Kebahagiaan Istri Yang Disia Sia Kan

Kebahagiaan Istri Yang Disia Sia Kan
bab 49


__ADS_3

      Toko kami tutup jam 5 sore. Anto pun sudah pulang dari jam 4.30 . hingga tinggal aku dan bang Rahmat yang lagi di toko. kami menghitung penghasilan perhari nya. Alhamdulillah setiap bulan nya penghasilan toko meningkat walau banyak yang ngebon.


"sayang malam ini kita ke rumah Anto untuk memberikan bonus mingguan pada nya." ucap bang Rahmat.


"baik bang. aku juga ingin ketemu Tika." ujar ku. setelah menutup toko kami mandi dan sholat magrib setelah itu baru ke rumah Tika.


"assalamu'alaikum,"


"waalaikumsalam, eh Bunga dan Rahmat. ayo masuk,!" Tika membukakan pintu.


"Anto mana Tik...?" tanya bang Rahmat.


"ia baru berangkat ngider dagangan nya mat, tak lama ia pergi kamu datang sama Bunga." jelas Tika.


"suami yang rajin ya Tik, beruntung sekali nikah dengan dia. "


"ia bung, ia penyayang dan lembut. tidak pernah marah penyabar orang nya.!" jelas nya lagi.


"kami kesini mau nitip ini sama Anto.'' ucap bang Rahmat dengan menyodorkan amplop yang kami bawa tadi.


"ah, ia nanti aku sampai kan. terimakasih bnyak ya kalian sudah banyak membantu kami." ucap nya dengan mata berkaca. saat ini kehidupan Tika mulai membaik. karna Anto sangat tekun dan jujur dalam bekerja.


"eh, Bung. sebenar nya mas Anto sore tadi sempat bercerita tentang tetangga baru kamu. hati hati dengan nya. terutama kamu Rahmat. jangan mau makan apa pun kalo ia ngasih nanti bahaya. ya jaga jaga ja. kalo saran aku mending di buang. atau di kasih air bacaan do'a siramkan. itu saran mas Anto tadi pada ku. " jelas Tika panjang lebar. aku pun hanya mengangguk tanpa mengerti apa maksud nya.


"terimakasih saran nya Tik. semoga saja kami di jauhkan dari hal hal yang tidak di ingin kan"


"aamiin" ucap kami serempak."


setelah lama berbincang kami pun pulang. di perjalanan kami hening tidak ada omongant sediki pun. kami sama sama terlena dengan pemikiran kami masing masing. hingga bang Rahmat mendadak menghentikan motor nya.

__ADS_1


"sayng coba lihat....!" ucap nya sedikit menujukke arah rumah kami. ya toko kami tidak menghalangi pintu rumah kami karna letak nya aga ke samping. jadi masih ada halaman rumah di muka teras kami. Terlihat seorang perempuan menggunakan selendang untuk menutupi kepala nya. ia menyiram kan sesuatu di depan pintu kami.


"sayang ia ngapain...?" tanya ku heran hingga setelah selesai ia berlari kecil ke arah sebelah rumah yang bersampingan dengan rumah Sarah. setelah ia pergi kami pun menuju rumah. bang Rahmat memasukkan motor di garasi. aku pun melihat ke arah pintu. ternyata hanya air. tapi untuk apa ia menyiram pintu rumah ku. aku sedikit heran.


"sayang kita jalan pintu belakang saja masuk nya.'' ajak bang Rahmat.


kami pun jalan samping rumah untuk menuju ke dapur. sesampai nya di dalam bang Rahmat langsung sholat isya sendiri tanpa mengajak aku dan membaca Yasin sebanyak 3x. di depan nya pun ada botol besar. setelah selesai ia duduk sebentar aku pun melepas mukena karna selesai sholat.


"sayang apa yang kamu pikirkan.?"


"tidak ada, bantu aku sayng untuk menyiram sekelilingan rumah." aku pun mengangguk dan kami membawa ember dengan air yang di campur garam sedikit dan air do'a tadi. dari samping rumah yang berlawanan aku dan bang Rahmat mengitari pinggiran rumah dengan gayung dan ember yang berisi kan air. hingga kami bertemu di pintu depan kami membaca ayat kursi dan berbarengan menyiram pintu itu. yang aneh nya kelar asap dari dinding pintu dan lantai teras rumah. kami saling berpandangan dan ber istighfar bersamaan. hingga toko pun kami siram. ternyata pintu masuk toko pun mengeluarkan asap. ini pasti kerjaan orang yang dengki dengan kami.


...****************...


   Aku dan bang Rahmat sedang menikmati sarapan pagi kami. hari ini aku masak sayur bayam dan ikan asin. untung nya bang Rahmat tidak pemilih dalam hal makanan.. tapi selera makan ku pagi ini kurang baik. perut ku berasa di aduk dan ingin muntah. aku lari ke kamar mandi bang Rahmat ikut panik ia menyusul ku di kamar mandi dengan menyapukan minyak kayu putih di tengkuk ku. sedikit aga enakan.


"terimakasih bang, aku rasa tidak enak badan bang. kaya nya masuk angin deh."


"kalo begitu biar abang yang buka toko kamu istrahat saja sayang. atau kita ke puskesmas dulu syang. biar hari ini toko tutup.'' usul bang Rahmat pada ku.


" baik bang," aku menyetujui usulan nya.


"abang menelpon Anto dulu ya sayang." aku pun mengangguk. kepala ku terasa pusing dan perutku rasa nya di aduk. aku berlari lagi ke kamar mandi hingga tubuh ku terasa lemas sekali. hingga akhir nya bang Rahmat meminta tolong dengan Anto untuk menjemput bidan yang bertugas di kampung ini.


"sudah berapa hari istri pa Rahmat kondisi nya begini...?" tanya bidan Ainun.


"baru 2 jam terakhir bu, karna pagi tadi ia terlihat baik baik aja." jelas bang Rahmat. aku hanya bisa mendengarkan obrolan mereka tanpa bisa menyahut.karna kepala ku rasa nya pusing sekali jadi aku hanya memejamkan mata.


"baik pa. nanti bantu bu Bunga untuk menampung urine nya di sini dan celupkan alat ini. kalo garis dua nanti bawa ketempat saya untuk sementara bu Bunga kita infus saja dulu.

__ADS_1


"baik bu. terimakasih." setelah bu Ainun menginfus ia pun undur diri dengan di antar oleh Anto.


"sayang masih pusing ya..?" tanya bang Rahmat.


"ia sayang,, tolong peluk aku. " ucap ku manja.


aku menyusuri dada bidang nya setelah berbaring. hingga sampai pada pu*ng susu nya. aku bermain di stu rasa nya membuat aku tidak pusing lagi.


"sayang,,gelli.." ujar bang Rahmat sambil menahan geli.


"bang kepala ku tidak pusing lagi setelah memainkan ini.hee,, " jawab ku. yang membuat bang Rahmat heran.


"syukur lah sayang, tapi jangan keras keras ya. nanti sakit." ucap nya dengan ekspresi geli.


"ia bang, aku hanya mengelus nya saja." ucap ku.


"gimana bang dengan tanah yang mau abang beli itu apa sudah bisa...?" tanyaku masalah tanah yang ingin di jadi kan pabrik pakan itu.


"masih ada sedikit kendala sayng. tapi orang ku masih mengurus nya...!" jelas nya.


''sayang hbis kan cairan infus ini baru kamu ke kamar mandi ya...!" usul nya aku pun menganggu menyetujui usulan nya.


"sayang aku jadi mau ni gimana dong, kamu sih mancing mancing...!" bang Rahmat mencoba menyalah kan ku.


''apa nya yang mancing. hanya pikiran mas aja yang konslet.haahaa. " ucap ku sambil tertawa.


aku pun beristirahat alih alih buka toko bang Rahmat juga ikut tidur. kami terlelap entah sampai mana kami bermimpi hingga kami lupa untuk mengunci pintu. aku sekilas mendengar suara di buka dan ada langkah kaki.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2