Kebahagiaan Istri Yang Disia Sia Kan

Kebahagiaan Istri Yang Disia Sia Kan
bab 45


__ADS_3

       Aku berlari kecil menuju kamar mandi kulihat bang Rahmat sedang memasak di dapur aku menghampiri nya dan mencium pipi nya. dengan keadaan ku yang sangat berantakan rambut terurai kusut wajah bangun tidur yang masih tidak segar aku menggunakan baju tidur tali spaghetti tentunya baju baru tidak bajuku dengan mas Dion. semua baju itu sudah ku buang saat berada di apartemen bang Rahmat dulu. ia membalas memelukku dan mencium keningku.


"siapa suruh bikin aku begadang kan repot sendiri" aku berujar sambil tersenyum licik.


"tapi suka kan,, " ia berucap sambil mengangkat alis nya.


"suka sih, tapi kan aku jadi telat bangun terus bang, ga bisa bikinin kamu sarapan pagi." dengan manja aku berucap.


"tidak papa sayang kita kerjakan sama sama ya, sudah mandi dulu baru sholat habis itu kita makan abang tunggu."


"siap bos," aku memperagakan orang sedang hormat padanya. ia pun mengelus kepala ku dan tersenyum. aku pun menuju kamar mandi. setelah itu langsung kekamar melakukan sholat subuh hang tertinggal. setah selesai aku memoles wajah ku dengan riasan tipis seperti biasanya.


"ok sudah siap." aku berdiri ingin keluar tapi gaway ku berbunyi. aku pun menghampiri nakas dan melihat nomer ta dikenal menghubungi ku.


"bang,, '' aku berlari menghampiri bang Rahmat di meja makan yang sedang menikmati teh pagi nya.


"ada apa sayang ko lari lari an.?" aku pun menyerahkan gaway ku pada nya. hingga ia menatap ku seolah ia bertanya aku pun mengangkat bahuku tanda aku pun tidak tau.


@tidak di kenal : sayang cepat pulang aku merindukan mu kalo tidak aku akan menyebarkan vidio itu.


bang Rahmat langsung mematikan sambungan sepihak. ia tampak marah.


"siapa bang...?" tanya ku.


"si Dion sialan itu sayang ia mencoba mengancam mu. tapi tenang saja aku akan urus semua nya. tolong ambilkan gaway abang di nakas sayang.!'' aku pun beranjak menuju kamar untuk mengambil gaway bang Rahmat.


"terimakasih sayang, tunggu abang sebentar ya abang mau menghubungi teman abang." aku pun mengangguk dan duduk.


@bang Rahmat : halo Tio, kamu sedang sibuk sekarang....?


@Tio :....................


@banng Rahmat : aku ada tugas untuk mu, retas gaway seseorang hapus semua vidio yang tersimpan tanpa sisa. nanti ku kirim nomernya melalui pesan.


@Tio :......................


@abang Rahmat : ok, terimakasih banyak.


   setelah selesai bang Rahmat menaruh gaway nya di atas meja makan dekat dengan gaway ku.


"sayang nanti kamu ganti nomer saja supaya tidak di ganggu lagi." usul bang Rahmat. aku pun mengangguk. sambil menyiapkan makan.


"hari ini abang jadi ke toko bangunan...?"


"jadi, kamu mau ikut,...?"


"boleh."

__ADS_1


kami pun makan dengan hening, tidak seperti biasa nya. bang Rahmat terlihat berfikir. aku pun enggan mengganggu nya setelah selesai kami pun seperti biasa duduk di teras rumah. karna kami berencana aga siangan ke toko bangunan nya.


terlihat dari kejauhan Anto dan Tika berjalan kaki menuju ke rumah kami.


"bang itu kaya nya Tika dan suami nya." ucap ku.


"ia sepertinya mau kesini." jawab bang Rahmat.


"aku kedalam dulu bikinin minum bang," ucap ku sambil beranjak.


"nanti bungkus kan es buah untuk mereka bawa pulang sayang." aku pun mengangguk.


saat aku keluar Tika dan suami nya sudah duduk di ruang tamu.


"di minum." ucap ku dan duduk di samping bang Rahmat.


"eh, cantik sudah sembuh ya. sini ikut aunty.." aku pun meraih anak yang kisaran baru berusia 8 bulan itu.


"gini mat maksud kami kesini mau mengembalikan uang sisa dari rumah sakit." ucap Anton.


"ko di kembalikan,..?" tanya bang Rahmat.


"kebanyakan mat, biyaya kemaren tidak habis satu juta. ini uang masih sisa 2 juta seratus ribu." jawab Anto.


"sudah simpan saja. aku tidak meminjam kan uang untuk mu tapi aku ngasih anak mu " ucap bang Rahmat.


"sudah simpan saja" aku memotong ucapan Anto.


"trimakasih Bunga."


"mana motor kamu yang buat jualan kemaren...?" tanya bang Rahmat.


"itu bukan motor ku mat. tapi motor bos yang memiliki agen pentol. aku hanya membawakan dagangan nya saja dan upah nya persenan." ia menjelaskan.


"oh,, sekarang libur...?" tanya bang Rahmat lagi.


"ia mat, nanti malam baru ngider."


"sampai jam berapa...?"


"tidak nentu bang. kalo cepat habis pulang nya pun cepat." jawab nya lagi.


"emm, kamu bisa kerja bangunan.?"


"untuk tukang saya tidak bisa mat, tapi kalo pelayan bisa." jelas nya.


"kalo gitu nanti bisa bantu aku bikin toko di depan rumah. istrimu kenal dengan tukang nya."

__ADS_1


"emang nya siapa mat?" tanya Tika.


"Angga Wijaya suami nya Susilawati teman kita SMA dulu." jelas bang Rahmat. aku sedang asik dengan anak Tika. jadi tidak ikut dengan obrolan mereka.


"mereka ada di sini..?" tanya Tika terkejut.


"ya mereka tinggal di blakang warung bakso mang Dadang."jelas bang Rahmat lagi.


"ko aku tidak tau ya...?" ucap nya heran.


"kata nya pernah beberapa kali bertemu dengan mu tapi ia malu untuk menegur." aku kali ini menjawab.


"ko gitu..."


"gak tau juga. "


hingga jam 10 Tika dan suami nya undur diri. aku menyerahkan es buah pada mereka. mereka pun membawa nya. kami pun bersiap untuk ke toko bangunan. setelah siap kami pun berangkat. tidak lupa untuk mengunci pintu.


"sayang nanti mau beli jajanan lagi....?" tanya bang Rahmat.


"ga yang. aku mau beli buah buahan aja...!'' ucap ku.


"ok, sayang."


kami pun sampai di toko bangunan yang kami tuju. aku menunggu di kursi yang sudah di sediakan. bang Rahmat terlihat sibuk memilih bahan bahan bangunan yang akan ia beli. seperti batako besi semen pasir dan bahan lain nya aku hanya memperhatikan mereka.


"misi neng, mau beli kacang rebus..?" ucap Nene yang membawa bakul keranjang itu pada ku. ia menawarkan jualan nya.


"boleh nek, berapaan...?" tanya ku sambil berjongkok. karna Nene itu menurunkan keranjang nya di tanah.


"5 ribu satu takar neng..!" jelas nya.


"aku minta 6 takar ya ne.' ucap ku dengan ramah. ia pun mulai menakar kacang itu dan membuat nya dalam bungkusan koran yang diolah seperti mangkok.


"ini neng..!" ia menyodorkan kantong plastik yang berisi kan kacang rebus dalam koran tadi. aku menyerah kan uang 50 ribu an.


"tidak ada kembalian nya neng, ada uang pas. Nene baru ngider neng.?" ucap nya lirih.


"ambil aja kembalian nya untuk Nene." ujar ku sambil tersenyum.


''terimakasih neng, semoga rezki nya lancar." ia berucap sambil membenarkan dagangan nya untuk di gendong lagi.


"sama sama ne, aamiin, terimakasih atas do'a nya." ia pun tersenyum padaku.


"Nene ngider dulu neng." ucap Nene sambil tersenyum.


  Aku pun duduk kembali sambil menikmati kacang rebus sambil menunggu bang Rahmat berbelanja bahan bangunan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2