh bang Rahmat. ia tersenyum ke arah ku.


"sayang dari kapan kamu di situ." karna posisinya berdiri di dekat kolam renang tentu nya tidak melihat aku yang sudah duduk di kursi pas dibelakang nya. ia pun menghampiriku.


"dari 2 kata terakhir mas aku sudah di sini." jujur ku.


"hemm,, seperti yang kamu dengar setelah menikah kita akan ke rumah mama. dan menyerah kan semua nya. tapi untuk hari ini aku ingin ke Bank dulu mencairkan semua uang di ATM ku karna kemungkinan besar akan di bekukan."


"baik lah mas, aku tunggu di rumah aja ya. mas hati hati.?" ucap ku dan mencium tangan nya. ia pun sudah meminum teh yang aku buat kan.

__ADS_1


 aku pun mengantar nya ke depan setelah ia berpamitan dengan ke dua orang tua ku. setelah ke pergiannya aku pun membantu ibu untuk membuatkan minum dan cemilan untuk para karyawan itu. hingga jam 7 sore bang Rahmat belum pulang aku pun cemas. aku mencoba menghubungi nya.


Tut,,Tut,, sambungan telpon tidak di angkat hingga 3 kali aku mencoba menghubungi nya. setelah panggilan ke 3 ada deru mobil yang datang aku pun langsung berlari menghampiri nya. bang Rahmat baru turun ia pun tersenyum pada ku. aku langsung berhambur ke pelukan nya, dan menangis. ia pun menerima pelukan ku dan menangkup wajah ku.


"kenapa sayng...?"


"aku khawatir dengan kamu bang, aku takut kehilangan mu" ucap ku. ia pun tersenyum mencium kening ku.


"maaf sayang aku lama ya tadi, baik lah kita masuk dulu." bang Rahmat merangkul pundak ku, ia menggiring ku ke dalam yang sudah siap dengan dekorasi untuk acara besok. kami duduk di kursi yang ada di ruang tengah.


"sudah, jangan nangis lagi. aku kan sudah ada di sini. " ucap nya sambil menghapus air mata ku.


"aku tadi ke bank sayang karna jam kerja sudah berakhir makan nya aku memaksa pihak bang untuk tetap memproses pemindahan uang ke ATM ku yang baru maka. nya butuh waktu. " jelas nya. aku pun mengangguk dan memeluk nya erat.


"loh,,loh ko malah peluk pelukan di sini sih.?" ayah datang dari belakang kami. bang Rahmat merasa tidak enak sehingga ia salah tingkah dan menggaruk kepala belakang nya yang ta gatal.


"ini yah. anak ayah mulai kumat hee,," ucap nya kikuk. aku pun menyengir.


"emang nya ada apa. dan kamu syang kenapa kaya habis nangis.?" ayah menyipitkan mata mengintrogasi ku.


"aku khawatir dengan bang Rahmat yah. ia lama keluar nya." ucap ku jujur dan menunduk, aku hanya melirik ayah dari ujung mataku sambil menunduk. ayah menggeleng geleng kan kepala nya sambil tersenyum.


"cek,,cek,, ayah kira kalian bertengkar. ya sudah ayo ibu sudah menunggu di meja makan." kami pun ke meja makan bersama sama untuk menemui ibu. malam ini aku jadi bahan ejekan ayah. ibu dan ayah menertawakan ku. bang Rahmat juga ikut ikutan mengejekku.


"kalo kalian masih mengejek ku. aku bakalan mogok makan 1 bulan." mereka terdiam dan tertawa lagi.


"ayah ibu, bang Rahmat.....!" teriak ku..


"ok ok,, maaf kan ayah. ayah akan diam." ucap ayah dengan serius.


" sudah sayang, jangan ngambek lagi dong. nanti cantik nya hilang." tambah bang Rahmat.


"maaf kan ibu juga sayang. besok kan sudah jadi istri nya Mamat masa ngambek." aku yang mendengar kata Mamat pun tertawa.. hingga membuat mereka heran.


"ayah ibu, aku tau kenapa anak mu ini jadi tertawa.!" ucap bang Rahmat curiga.


"apa..?" ibu dan ayah menyahut bersamaan.


"kata jimat yang ibu ucapkan tadi "Mamat"." bang Rahmat menekan kalimat terakhirnya sambil memutar bola mata nya malas.

__ADS_1


"Bunga....!" teriak ibu dan ayah bersamaan. aku pun lari menghindar dari kejaran ayah. hingga memasuki kamar karna ayah pasti menggelitik ku. setelah itu entah apa yang terjadi di bawah aku tak berani untuk keluar.


...****************...


__ADS_2