
Kami menuruni terevel yang kami sewa. 5 jam perjalanan kami untuk menuju perkampungan yang kami tinggali sekarang di sini sangat sejuk. jauh dari keramaian. bang Rahmat membeli rumah ini sewaktu ia membantu sahabat nya yang terdesak karna istri nya ingin melahirkan secar. tanpa pikir panjang bang Rahmat pun membeli nya. rumah ini pun surat surat nya sudah atas nama bang Rahmat. kami memasuki pekarangan yang luas. rumah nya dari luar cukup luas dan masih sangat layak untuk di tinggali. hanya saja tidak terurus. banyak daun dan ranting yang tersebar di pekarangan rumah. aku pun mengikuti bang Rahmat menuju rumah itu.
"gimana sayang apa masih mau tinggal di sini.?" bang Rahmat bertanya pada ku.
"aku suka tempat ini. kita hanya perlu membersihkan nya saja bang." ucap ku dengan semangat. ia membuka pintu. tidak terlalu kotor hanya debu yang mendominasi. kami pun mulai membersihkan dari dalam rumah baru ke luar rumah sekitar jam 3 an baru semua nya bersih. kami pun duduk di teras dengan selonjoran. karna rumah ini belum ada perabotan apapun semua nya kosong. alat alat yang kami gunakan tadi masih ada di halaman depan rumah. bau bakaran dedaunan dan ranting menghiasi aroma sekitar.
tenot tenot suara penjual pentol yang ingin melewati rumah kami.
"bang,, beli,!" ucap bang Rahmat. ia pun berdiri ingin menghampiri tukang pentol itu.
"sayng mau ikut atau tunggu di sini saja.?" ucap bang Rahmat pada ku.
"sayang aku di sini saja cape. tidak apa kan!''
"ok,tunggu sebentar ya sayang.!" ia pun berlari kecil menghampiri tukang pentol itu. aku memperhatikan nya dari jauh. ia kelihatan begitu akrab dengan tukang bakso itu. ku lihat ia masih seumuran dengan bang Rahmat. setelah selesai tukang bakso itu tersenyum dan menunduk pada ku. aku pun menunduk dan membalas senyuman nya. bang Rahmat menghampiri ku setelah tukang pentol itu pergi. ku lihat ia membawa 4 bungkus es teh dan satu plastik pentol.
"ini sayang pasti laper kan. makan yang banyak ya.!" ucap nya sambil mengelus kepala ku.
"bang disini apa tidak ada warung. aku lihat dari ujung sana tidak ada warung pas kita masuk jalan ini tadi. ?"
"oh, warung ada di ujung sana sayang cuman hanya warung kecil. biasa nya orang sini kepasar yang dekat lapangan itu. satu Minggu sekali pasar nya buka.!" jelas nya pada ku sambil menunjuk lapangan yang tidak terlalu jauh dari rumah kami. di sini rumah memang tidak rapat tapi masih berdekatan.ada yang semi permanen dan juga ada yang masih papan. ta lama ada mobil truk pengangkut barang datang dan Satu buah pic up. ia memasuki pekarangan kami. bang Rahmat berdiri menghampiri supir tersebut. ku lihat ada 6 orang di sana. aku melihat motor ku di pic up itu. ya motor yang ku pakai sewaktu tinggal di kampung mas Dion. setelah sedikit berbincang ku lihat mereka langsung menurunkan barang barang tersebut dan menyusun nya di dalam. bang Rahmat mengambil amplop yang ada di tas selempang nya. sekitar 1 jam mereka selesai dan bang Rahmat memberikan amplop itu. mereka pun pamit undur diri.
"akhir nya beres semua nya." ia pun berinisiatif duduk lagi di sebelah ku. kami menikmati sore di teras rumah.
"sayang kita mulai kehidupan baru kita di sini. semoga tidak ada yang mengganggu kota lagi aamiin." ucap ku pada bang Rahmat.
__ADS_1
"aamiin, ayo kita masuk sayang.!" ajak nya. aku pun membawa sisa pentol tadi ke dalam rumah menuju dapur.
"suasana nya beda setelah diisi perabotan ya." bang Rahmat berujar.
"ia bang. aku tambah betah."
"ayo kita mandi sama sama. abang kunci pintu dulu ya.'' ia beranjak menuju ke pintu. aku pun menyiapkan baju ganti kami dan handuk. semuanya sudah lengkap tersusun di kamar ada lemari meja rias kasur dan keranjang baju kotor seta nakas di samping tempat tidur. aku pun keluar kamar menuju ke kamar mandi ya di rumah ini kamar mandi nya berada di dapur. aku menunggu bang Rahmat yang sedang menutup gorden. ia menghampiriku.
"kita mandi sama sama ya sayang." ucap nya dengan genit. aku pun mengguk ku rasa pipiku sudah memerah. ia menggiringku ke kamar mandi di sini hanya ada bak mandi dan ember besar.
'' bang aku ke kamar mandi sebentar ya" aku berniat membersihkan **** ***** ku dan melepas kan pembalut yang masih terlihat bersih tidak ada noda. karna sedari kemaren aku sudah selesai mens nya hanya saja takut masih belum habis betul. jadi aku masih mengenakan pembalut. setelah selesai aku masuk ke kamar mandi. kami pun mandi dengan bergantian menggosokkan badan. setelah selesai kami pun keluar. aku langsung menuju dapur membuka kulkas. ternyata sudah tersusun sayuran segar dan juga ikan beserta yang lain nya. aku pun mulai memasak bang Rahmat duduk di meja makan dengan menikmati teh hangat buatan ku tadi. ia memperhatikan ku begitu lekat.
"awal lo nanti jatuh cinta" dengan nada bercanda aku menggoda nya.
"sayang nya sudah terlanjur jatuh cinta gimana dong." jawab nya yang membuat aku malu.
"sayang kita sholat dulu. kamu sudah bersih kan" ajak nya.
"iya mas." kami pun mengambil wudhu dan sholat berjamaah. betapa bahagia nya aku memiliki imam yang sangat taat. semoga saja bang Rahmat tidak berubah seperti mas Dion. itu harapan ku dan do'a ku pada allah SWT. kami melanjutkan sholat isya karna setelah kami selesai kumandang adzan isya terdengar dari kejauhan. setelah selesai aku mencium tangan bang Rahmat ia mengecup kening ku.
"harapan ku apapun yang terjadi kamu akan tetap bersamaku." ucap nya dengan senyuman di bibir.
"ia bang, abang juga jangan pernah kelain hati atau pun ada niatan karna aku tidak akan rela." ucap ku dengan serius.
"pasti sayang. abang janji."
__ADS_1
ta berapa lama pintu pun ada yang mengetuk. Tok,,Tok,,. kami pun berpandangan siapa yang datang malam malam begini.
"siapa ya bang malam malam bertamu.?'' ucap ku bingung. ketukan nya pun seperti orang terburu buru.
"abang lihat dulu, kali aja penting." ia bergegas berdiri dengan masih menggunakan sarung baju koko dan lengkap dengan peci nya. aku pun gegas melepas kan mukena ku. aku juga penasaran siapa yang datang malam begini. aku mengiringi mas Rahmat dari belakang. ia membuka pintu ku lihat tukang pentol tadi dengan wajah yang cemas.
"maaf mengganggu kalian malam malam mat, anak ku sakit ia harus di bawa ke rumah sakit aku tidak punya biyaya. bisa kamu meminjamkan aku uang berapa pun asal aku bisa bawa anak ku. '' ia menjelas kan dengan raut wajah sedih.
"tunggu sebentar masuk dulu." ucap bang Rahmat dengan ekspresi panik pula.
"maaf mba aku menggangu malam malam." ujar nya pada ku kami sudah duduk di teras rumah ia di suruh masuk malah duduk di kursi teras. mungkin karna panik. ta berapa lama bang Rahmat kembali.
"ton, ini pakai aku hanya bisa bantu segini. cepat bawa anak mu ke rumah sakit. kami nanti menjenguk ke sana.uang itu tidak usah di ganti. " bang Rahmat berucap dengan sungguh sungguh. ada bulir bening jatuh di mata tukang pentol itu. ia menggenggam uang 3 juta yang di serah kan bang Rahmat.
"terimakasih mat, aku pasti akan ganti. aku permisi dulu. " pamit nya. belum sempat bang Rahmat berucap ia sudah lari karna kulihat ia kesini tidak menggunakan motor nya.
"semoga tidak terjadi apa apa ya bang pada anak nya. " harap ku.
"ia sayang. aku membayang kan bagai mana kalo di posisi Anton, teman yang aku datangi tidak bisa membantu padahal ada uang pasti hancur hatinya. " ia berujar dengan raut sedih.
"abang mau Bunga bikinin teh. kita duduk di sini aja dulu bang menikmati malam." usul ku.
"boleh sayang. tapi abang ganti baju dulu. '' ucap nya. aku kedapur dan bang Rahmat kekamar. setelah selesai membuat kan air teh aku menuju teras yang mana sudah ada bang Rahmat di sana.
malam ini pun kami berbincang tentang teman nya itu. yang aku tau nama nya Anton dan memiliki istri yang bernama Rastika Ningsih. ia baru menikah setahun ini. kata bang Rahmat istrinya satu kampung dengan ku apa mungkin Tika ya. tapi kan setau aku ia pacaran dengan Adi bukan Anton. lama juga tidak pernah menghubungi Tika. nanti ku coba untuk menghubungi nya.
__ADS_1
...****************...