Kebahagiaan Istri Yang Disia Sia Kan

Kebahagiaan Istri Yang Disia Sia Kan
bab 40


__ADS_3

      Bang Rahmat memandangku dengan lekat, kami berbaring di atas kasur. ia tanpa berkedip dan bersuara memandang ku. aku jadi tersipu malu.


"bang jangan mandangin Bunga begitu. bunga kan jadi malu." ucapku dengan menutup wajah ku menggunakan tangan.


"aku hanya merasa beruntung setelah perjuangan panjang ku akhirnya aku bisa menjadikan sahabatku ini istri. aku hanya tidak menyangka akhirnya apa yang aku ingin kan bisa terwujud. terimakasih sayang.


"abang boleh minta jatah abang sayng" ia menggerak gerakkan alis nya.


"eh,, itu,, emm,, maaf mas Bunga lagi datang bulan" ucap ku dengan rasa bersalah.


"Hem,, baik lah. berapa lama?" dengan wajah kecewa ia bertanya.


"3 hari lagi bang sudah bersih. sabar ya sayang 3 hari tidak lama ko." ucapku seraya mengecup ke dua pipi nya.


bang Rahmat pun mengajak ku tidur dan memelukku. kami terlelap di dalam satu selimut tanpa melakukan apa pun.


 Aku merasa geli di area aset ku yang berbentuk gunung. aku perlahan membuka mata ternyata ada bayi besar yang sedang menyusu. aku pun membiarkan nya berusaha untuk tidur. entah sampai kapan bang Rahmat menyusu aku sudah terlelap kembali. hingga pagi aku bangun bersiap untuk mandi dan sholat. aku menuju kamar mandi. setelah melepas kan baju aku melihat ada tanda merah yang di tinggal kan bang Rahmat. aku pun tersipu malu.


  Setelah selesai mandi aku gegas membangun kan bang Rahmat agar ia bangun. untuk membersihkan diri dan solat. kali ini tanpa aku yang menjadi makmum nya.


"bang bangun udah siang nanti telat sholat nya. " ucap ku berusaha membangun kan nya yang masih dalam selimut hanya memaki celana pendek tanpa baju. ia membuka mata nya dan menarik ku. hingga aku berada di atas tubuh nya.


"sayang aku sudah bangun dari malam tadi hanya saja tidak bisa apa apa!" ia berucap aku pun mengerti ke mana arah pembicaraan nya. aku pun tersenyum.

__ADS_1


''maaf bang, aku mengecewakan mu.'' ia langsung melahap bibirku dengan penuh nafsu. aku pun menerimanya. ciuman nya menuruni aset ku. aku pun membiarkan nya. untuk ia melampiaskan hasrat nya. setelah beberapa saat ada yang berkedut di bawah nya yang mengenai paha ku. aku merasakan nya. hingga ia mengakhiri semua nya.


"maaf," ia berujar dan bangkit. terlihat basah di celana nya. bang Rahmat menuju kamar mandi. aku pun merapikan pakaian ku dan duduk di meja rias mengeringkan rambut ku. saat ia keluar aku sudah siap. ia tersenyum pada ku aku pun membalas nya. sekarang ia yang duduk di meja rias aku membantu nya mengeringkan rambut dan menyisirnya. setelah selesai ia pun kembali mengambil air wudhu untuk sholat.


"bang aku turun ke bawah duluan ya.'' ucap ku pada nya. ia pun mengangguk.


...****************...


    setelah 3 hari dan sudah ijin pada ayah dan ibu kami hari ini berangkat untuk pulang ke rumah yang bang Rahmat maksut. hari ini ibu dan ayah libur kerja karna hari minggu. kami sedang di ruang tamu. karna rencana nya kami berangkat aga siangan.


"sayang sudah kamu siapkan semua keperluan mu. ?" tanya ayah.


"sudah yah. dan ini ATM Bunga," aku menyodorkan ATM ku pada ayah. karna ku kira peraturan ayah tetap lah masih berlaku.


"simpan saja. ayah tidak mau menyimpan nya lagi. " ucap ayah lagi.


"kamu pasti membutuh kan nya. " ayah tersenyum pada ku.


"terimakasih yah."


"bawa saja mobil ibu nak, biar ibu sama ayah berangkat kerja nya supaya ayah tidak melirik gadis muda lagi ,hee,,,!'' dengan tertawa ibu berujar.


"kapan ayah melirik gadis...?" ayah menjawab dengan sebelah alit terangkat.

__ADS_1


"tidak ada. hanya jaga jaga saja" jelas ibu..


" dasar cemburuan nya tidak pernah hilang" ucap ayah seraya memeluk ibu. aku dan bang Rahmat yang duduk bersebrangan melihat tingkah ayah dan ibu seperti pengantin baru saja. aku hanya menggeleng kan kepala.


"bang kalo sudah begini kayak nya aku bakalan punya adek deh, haha!"


"ia syang, kita liat siapa yang duluan lahir ade kamu atau anak kamu ya. hahaa." bang Rahmat pun menimpali candaan ku. ayah dan ibu terlihat melotot kearah kami.


"kalian ini sama saja ya." ucap ayah. dengan pipi memerah.


"mending kalian saja yang cepat cepat bikin cucu untuk kami." ibu menimpali ucapan ayah.


" gimana mau bikin yah orang lagi tanggal merah gini." ucap Bang Rahmat yang di tertawakan ayah dengan terpingkal pingkal. ia pasti mengerti apa yang bang Rahmat rasakan.


"yah harus puasa dulu deh. kasian menantu ayah. hahahaha..." dengan nada mengejek ayah berucap.


" ibu, jangan kasih ayah jatah malam ini biar ia tau gimana rasa nya jadi aku." bang Rahmat menghampiri ibu dan bergelayut di tangan nya ia memohon.


"yah kita ke kamar saja yo. kita bikinin ade buat Bunga." ajak ibu dengan wajah serius. ayah malah tertawa mendengar perkataan ibu. bang Rahmat terlihat tambah kesal dengan tingkah ibu.


"mertua tidak pengertian ya ini ni." ia berujar sambil menyilangkan kedua tangan nya di dada dan memajukan bibirnya.


"sudah sudah. ko malah begini sih." aku mencoba menengahi.

__ADS_1


"kamu juga bang kurang kerjaan ngeladeni mereka. lagian terlalu jujur sih habis kena batu nya.." ucap ku pada bang Rahmat.


...****************...


__ADS_2