
Setelah sampai di kediaman bidan Helda aku pun memencet bel rumah nya. ta berapa lama ia keluar.
"assalamualaikum bu Helda,!" ucap ku sambil tersenyum ramah.
"Waalaikumsalam, eh Dira. masuk Ra ada apa nih kesini.?" tanya bi Helda pada ku. aku pun mengikuti nya duduk di depan meja nya.
"gini bu. saya ingin periksa kehamilan. kalo saya tidak hamil saya langsung mau suntik.!" aku mengutarakan keinginan ku. bu Helda pun mengangguk paham.
"maaf sebelum nya apa suami kamu sudah tau?"
"sudah bu, kami sudah sepakat untuk menunda dulu karna kesibukan masing masing.!" jawab ku bohong.
"baik lah kalo begitu kita tespek dulu ya. datang bulan kamu gimana.?"
"sebelum menikah sekitar 1 mingguan saya sudah datang bulan bu. dan sekarang saya sudah berhubungan selama 1 minggu. jadi kalo jadwal datang bulan memang belum waktu nya bu.!" jawab ku dengan rinci.
__ADS_1
"emm, baik lah nah ini wadah untuk menampung urine kamu ya nanti bawa kesini. toilet nya di situ!" ucap bu Helda sambil menunjuk ke arah pintu yang bertulis kan toilet. aku pun mengangguk dan menuju toilet. setelah selesai ku bawa wadah yang sudah terisi urine ku. aku menyerahkan pada bu Helda. ia mencelupkan beda kecil berbentuk lidi pipih ke dalam urine ku. setelah kami tunggu 3 menitan bu Helda pun mengangkat dan memperlihatkan bahwa yang tertera hanya garis satu. aku sangat bersyukur. setelah itu aku di suntik KB 3 bulan untuk menghilang kan kecurigaan kang Firman kalo menggunakan pil pasti ketahuan. setelah selesai aku pun membayar administrasi 45 ribu. aku pun pamit dan menaiki motorku untuk menuju pulang. pantat ku masih terasa kebas dan nyeri karna akibat suntikan tadi. untuk duduk masih sangat terasa.
Pada jam 9 kang Firman datang. ia mengetuk pintu dan membuka nya aku masih di depan tv untuk bersantai sambil memakan cemilan.
"akang, sudah pulang."aku pun menghampiri nya. dan mencium tangan nya.
"akang mau makan?" tanya ku lagi.
"ga neng akang sudah makan tadi. ini neng uang untuk keperluan harian.!" ucap nya sambil menyodorkan uang 700 ribu. aku sedikit heran setiap hari nya ia memberi jatah semakin banyak pada ku. tapi aku diam dan menerima nya saja. dari pada tidak di beri sama sekali.
"air dingin aja neng!" jawab nya sambil duduk di depan tv. aku pun mengambil kan air putih dari kulkas ku serahkan pada nya. terlihat raut wajah nya sedang ada masalah. entah masalah apa. tapi aku enggan bertanya. aku mencoba seperti biasa. saat ingin berdiri ia memukul pantatku gemas pas di tempat yang sore tadi aku di suntik.
"au,, kang sakit.!" teriak ku.
"emang nya pantat kamu kenapa neng. rasa nya akang tidak terlalu keras mukul nya.!" jelas nya.
__ADS_1
"em,, ini tadi Dira ga sengaja duduk di kursi yang paku nya sedikit keluar kang" ucap ku sambil berbohong.
"oh, gitu ya. maaf kan akang ya, akang ga tau neng!" ucap nya sambil tersenyum. aku masih mengelus pantat ku.
"tau aja kang Firman di mana letak yang pas. mungkin ini akibat aku membohongi nya" gumam ku dalam hati.
"gimana kerja nya sayang hari ini?".
"Alhamdulillah lancar seperti biasa kang.!" jawab ku. aku sudah duduk di pangkuan. ada terasa sesak di bokong ku. aku sudah tau itu apa.
" huh, aku harus siap di gempur lagi oleh nya. ini lah resiko jadi istri supir." Ucap ku dalam hati.
kang Firman sudah mulai melancarkan aksi nya ia memainkan gunung kembar ku. aku pun jadi tidak fokus untuk menonton tv.
" tapi sampai sekarang ia ta memulai aksi nya. ia hanya bermain main saja. syukurlah. mungkin ia lelah."ucap ku dalam hati.
__ADS_1
aku pun tertidur di pangkuan nya. saking ngantuk nya.