
keesokan pagi nya setelah makan siang Bang Rahmat pun berangkat kekantor. aku naik kembali ke kamar untuk menyelesaikan novel ku. aku duduk di meja kecil ku sambil bersila.
Tok,tok,, pintu kamar di ketuk.
"siapa ya, apa mungkin mama?" ucap ku pada diri ku sendiri.
aku pun melangkah kearah pintu kamar. aku menilik di lubang pintu kecil yang sudah di buat seperti pintu hotel. ku lihat Bagas berdiri di depan pintu. untung pintu kamar sudah ku kunci. ia mengetok lagi.
''Bunga aku tau kamu di balik pintu, aku hanya ingin memberitahu kan mu bahwa Dion sedang mencari mu. kalo kamu tidak menurut dengan ku akan ku beritahu kan di mana kamu pada sahabat ku Dion." jelas nya sambil mengancam aku pun hanya diam. badan ku bergetar ke takutan.
"aku hanya ingin menikmati tubuh mu sekali saja. kalo kamu tidak mau menurut aku akan kasih tau Dion. lumayan uang yang ia tawarkan. aku tunggu di kamar ku dalam waktu 30 menit kamu tidak datang maka akan tau akibat nya."
setelah berucap seperti itu terdengar suara langkah kaki menjauh dari kamar ku. aku tak berani mengintip. aku pun lekas berganti pakaian dan mengambil tas dompet serta gaway ku. aku lekas keluar tujuan ku hanya bang Rahmat. aku ingin menemui nya ke kantor.
saat sudah di luar aku menengok kan kepala ku sedikit melihat situasi. kelihatan nya Bagas sudah masuk ke kamar. aku pun gegas mengunci pintu kamar dan sedikit berlari menuruni tangga. rumah sangat sepi aku sangat ketakutan langkah ku terasa lambat untuk menuju pintu luar. hingga sampai di luar aku menemui satpam untuk berjaga jaga kalo Bagas menyergap ku.
"mau ke mana non, kelihatan tergesa gesa. ?" satpam itu bertanya dengan bingung.
"pa mama dan bibi ke mana.?"
"nyonya sedang ada arisan bibi lagi ke pasar non.!" jelas nya.
untung aku sudah bisa keluar aku memesan taxi online. setelah taksi itu datang aku langsung menaiki nya aku mengabaikan pa satpam. setelah sampai belokan aku melihat ada mobil yang berhenti di depan rumah.
"pa, stop sebentar." aku menyuruh supir taxi itu berhenti karna penasaran dengan tamu yang datang. ku lihat seorang laki laki turun dari mobil kemudi ia menggunakan jaket kulit berwarna hitam topi dan kaca mata hitam. aku belum bisa mengenali nya. setelah ia melepas kan kaca mata dan topi.
deg,,jantung ku serasa berhenti. ku lihat mas Dion turun berbincang dengan satpam.
"bang ayo jalan" aku dengan gugup menyuruh supir taxi untuk jalan.
setelah itu aku tidak tau lagi. untung aku bisa keluar dari rumah itu. entah sudah di rencanakan mereka atau tidak karna keadaan rumah kosong. di sepanjang perjalanan aku sangat gelisah. kenapa mobil taxi sangat lambat.
"bang bisa cepat sedikit saya buru buru....!"
__ADS_1
"ia non,,!" ucap nya sambil menaikan laju mobil.
akhir nya aku sampai di kantor bang Rahmat setelah bayar aku langsung berlari mengabaikan karyawan yang sedang melihat ke arah ku. hingga sampai depan pintu ku buka ternyata kosong tidak ada bang Rahmat. aku pun duduk di kursi yang ada di ruang kerja bang Rahmat. keringat dingin membasahi kening ku. entah apa yang akan terjadi jika aku masih berada di rumah itu. ta lama pintu terbuka. bang Rahmat masuk.
"hey,, sayang ko ada di sini. ga hubungin aku dulu. kalo tau kan aku bisa jemput. pasti kesepian ya ?". bang Rahmat menghampiriku dan memeluk mencium pucuk kepala ku. aku masih tak bergeming.
"hey, , kenapa kelihatan pucat apa yang terjadi.?" ia menggiringku duduk dan mengambil kan air mineral untuk ku. dan menyodorkan nya pada ku.
"terimakasih bang.!" ucap ku setelah bisa menguasai diri.
"ada apa sayang kelihatan nya kamu cemas.?"
aku pun menceritakan semua nya. bang Rahmat terlihat marah. tapi masih dengan wajah tenang.
"sudah sayang jangan di pikirkan. sekarang sudah ada aku." ia merangkul ku.
entah apa yang akan di lakukan nya setelah mendengar cerita ku.
"sayng, sudah tenang ya. kamu istrahat di kamar dulu.!"
"kamu di sini dulu ya sayang aku kembali kerja dulu. tenang kan diri mu. nanti kita makan siang di sini saja. 10 menit lagi. ok..!" ia tersenyum pada ku. aku pun mengangguk mengiyakan apa yang ia katakan tadi.
setelah bang Rahmat keluar aku pun menghampiri jendela kamar yang mengarah ke kota. ku lihat banyak kendaraan berlalu lalang. hingga setelah itu aku memutuskan untuk merebahkan diri. untuk menunggu bang Rahmat selesai mengerjakan tugas kantor nya.
"sayang bangun...!" bang Rahmat membangun kan ku.
"emm,, aku ketiduran ya, maaf!" ucap ku sambil meregangkan otot. sangat terasa ada ganjalan di bawah perutku sebesar kepalan tangan. aku mengelus nya. itu calon anak ku.
"kenapa sayang saki...?"
"engga bang hanya saja pas aku menggeliat sudah kerasa ada sekepalan tangan di sini. itu anak kita bang. aku takut terjadi sesuatu pada anak kita.!" jelas ku dengan wajah cemas.
"tidak akan aku biarkan siapa pun mengganggu kehidupan kita. aku janji pada mu. aku tidak akan meninggalkan mu lagi."
__ADS_1
"terimakasih sayang. aku hanya takut."
"ya sudah ayo kita makan sudah siap semuanya.''
aku pun mengikuti bang Rahmat keluar sebelum nya aku kekamar mandi membersihkan muka ku bekas tertidur tadi. setelah itu kami pun makan bersama. banyak makanan yang di pesan bang Rahmat. semuanya aku suka. sekarang aku sudah tidak lagi merasakan yang aneh aneh. hingga terasa nyaman untuk makan apa saja.
Hingga sore aku masih di kantor menemani bang Rahmat.
"sayang ayo kita pulang.!"
"pulang ke mana bang?"
"ke rumah mama Laras. tenang ada aku tidak akan ada yang terjadi. Tio juga sedang mengurus rumah untuk kita kata nya 2 hari lagi sudah bisa kita tempati." jelas bang Rahmat. aku pun mengangguk. kami pun keluar dari ruangan Bang Rahmat menuju ke parkiran untuk pulang. di sepanjang jalan aku masih gelisah. ku lihat raut wajah bang Rahmat juga tidak seperti biasa nya. entah apa yang akan ia lakukan setelah pulang ke rumah. apa ia akan memberi pelajaran langsung pada Bagas, entah lah.
"sayang kita makan di luar saja ya. jadi nanti pulang tidak perlu makan lagi.?" ajak bang Rahmat. aku pun mengangguk.
"mau makan di mana sayang?"
"em,, aku mau makan di pinggir jalan itu bang!" aku menunjuk pedagang yang berjualan di pinggir jalan dengan bersepanduk seafood.
"baik lah, kita parkir dulu." ya bang Rahmat memang tidak pemilih masalah makanan.
"ayo syang, aku sudah ta sabar ingin makan ayam goreng dan lalapan Pete goreng dengan kulit nya di sini. " ajak ku dengan semangat sambil menarik tangan nya. ia pun tersenyum pada ku.
"bang ayam goreng paha nya dua lalapan nya komplit. minta Pete nya 5 papan ya.!" ucap ku pada abang penjual nya.
"saya ayam goreng paha nya satu lalapan nya lengkap tapi tidak usah pake Pete.!" ucap bang Rahmat.
"baik tunggu sebentar ya. minum nya apa tuan?"
"teh es 3 gelas." ucap ku. menyambar bang Rahmat hanya menggeleng dan tersenyum.
kami pun makan dengan lahap banyak mata yang melihat ke arah ku. karna aku makan sangat lahap dengan porsi besar. bang Rahmat tidak masalah ia malah senang kalo aku makan banyak. karna menurut nya yang makan berdua. setelah makan kami pun pulang kerumah.
__ADS_1
...****************...