
aku sudah siap dengan riasan pengantin. duduk di muka meja rias melihat pantulan wajah ku di cermin. aku meneteskan air mata kebahagiaan. MUA yang sama dengan yang dulu saat aku menjadi pengantin mas Dion. sekarang ta menyangka ia akan merias ku lagi dengan calon suami yang berbeda. ia banyak memuji calon suami ku yang sekarang kata nya mirip dengan lee min ho aku pun terkekeh mendengarkan celotehan nya. umurnya dua tahun di atas ku. masih muda dan cantik. hingga ada yang membuka pintu kamar ku.
"sayang 15 menit lagi acara di mulai, apa sudah siap. ?" ibuku dengan dandanan kebaya yang berwarna maroon menghampiriku. ia terlihat cantik dan awet muda. menatap ku melalui cermin.
"sudah bu. pekerjaan Diana sangat sempurna kan bu!" aku minta pendapat pada ibu.
"ia kamu terlihat sangat cantik sekali sayang."
"terimakasih Diana," tambah ibu lagi.
Aku sudah duduk di samping bang Rahmat ia belum bisa sepenuh nya melihat wajah ku yang tertutup kain putih yang samar samar memperlihatkan wajah ku. ia tau aku tersenyum padanya ia pun membalas senyuman ku.
"bisa kita mulai acaranya sekarang.?'' tanya pak penghulu.
"bisa pak," jawab bang Rahmat. ia terlihat sangat santai.
Bang Rahmat menjabat tangan penghulu. saat itu ada keributan di luar pagar rumahku. pak penghulu menatap pada ayah. ayah pun merasa bingung. hingga bang Rahmat berucap.
"pak kita mulai saja.!" ucap nya dengan tegas.
"sah,," ucap para saksi dan tamu serempak. setelah bang Rahmat selesai melafazkan kan ikrar pernikahan. pak penghulu pun membacakan do'a. setelah itu tamu undangan bubar untuk menikmati hidangan yang ada dan satu persatu mereka menyalami kami untuk mengucapkan selamat. aku dan mas Rahmat pun tersenyum merekah. di adat kami pengantin pria blum boleh melihat wajah pengantin wanita hingga memasuki kamar. jadi bang Rahmat belum bisa melihat wajah ku hingga acara selesai. kami mengabaikan keributan diluar yang sempat terjadi tadi. hingga acara benar benar selesai. aku dan bang Rahmat lekas menuju ke kamar agar bang Rahmat bisa membuka penutup wajah ku. setelah acara selesai pada jam 4 an.
"bang cepat buka penutup muka ku agar kita bisa melihat apa yang tadi terjadi di luar." ucap ku dengan terdengar gelisah.
__ADS_1
"baik sayang." bang Rahmat pun membuka penutup wajah ku ia sempat terpana dengan apa yang ia lihat. hingga aku membuyarkan nya.
"bang ayo kita keluar.!'' ajak ku.
kami pun turun. di luar sudah terdengar ada perdebatan antara ayah dengan suara perempuan. kami pun mempercepat langkah kami.
" bisa bisa nya kamu menikahkan anak kamu yang janda itu dangan anak saya yang notabene nya orang terpandang hah,, apa memang kamu ingin memanfaatkan nya!" ku lihat seorang ibu yang seperti sosialita memaki ayah. ia membawa seorang perempuan yang umuran nya kisaran di atas bang Rahmat.
" mama, apa yang mama lakukan di sini. kan sudah ku bilang keputusan ku bulat. tidak bisa di ganggu gugat lagi." ucap bang Rahmad dengan nada sedikit meninggi.
"apa kamu rela melepaskan semua nya demi wanita yang tidak sepadan dengan kita ini. lagi pula Sandra dan anak nya masih membutuh kan kamu ia ada di rumah sekarang. ayo ikut mama pulang dan talak wanita ini!" ucap mama nya dengan lantang. untung nya ayah dan ibu sudah tau cerita semua nya. jadi ia aga santai mendengarkan semua nya.
"tidak akan ma. lebih baik mama pulang aku akan pulang setelah 3 hari di sini. tunggu saja aku di rumah." ucap bang Rahmat tak mau kalah.
"tunggu sebentar di sini sayang" ucap nya lembut, bang Rahmat pun mengubah ekspresi nya terhadap ku. aku pun mengangguk dan ayah menghampiriku dan memelukku.
"semua akan baik baik saja sayng jangan khawatir.!'' ayah memberikan semangat pada ku. aku pun mengangguk di dalam pelukan nya.
Tak lama bang Rahmat keluar dan menyerahkan kunci mobil dan dua ATM. seorang wanita yang bersama mama bang Rahmat pun mengambil kunci yang di serahkan mama nya bang Rahmat. ia menuju mobil bang Rahmat dan keluar. mama bang Rahmat pun berlalu dengan membuang muka ia memasuki mobil dan mobil pun perlahan pergi. kami memasuki rumah dengan aku yang di rangkul ayah. Bang Rahmat dan ibu mengiringi di belakang.
...****************...
Aku duduk di meja rias menghapus dandanan ku. bang Rahmat baru keluar dari kamar mandi ia menghampiri ku.
__ADS_1
"sayang sini abang bantu." ia melihat ku di pantulan cermin. ia membantuku melepaskan riasan yang ada di kepalaku. dan membantu melepaskan kancing di kebaya yang berada di belakang ku. ia dengan jahil mengelus punggungku.
"bang,,!" aku melotot pada nya. ia pun tersenyum jahil.
"aku kan hanya membantu membuka kancing sayang." kilah nya pada ku. aku hanya memutar kedua bola mata ku. hingga saat semuanya sudah beres aku bersiap untuk mandi. setelah selesai aku keluar melihat bang Rahmat yang duduk menyandar di kasur.
"sayang sini,, !" ia menyuruhku duduk di samping nya. aku pun menghampirinya.
"akhirnya kamu menikahi seorang pengangguran.'' ucap nya sambil mengelus
pipiku.
"biar saja, jadi enak nanti aku bisa memarahi abang sepuas nya. hee,,!" ia pun menjitak kepalaku dengan lembut.
"ternyata itu ya rencana mu," ia mendengus aga kesal.
"tidak lah abang ku syang, kita bisa memulai dari awal lagi. kita buka usaha di tempat yang baru hanya ada aku kamu dan nanti anak anak kita.!" aku menjelaskan apa yang aku pikirkan.
"sebenar nya aku memiliki rumah tapi jauh dari sini. itu rumah aku beli tanpa sepengetahuan mama. apa kamu mau kita memulai kehidupan kita di sana. letak nya masih di kota daerah yang mama tinggali. tapi aga jauh dari kediaman mama. bagai mana...?" bang Rahmat mengusulkan pada ku.
"bang aku akan ikut kemana pun abang pergi." jawab ku. ia pun menangkup wajah ku dengan ke dua tangan nya dan mencium bibirku hingga sedikit ******* nya. terdengar suara ketukan.
"non, maaf disuruh ayah non makan malam." aku pun replek melepaskan ciuman kami. bang Rahmat tampak sedikit kecewa. aku pun tersenyum pada nya.
__ADS_1
"ia bi kami akan turun...!" aku sedikit berteriak dengan ke adaan masih memandangi bang Rahmat. kami pun turun untuk makan malam.