
Pagi ini aku tidak bangun kesiangan lagi. karna malam tadi bang Rahmat tidak meminta hak nya. aku bersiap memasak di dapur. bang Rahmat terlihat baru selesai selesai sholat. aku menghampiri nya dan mencium tangan nya karna kami tadi tidak berjamaah.
''abang mau minum teh dulu apa nanti setelah makan...?" aku bertanya pada bang Rahmat.
"nanti saja sayang abang mau sarapan dulu. masak apa hari ini sayang..?"
"tumis kangkung campur telor orek sama ikan tongkol di goreng biasa." ucap ku menjelas kan.
"emm,, kelihatan nya enak." ucap nya.
" semoga tidak mengecewakan " ucap ku sambil tersenyum.
"ayo kita makan" kami baca doa masing masing dan makan sambil hening.
"sayang nanti abang akan ke bank sebentar narik uang untuk Angga dan Anto. kamu di rumah ya tunggu bahan bangunan datang." ucap bang Rahmat saat kami baru selesai makan.
"baik bang." jawab ku sambil membersihkan piring kotor bekas kami makan tadi.
"kamu mau nitip sesuatu...?"
"emm,, enggak deh hari ini mau jalan ke pasar aja nanti sore kan dekat lapangan sana.'' jawab ku.
sambil membuat kan teh hangat melati untuk bang Rahmat.
kami pun duduk di teras rumah sambil menikmati pagi kami. hingga Wati datang bersama dengan anak nya.
"maaf mengganggu apa kalian sibuk...?" tanya Wati setelah sampai di depan rumah kami.
"tidak Wat, kenapa. sini duduk.!" ajak ku.
"emm,, begini Bung aku ada perlu sama kamu. ucap nya ragu.
"ada apa ngomong aja Wat."
"aku mau pinjam uang untuk bayar sekolah Agus dan indah. hari ini harus bayar. karna sudah nunggak 2 bulan. kalo ada klo tidak ada tidak apa bung..!" bang Rahmat hanya diam ia menyaksikan interaksi kami. yang melihat Wati yang agak kebingungan.
"berapa Wat. yang kamu perlukan ...?" tanya ku lagi.
"emm,, 500 ribu Bung. maaf kalo tidak ada tak apa.!"
"tunggu sebentar aku ambil dulu wat" aku beranjak kedalam kamar untuk mengambil uang nya.
"ini uang nya"
__ADS_1
"terimakasih banyak bung, maaf merepotkan.
kata bang Angga nanti bayar nya bisa potong gajih nya saja.!" jelas nya.
"gampang itu soal nanti. yang penting anak mu bisa bayar sekolah dulu." ucap ku.
"oh ia malam ini kami mau kerumah bisa.?" tanya bang Rahmat.
"bisa, kami ada di rumah." ucap nya lagi.
"aku pamit dulu mau ngantar anak sekolah sekalian mau bayar. terimakasih banyak ya Bunga, Rahmat aku permisi...!" ucap nya.
"ia sama sama wat." ucap ku. Wati pun berjalan sambil menggendong anak nya pulang.
"sayang abang siap siap mau brangkat juga." ucap bang Rahmat.
ia pun menurunkan motor dari dalam rumah karna kami belum punya garasi. ia langsung menghidupkan mesin motor untuk memanasi mesin nya.
"abang hati hati ya." ucap ku sambil mencium tangan nya. ia pun mencium kening ku. bang Rahmat memasang helem.setelah itu meninggalkan rumah dengan laju motor yang pelan. aku pun masuk mengambil gaway ku. aku belum sempat ganti kartu. banyak pesan dari no baru. yang ku rasa itu mas Dion. ada juga panggilan dari ayah. aku mencoba menghubungi nya.
@aaaku. : assalamualaikum ayah.
@ayah : Waalaikumsalam sayang. bagai mana kabar mu dan menantu ayah....?
@ayak: alhamdulillah semoga sukses ya nak. ayah ikut senang.
@aku : ayah dan ibu sehat kan.
@ayah : Alhamdulillah sehat nak. nanti kapan-kapan kesi ya. ayah kangen.
@aku : iya yah klo urusan disini sudah beres Bunga dan Bang Rahmat akan berkunjung ke sana.
@ayah : ya sudah nak klo begitu ayah lanjut kerja lagi assalamualaikum.
@aku : Waalaikumsalam
aku pun mematikan sambungan dan ingin langsung menghapus pesan dari mas Dion tanpa
membuka nya. tapi ku urungkan aku akan memperlihat kan nya dulu pada bang Rahmat. mobil truk pun datang sopir nya turun menghampiri ku.
"maaf mba apa di sini rumah pa Leo Rahmat Aditama. " ia memperlihat kan nota pembelian.
"iya mas, saya istri nya."
__ADS_1
"baik, saya turun kan di mana mba....?"
" turun kan di sana saja mas tapi minta tolong semen nya di taruh di teras sini."
"baik mba..!" mereka pun menurun kan satu persatu bahan bangunan itu. aku ke dapur ingin membuatkan es sirup untuk mereka dan membawakan sisa bolu yang kami makan tadi.
"mas nanti di minum ya dan di makan kue nya '' aku sedikit berteriak agar mereka mendengar.
"ia mba, terimakasih."
aku pun duduk memperhatikan mereka. sekitar 1 jam baru selesai. karna untuk bata ko yang lama menurunkan nya. mereka pun minum dan makan kue terlihat kelelahan. keringat membasahi seluruh tubuh nya.
"maaf mas ini tanda terimakasih dari kami" aku menyodorkan uang 200 ribu karna mereka ber 4.
"seharusnya tidak perlu mba, ini memang tugas kami." ucap salah seorang karyawan.
"tidak apa itu rezki kalian." aku tersenyum ke arah mereka. setelah selesai mereka pamit. mobil pun berangsur meninggal kan halaman.
aku masuk dan mengunci pintu. aku ingin istrahat sebentar. rasa lelah mendominasi tubuh ku.
...****************...
Aku dan bang Rahmat duduk di ruang tengah yang terdapat tv untuk kami bersantai saat malam hari. Bang Rahmat datang sewaktu aku masih tidur. ia membawa kunci cadangan yang ia punya. ia membuka tas jinjing berukuran sedang.
"sayang abang tadi narik uang nya 100 juta. ini 20 juta kamu simpan untuk keperluan kita sekalian untuk keperluan kamu." ia menyodorkan dua gepok uang yang masih ada logo bank indonesia nya. aku pun menerima nya.
"baik bang." aku pun menerima uang itu.
"dan ini sayang nanti uang muka untuk Angga 5 juta dan untuk Anto 3 juta. nanti sambil kita bicarakan lagi tentang upah mereka." aku pun mengguk sambil memperhatikan bang Rahmat memasukkan uang ke amplop yang bernama itu.
setelah semua nya siap aku dan bang Rahmat pun makan siang.
"oh iya bang ini nota pembelian bisa abang periksa kembali bahan yang datang!" aku menyerahkan nota itu setelah selesai makan.
"baik. nanti kita periksa sama sama sayang." ajak nya. aku pun mengguk.
setelah memeriksa bahan nya ternyata pas semua malah batako nya di kasih lebih. kami pun duduk di teras. malam ini rencana nya kami akan berkunjung ke rumah Angga dan Anto. harapan ku semoga saja semua nya berjalan lancar.
" bang, Bunga mau memperlihat kan pesan dari nomer baru, Bunga tidak berani membuka nya. abang saja yang buka." aku menyodorkan gaway ku pada bang Rahmat. ia pun melihat semua pesan itu, lalu setelah itu ia mengeluarkan kartu dan mematahkan nya. entah apa yang sudah di lihat nya aku pun enggan bertanya.
"sayang kita beli kartu SIM baru untuk gaway kamu. kita berangkat sekarang. di sebelah sana ada counter. !" ajak nya aku pun mengangguk dan kami pun berangkat menuju counter.
...****************...
__ADS_1