
Pagi hari nya aku ikut ke kantor bang Rahmat. karna bang Rahmat tidak mau mengambil resiko dengan meninggal kan ku di rumah. setelah makan makan di rumah Bunga kecil kami berbincang dengan bunda nya bunga. ia bercerita kalo mereka hanya mengambil upah dari berjualan kerupuk itu. ia mendapat 500 rupiah dalam satu bungkus nya jadi kalo di hitung dalam 35 bungkus mereka dapat untungnya 17.500 aja dalam satu malam. pantesan kata bunga kecil mereka hanya bisa makan mie instan aja. aku juga dengar cerita kalo 2 tahun yang lalu ayah nya bunga kecil meninggal kan mereka dengan wanita lain. yang ku tau nama ayah nya Bagas Anggara. dulu mereka hidup bahagia di kontrakan setelah ayah nya bunga memutuskan untuk meninggalkan mereka. bunda tidak bisa membayar kontrakan lagi hingga memutuskan menyewa di bawah jembatan yang harga nya lumayan terjangkau yaitu 100 ribu perbulan nya.
"hey sayang ko ngelamun sih.!" ucap bang Rahmat di sela kemudi nya.
"aku sedang memikirkan nasip bunga kecil bang!" jelas ku.
"emm,, nanti kita coba bantu ya sayang.!" usul bang Rahmat.
"em,, beneran bang, terimakasih ya bang!" ucap ku smbil merangkul tangan nya bang Rahmat.
kami sampai di kantor, dan langsung ke ruangan atas. aku pun duduk di kursi tamu yang ada di ruangan Bang Rahmat. aku membawa leptop ku agar tidak bosan. sebelum nya aku melihat bang Rahmat menghubungi Ani salah satu karyawan untuk membelikan sarapan buat kami di kantin kantor.
tok,, tok,, "permisi tuan, saya bawakan pesanan tuan.!" Ani membuka pintu. dan terlihat ia membawa nampan berisi makanan.
"taruh di meja saja. terimakasih ya ni!" ucap ku sambil mengangkat leptop ku ke kursi. ia pun menaruh makanan itu di meja.
"sama sama non, saya pamit dulu." ucap nya sambil menuju ke luar.
"sayang ayo kita makan. !" aku mengajak bang Rahmat makan ia pun menghampiriku dan duduk .
kami pun makan dengan hening.
"bang nanti kita ke rumah bunga lagi ya.!" ajak ku.
"nanti sore saja ya sayang. kita cari kontrakan dulu buat bunga dan ibu nya. dan kita beli baju dan perabotan rumah untuk mereka. agar saat kita ke sana langsung mengajak nya pindah sayang!" usul bang Rahmat.
"benar juga. aku berniat mau menyekolahkan bunga kecil bang dan membuatkan warung kecil untuk mereka. nanti kalo bisa tempat nya yang strategi ya bang agar bisa berjualan.!" aku mengutarakan niat ku pada bang Rahmat.
''boleh juga. biar uang kontrakan dan sekolah abang yang nanggung. sedangkan perabotan dan modal kamu. gimana ?" ia meminta pendapat ku.
"emm,, " aku mengangguk dan melanjutkan makan.
"nanti siang kita kesana. hari ini kerjaan abng tidak bnyak bisa pulang cepat." jelas nya lagi.
aku pun mengangguk. menyetujui usulan nya. setelah makan ani kembali untuk membereskan bekas kami makan tadi. bang Rahmat kembali ke meja belajar nya. aku pun kembali melanjutkan novel ku. hingga siang hari kami berkutat dengan kesibukan masing masing.
"sayang aku sudah selesai nih. kita berangkat sekarang?" aku pun menutup leptop ku dan menaruh di meja bang Rahmat.
"ayo bang, aku tidak sabar mau ketemu dengan bunga kecil!" aku menghampiri dan menggandeng bang Rahmat. kami pun turun menuju ke mobil. saat di bawah kami sempat bertemu dengan Bagas suami ka maya. tapi kami mengabaikan nya. ia hanya melirik pada kami. terlihat ia sedang mengobrol dengan salah satu karyawan wanita di kantor.
__ADS_1
setelah itu kami meninggalkan halaman kantor. kami langsung mencari kontrakan untuk bunda dan bunga kecil. setelah dapat yang pas bang Rahmat langsung memesan perabotan melalui telpon. ia memesan perabotan dapur dengan lengkap. kami menunggu sekitar 1 jam di kontrakan itu akhirnya mobil bok datang membawa perabotan yang di pesan.
"langsung saja di susun di tempat nya." ucap bang Rahmat.
"baik tuan. ini nota nya.!"
setelah itu mereka menyusun semua perabotan rumah kami mengawasi kerjaan mereka. di kontrakan ini terdapat satu kamar, ada dapur dan ada ruang tamu yang kecil. bang Rahmat memesan peralatan dapur lengkap seperti kulkas mesin cuci, kasur, tv dan lemari baju. aku sangat bersyukur memiliki suami yang tingkat perduli nya sangat tinggi. selain ganteng ia pun dermawan. aku tambah cinta pada nya.
setelah semua selesai aku dan bang Rahmat mengunci pintu. karna rumah kontrakan pun sudah selesai di bayarkan sebelum perabotan datang. kami menuju ke kediaman bunga dan ibu nya. 45 menit perjalanan kami pun sampai dan menuruni mobil untuk menuju rumah bunga kecil. aku lihat dari ke jauhan ada seorang peria yang sedang marah marah pada bunda. kulihat bunga kecil bersembunyi di belakang bunda nya sambil menangis. kami pun lekas menghampiri mereka. ingin tahu apa yang sedang terjadi.
"cepat bayar. kalo tidak angkat kaki dari sini.!"
"maaf bang Broto, kami masih belum ada uang untuk melunasi tunggakan semua nya. tolong bersabar sedikit bang!" mohon bunda pada orang yang bernama Broto itu.
"ada apa ini bang?" tanya bang Rahmat.
"ibu ini sudah 4 bulan tidak bayar sewa rumah. ia selalu berkilah sakit dan tidak punya uang,!" jelas nya. bunga menghampiriku dan memeluk tubuhku. aku pun mengangguk pada nya. bang Rahmat terlihat mengambil uang di dompet nya ia menyerahkan uang 400 ribu pada lelaki itu.
"ini bang sudah lunas kan. dan saya mau ijin bawa bunda dan hunga pindah. abang bisa sewakan ke tempat lain. !" jelas bang Rahmat setelah menyerahkan uang itu.
''baik lah, silahkan saya permisi dulu.!" ia pun meninggal kan kami.
"tidak apa apa Bun, ini sudah rezki bunda melalui tangan kami. ayo kita siap siap. bawa seperlunya saja.!" ucap bang Rahmat pada bunda.
"tapi kita mau di bawa ke mana.?" tanya bunda bingung.
"pindah ke kontrakan . kami sudah menyiapkan semua nya.!" jelas ku pada bunda.
"nanti perabotan di sini kasih sama tetangga ja Bun, di sana sudah ada.!" jelas ku lagi.
"ia neng, saya masukin baju bunga sama baju saya dulu. !" ia pun masuk kami menunggu di luar. ta berapa lama bunda pun keluar membawa satu tas. setelah menutup pintu kami pun berangkat menuju pasar untuk membeli baju dan sembako. banyak penolakan yang terlontar di mulut bunda tapi tau sendiri kalo bang Rahmat tidak menerima penolakan. akhir nya bunda mengalah untuk membiarkan kami berbelanja untuk mereka. setelah selesai kami membeli makanan bunga kecil ingin makan KFC lagi. kami pun membeli nya. berniat makan di rumah baru mereka.
"terimakasih banyak tuan. entah bagai mana cara saya membalas nya.!" ucap bunda setelah kami sudah duduk di ruang tamu yang kecil hanya muat kami duduk. aku membantu bunga kecil menyiap kan makanan yang kami beli tadi.
"tidak apa , kami senang sudah bisa membantu kesulitan bunda!" bang Rahmat berucap sambil tersenyum.
"ayo kita makan...!" ajak ku pada mereka.
''bunda kalo makanan nya seperti ini terus Bunga bisa gendut ini." ucapan bunga membuat kami tertawa.
__ADS_1
"ah ia Bun, aku lupa ngasih uang pemberian ka Bunga waktu kemaren aku jualan. maaf Bun.!" ucap bunga dengan menggaruk kepala belakang nya yang ta gatal. ia mengambil tas nya dan menyerah kan uang 500 ribu itu.
"ini saya kembalikan saja tuan. tuan sudah membayar tunggakan sewa rumah td.!" ia menyerahkan uang itu.
"simpan saja Bun untuk keperluan bunda dan bunga kecil nanti.!" bang Rahmat mendorong sedikit tangan bunda ia menolak uang itu.
"tapi tuan...!"
"ets, ingat saya tidak menerima penolakan.'' belum selesai bunda menjelaskan sudah di potong ucapan nya oleh bang Rahmat.
"udah Bun, simpan aja.kami ikhlas ." tambah ku lagi karna melihat bunda ga sungkan.
"kapan makan nya ini bunga sudah lapar."rengek bunga kecil yang membuat kami tertawa.
"iya ayo kita makan!" ajak bang Rahmat. terlihat bunda memasukkan uang nya di dalam dompet lusuh nya. kami pun makan dengan gembira. aku merasa dapat keluarga baru. bunda sebenar nya bisa di panggil kaka tapi karna bunga kecil menyebutnya dengan bunda kami pun ikut menyebutnya dengan sebutan yang sama.
setelah makan kami duduk. bunga kecil terlihat senang ia sedang menonton tv. ada kebahagiaan yang aku rasa bisa membuat anak sekecil bunga tersenyum.
"rencana bunda ke depan nya apa...?" tanya ku lagi. bang Rahmat sedang menyeruput teh melati ke sukaan nya.
"saya mau dagang kue aja. ada modal yang tuan kasih tadi.!" jawab nya.
"klo misalkan buka warung sembako dan warung nasi kecil kecilan gimana Bun,di sini tempat nya strategis dekat dengan sekolah SD dan juga jalan raya.?" usul bang Rahmat.
"tapi modal saya tidak cukup tuan.?" jelas nya.
"kalo bunda setuju nanti istri saya yang memberi modal.!" usul bang Rahmat.
"beneran neng?" ia bertanya padaku aku pun mengangguk.
"ia bu. besok kita pesan bahan untuk bikin warung nya..!" ucap ku pada bunda.
"saya akan bayar perbulan pada neng ya. saya mohon jangan hanya di kasih. sudah terlalu banyak kalian membantu saya." ucap nya lagi.
"boleh, sebisa ibu aja saya tidak memaksakan.!" jelas ku pada bunda.
setelah berbincang kami pun pamit untuk pulang . karna jam menunjukkan jam 7 malam. kami pun belum melakukan sholat rencana kami akan mampir lagi di mesjid seperti waktu sholat zuhur dan ashar tadi.
...****************...
__ADS_1