
Jam 10 malam kami masih saja mengobrol. kulihat banyak pedagang di malam hari berjualan memakai sepeda motor. tukang pentol ku hitung sudah tiga yang lewat tukang bakso 2. aku sangat senang kalo ada tukang jajanan pasti tambah betah tnggal di sini. waktu dengan mas Dion walau pun tnggal di pinggiran kota ia jarang sekali ngajak jalan jalan. dan di gang tempat kami tinggal pun jarang pedagang jajanan lewat.
"bang , aku akan betah deh kaya nya tinggal di sini. lagian di sini banyak pedagang yang lewat ,hee,,'' aku menjelas kan sambil tertawa.
"iya sayang. di ujung sana juga ada pedagang bakso tetap. ia berjualan dari jam 4 sore hingga subuh." tutur bang Rahmat menjelas kan.
"kayak nya bakalan gendut nih aku tinggal di sini. hehe ,," tambah ku lagi.
"sayang kita masuk yo sudah malam." ia menggerak gerakkan alis nya tentu ada maksud terselubung. aku pun mengangguk dan mengikuti nya masuk ia mengunci pintu. aku ke dapur menaruh gelas bekas bang Rahmat minum teh tadi. bang Rahmat sudah berbaring. aku mengambil baju tidur dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan muka.
"aku ganti baju dulu mas." ia pun mengangguk.
Malam ini aku mengenakan lingerie berwarna hitam kontras dengan tubuh ku yang putih. aku mencuci muka. sedikit kegugupan yang ku rasakan. aku pun melangkah memasuki kamar dan duduk di meja rias untuk membersihkan wajah ku dengan alat pembersih muka. bang Rahmat sedari tadi memandang ku tanpa berkedip. aku pun berdiri menghadap nya dengan kunciran rambut yang tinggi yang memperlihatkan leher jenjang ku. ia seakan meneguk sliva dengan kasar. aku pun tersipu malu.
"sini sayang." ucap bang Rahmat. aku pun menghampiri nya. mungkin ini saat nya aku akan menyerah kan semuanya pada bang Rahmat. bukti cinta ku pada nya aku akan melayani nya dengan baik. aku berbaring di sisi nya ia menopang kepala nya dengan sebelah tangan nya. ia menatap ku lekat.
''sayang aku mencintai mu." setelah mengucap kan itu ia mencium bibir ku dengan lembut ******* nya. lama kelamaan ciuman nya menuntut. dari bibir turun ke leher. hingga aku mendesah ta tahan lagi dengan sentuhan yang bang Rahmat berikan. ia menggigit leher ku entah berapa kali. hingga ia menuntunku untuk melepas baju ku. terlihat jelas s*s* ku yang masih bulat kencang berukuran sedang yang menghadap ke wajah bang Rahmat. ia menyentuh nya sedikit me***s nya. aku pun menggigit ujung bibir ku. aku merasa area bawah ku mulai basah. hingga ia menyasap salah stu gunung kembar ku. dan yang satu nya di r***s nya. aku pun mendesah beberapa kali. ia melepas kan c**na ku dan dia. ia mulai membuka sekitaran p*h* ku. terlihat jelas berwarna pink aga mengkilat oleh c*i*n yang sudah membasahi area in**m ku. bang Rahmat mej*l*t nya dengan lembut. aku pun bergelinjang ta tahan. 30 menit pemanasan aku sudah beberapa kali bergelinjang ia belum memulai nya. ku lihat ke j*nt*n*n nya yang besar dan berurat membuat aku bergidik. apa kah bisa masuk. tanya ku dalam hati. aku sekilas membandingkan dengan punya mas Dion sangat jauh sekali. ia perlahan memulai nya dan aku pun menikmati nya. hingga kami bergumul berbagi keringat dengan ******* yang bersahutan dari aku dan bang Rahmat hingga kami mengulang nya beberapa kali hingga jam 3 pagi baru kami mengakhirinya. aku tersengal merasa lemas. hingga tertidur.
...****************...
aku pun terbangun ku lihat bang Rahmat tidak ada di sampingku. aku mengambil baju ku yang berserakan ku lihat jam dinding waktu menunjukkan jam 9. aku terlambat. aku gegas mengambil handuk dan sedikit berlari keluar kamar ku lihat masakan sudah siap di atas meja saat melalui meja makan ingin ke kamar mandi ku lihat sekitar tidak ada bang Rahmat. aku pun mengintip dari pintu tengah kulihat bang Rahmat sedang duduk di teras rumah. aku pun lekas mandi dan bersiap mengkodo subuh. setelah selesai aku menghampiri bang Rahmat di luar. ia tersenyum ke arah ku.
" terimakasih sayang," ia pun mengecup punggung tangan ku aku mencium pipi nya.
__ADS_1
"aku kenapa tidak di bangun kan.?" ucap ku dengan nada kecewa.
"aku tau kamu pasti kelelahan sayng setelah malam tadi."
"iya juga bang, badan ku pegal pegal. kamu kebanyakan minta,haha" ucap ku smbil tertawa. .
"sakit sayang aku lihat jalan nya kaya tidak seperti biasa nya."
aku mengangguk menjawab pertanyaan nya.
"tapi tidak pendarahan kan." ia seketika panik.
"engga sayang ini hanya sedikit luka karna lama
"sudah jangan bahas itu lagi nanti abang ga bisa ngontrol diri lagi. ayo kita makan bang. kaya nya sudah ada makanan di meja." ucap ku. kami pun berjalan menuju meja makan.
"ia abang tadi beli di warung ujung sana."
"klihatan nya enak bang." jawab ku.
kami pun makan sambil bercerita. hingga selesai kami pun duduk di teras rumah.
"syang nanti kita buka warung sembako didepan situ ya. mungkin itu dulu usaha yang kita bangun. abang masih mikir usaha apa yang cocok untuk abang.
__ADS_1
"boleh bang, Bunga setuju. nanti biar Bunga yang kelola. " usul ku pada bang Rahmat.
"nanti abang cari tukang dulu untuk bikin bangunan permanen nya. abang mau tanya sama Anto."
"sayng apa kita jenguk anak nya Anto hari ini. aku juga penasaran siapa istri nya. jangan jangan Tika yang ." ucap ku pada bang Rahmat.
"baik lah sekarang siap siap kita ke rumah sakit.!" ajak bang Rahmat.
saat aku bercermin kulihat bnyak tanda merah di leherku. aku pun melirik bang Rahmat ia pun nyengir tanpa dosa.
"maaf sayang khilaf" ia berujar sambil menangkupkan kedua tangan nya. aku pun menggeleng. aku mengoles kan foundation di leherku agar menutupi tanda merah itu.
"akhir nya tertutup juga.'' ucapku dangan senang.
"kenapa di tutup sayng. bagus lagi, jadi orang tau kalo kita penganten baru yang lagi hot hot nya. hee," ucap nya dengan genit.
''aku kan malu bang," ucap ku dengan menunduk. bang Rahmat menghampiriku dan memelukku.
"maaf sayang aku hanya bercanda."
"tidak apa bang, aku sudah siap ayo kita berangkat. " ajak ku.
kami pun berangkat menggunakan motor yang di belikan bang Rahmat dulu. kami berboncengan aku memeluk pinggang bang Rahmat. aku rasa perasaan ini tidak pernah aku rasakan bersama mas Dion dulu. sekarang aku sangat bahagia karna lelaki yang bersamaku sekarang sangat menghargai ku. terimakasih tuhan engkau memberi kan bang Rahmat pada ku.
__ADS_1
...****************...