
hingga 2 jam kami berbincang dengan Filip kemungkinan yang kami dapat kan ada dua. antara Sandra dam masalalu Mas Dion. hingga setelah itu kami memutuskan untuk pulang dan menemui bunda dan bunga kecil.
"assalamu'alaikum Bun" sapa ku pada bunda yang sedang menyuci piring.
"waalaikumsalam neng Bunga, tuan Rahmat. mari silahkan duduk!" ucap nya sambil melap tangan nya pada sisi baju daster longgar yang ia kenakan. kami pun duduk di kursi yang ada di dalam.
"Bun, maaf mengganggu ada yang ingin saya bicarakan sama bunda!" ucap ku ragu.
"ada apa ya non, ko kelihatan nya serius. apa masalah hutang saya?" ucap nya salah sangka.
"tidak Bun, bukan itu. tapi!" ucap ku terhenti aku memandang bang Rahmat ia pun mengangguk.
__ADS_1
"ada apa neng, bunda ko jadi deg degan ya!"
"sebelum nya saya minta maaf, saya membawa berita buruk. bahwa suami bunda telah masuk penjara. sebelum nya bang Rahmat yang sudah melaporkan nya karna ia mengorupsi uang kantor sebanyak 3M.!" jelas ku pada bunda. ku lihat wajah bunda biasa saja tanpa ada ekspresi terkejut.
"knapa neng yang minta maaf sama bunda. itu sudah kewajiban nya untuk menanggung semua perbuatan nya. lagian saya juga tidak mau lagi berurusan dengan nya." jelas bunda.
"tapi bunga kecil bagai mana Bun, apa ia akan marah pada kami?" tanya ku lagi.
"biarkan saja waktu yang memberitahu kan nya. untuk saat ini biar kan buang tidak tahu." ucap bunda lagi.
Sesampai nya di apertemen ada kotak hitam yang tergeletak di depan pintu. sontak aku menggenggam tangan bang Rahmat. ia pun memegangi tangan ku.
__ADS_1
"siapa lagi bang. kalo bukan Bagas dan mas Dion?" ucap ku gemetar.
"abang kira ada musuh dalam selimut syang.!" jelas nya.
"maksud abang?" aku bertanya lagi pada nya.
"karna tidak ada yang tau keberadaan kita sekarang kecuali orang orang ku sayang. kita turun kebawah untuk cek cctv apertemen ini.!" ajak bang Rahmat.
kami pun menuju ke bawah lagi. untuk menemui petugas cctv. setelah sampai kami pun mengutarakan maksud kami. petugas itu pun memperbolehkan kami masuk dan memeriksa cctv yang berada tepat menuju pintu apertemen kami. di detik ke 15 ada terlihat orang yang berjaket hitam dan helem menaruh sesuatu di depan pintu kamar kami. gelagat nya sangat mencurigakan ia terlihat sesekali melihat ke sekeliling. tapi tidak terlihat wajah nya. bang Rahmat pun memerintahkan satpam untuk membuang kotak hitam itu. setelah semua selesai kami pun masuk ke apertemen.
"bang apa yang harus kita lakukan, Bunga sangat takut bang!" ucap ku pada bang Rahmat. bang Rahmat nampak berfikir.
__ADS_1
"sayang kita tidak bisa mempercayai siapapun saat ini. karna kemungkinan besar pelaku nya orang terdekat kita sayang. abang takut salah langkah.!" jelas nya. aku pun mengangguk menyetujui nya. kami pun mengatur siasat, kami harus bertindak sendiri tanpa harus melibat kan yang lain. setelah menyusun rencana kami pun mencoba beristirahat walau mata sulit untuk terpejam.
...****************...