Kebahagiaan Istri Yang Disia Sia Kan

Kebahagiaan Istri Yang Disia Sia Kan
bab 48


__ADS_3

    Setelah kami pulang dari rumah Angga dan Anto kami pun pulang, terlihat dari kejauhan ada sepeda motor yang terparkir di sebrang rumah. kami pun menghentikan motor kami untuk melihat gerak gerik orang itu. ia terlihat menatap ke rumah kami entah apa yang ia lihat. tapi gelagat nya sangat mencurigakan. hingga ta berselang lama ia pun pergi. kami pun melanjutkan menuju rumah setelah kami lihat orang itu sudah meninggalkan tempat nya tadi.


"siapa ya bang orang tadi. ko mencurigakan.?" tanya ku setelah memasuki rumah.


"abang juga tidak tahu. tapi dari gelagat nya ia ingin merencanakan sesuatu.!" bang Rahmat menjelas kan kecurigaan nya.


saat kami ingin bersiap tidur terdengar suara ranting patah yang terinjak di sebelah jendela kamar kami. aku dan bang Rahmat saling pandang.


"abang akan lihat dari pintu belakang."


"aku ikut bang...!" ucap ku dan gegas mengiringi langkah bang Rahmat, sampai di samping rumah terlihat seseorang sedang memegang jeligen 5 liter an sedang mengguyurkan cairan kesekitaran rumah kami. ia memakai jaket yang menutupi kepala nya hingga tidak terlihat wajah nya. ia sambil memandang sekeliling seperti takut ke tauan.


"hey,,, siapa sedang apa kamu..!" bang Rahmat berteriak dan mengejar orang itu hingga ia menaiki motor nya yang ada di sebrang jalan. ia menyalakan motor nya dan pergi dengan kecepatan tinggi. aku dan Bang Rahmat tidak bisa mengejar nya lagi. kami pun kembali ketempat tadi. ternyata ia mengguyurkan bensin. berniat ingin membakar rumah yang kami diami. apa kah itu mas Dion. tanya ku dalam hati.


"bang ini bensin!"


"ya, ia berniat membakar rumah kita."


"lalu bagai mana bang"


"nanti kita lapor pa Rt." kami pun kembali ke dalam kamar untuk beristirahat. sebenar nya siapa apakah memang mas Dion. tapi apa mau nya. dengan mengusik kehidupan kami lagi. atau kah ada orang lain yang tidak suka dengan kami.


...****************...


   3 bulan berlalu ruko sudah jadi dan penguntit itu pun tidak pernah muncul lagi. . kehidupan kami damai. usaha kami mulai berjalan. kami pun hidup dengan damai. hari ini ada tetangga baru yang mendiami rumah bersebelahan dengan ku. mobil barang terlihat parkir di halaman rumah nya. ku lihat seperti nya ta asing wajah nya di mata ku. aku berjalan meninggal kan toko untuk menemui nya.


"assalamualaikum, baru pindahan mba...?" sapa ku. ia melihat ke arahku. terlihat umuran nya seperti bang Rahmat.


"ia mba, mba yang punya toko itu..?" tanya nya.


" ia mba benar, nama saya Bunga. !" aku memperkenal kan diri.

__ADS_1


"Sarah,,!" ia ta menjawab salam ku dan ta menerima uluran tangan ku. kelihatan dari wajah nya ia sedikit angkuh. aku merasa canggung dan pamit. niat ku ingin beramah tamah tapi tidak di sambut dengan baik.


"kalo begitu saya pamit dulu permisi.'' ucap ku. aku pun berlalu meninggalkan nya.


"sayang dari mana...?" tanya bang Rahmat pda ku.


"dari sebelah sana bang, ada tetangga baru yang pindah. aku ingin menyapa nya niat hati ingin beramah tamah tapi ia ta merespon dengan baik!" jelas ku.


"mungkin karna belum terbiasa sayang." ucap bang Rahmat menenangkan ku.


"semoga saja bang" jawab ku lagi.


  ta berapa lama mobil bok datang. kami pun memeriksa barang yang datang dan menyusun nya.


"permisi mba ada jual tisu...?" tanya perempuan yang baru pindah tadi.


"ada mba, mau yang ukuran besar, sedang kecil." jawab ku sambil bertanya kembali.


"besar saja," aku pun mengambil kan tisu pesanan nya. ku lihat ia memandangi bang Rahmat dengan lekat. hingga ta merespon ucapan ku. aku pun mengeraskan sedikit suara ku agar ia tersadar.


"dia siapa mba....? ia mengambil tisu itu sambil menunjuk ke arah bang Rahmat.


"oh itu bang Rahmat nama nya. ia suami saya.!" aku masih mencoba ramah.


" oh. brapa mba?"


"19 ribu." ia menyodorkan uang pas. lalu pergi.


aku pun kembali membantu bang Rahmat. Anto sekarang bekerja di bagian gudang kami. ia bekerja sebagai tukang antar kalo ada pesanan yang banyak dari tetangga.


"to, kamu kenal dengan wanita tadi...?"

__ADS_1


"yang baru beli tisu itu yang kamu maksut Bung...!" ia memastikan. aku pun mengangguk.


"oh, itu anak almarhum pa Husen. Ia dulu tinggal di kota. tapi kata nya setelah bercerai dengan suami nya ia memutus kan pindah ke sini. hati hati Bung dengan dia. ia sudah 7 kali menikah terakhir suami nya itu hasil merebut dari tetangga nya yang rumah nya itu. sekarang yang istri tidak tinggal di sini lagi. rumah nya kosong. ia pulang kampung. itu terjadi sebelum aku menikah dangan Tika." jelas nya panjang lebar dan menunjuk ke arah rumah kosong yang ada di sebelah rumah yang baru di tinggali nya. bang Rahmat baru datang dari rumah.


"ada apa ini ko kelihatan nya serius sekali.?"


"tidak ada bang. hanya ngobrol sedikit dengan Anto.!" jawab ku singkat.


hari ini pun seperti hari hari biasa nya. toko ramai. dan kami pun melayani bon setengah bulanan. yang kebanyakan nya suami ibu ibu di sini kerja di kandang ayam yang setiap setengah bulan dapat pinjaman dari bos mereka. sejauh ini aman dan lancar. Anto juga di sibukkan dengan pengantaran barang ke beberapa rumah tetangga dan juga ke sebelah kampung. karna warung sembako ku termasuk yang lengkap di 2 desa ini. makan nya mereka banyak yang berlangganan di sini.hingga sore hari kami baru bisa bersantai.


"permisi mas, bisa bantu saya masang lampu di ruang tamu?" Sarah datang menghampiri bang Rahmat. aku dan Anto saling berpandangan.


"biar saya aja mba yang masangin." ucap Anto dengan tiba tiba.


"tidak, abang terlalu pendek tidak akan sampai kalo masang!" kilah nya.


"kan bisa pake kursi.!" jawab Anto lagi memaksa.


"sudah biar aku saja." ujar bang Rahmat. Sarah terlihat menyunggingkan senyuman licik.


"aku ikut bang!" ucap ku yang di angguki bang Rahmat. terlihat wajah Sarah sangat keberatan. kami menuju ke rumah Sarah beriringan dengan bang Rahmat yang menggandeng tangan ku.


sesampai nya di rumah Sarah ia membuatkan minuman kopi hanya untuk bang Rahmat.


"maaf saya tidak minum kopi.' ucap bang Rahmat setelah memasang lampu di ruang tamu.


"saya bikinin teh aja mas" tawar nya dengan suara genit. ia pun memakai baju yang sangat minim. belahan dada nya terlihat sengaja menunduk menaruh kopi itu di hadapan bang Rahmat.


"tidak usah. saya dan istri saya langsung saja pulang karna masih ada kerjaan di toko." ucap bang Rahmat dan langsung menggandeng tangan ku untuk mengajak pulang. kami pun berlalu menuju toko. terdengar Sarah sedikit menggerutu.


"sayang ia ko bertingkah aneh ya di depan mu. apa ia menyukai mu...?" jelas ku dengan rasa ta enak dengan tingkah Sarah terhadap bang Rahmat.

__ADS_1


''sudah lah sayang. aku juga tidak menggubris nya. karna ada bidadari cantik yang sudah menemani ku." ucap nya dengan mengelus pipi ku..


...****************...


__ADS_2