
kami berada di dalam kamar. saat ini bang Rahmat sedang mandi di kamar mandi aku duduk di balkon. saat kami pulang tadi yang lain sudah selesai makan dan duduk di ruang tamu. aku melihat Bagas sedang menatap ku nyalang aku di anggap nya seolah menantang nya. aku memegang erat tangan bang Rahmat. Bang Rahmat sangat marah terhadap Bagas. hingga ia langsung menghadiahkan bogeman mentah di wajah nya. aku hanya melihat ka Maya dan mama Laras mencoba melerai nya. mereka tidak tau dengan apa yang sudah terjadi. Bagas tersungkur dengan bibir berdarah.
"jangan main main terhadap ku. kalo kamu mau masih tetap tinggal dengan tenang. kamu kira aku tidak tau semua nya bahkan kesalahan mu di perusahaan sudah ada bukti.!" ucap bang Rahmat dengan lantang. hingga membuat mata Bagas membelalak. entah apa yang sudah Bagas perbuat di perusahan. ia ta sedikit pun ber kutik. hingga mama Laras dan Maya menanyakan yang terjadi tapi bang Rahmat hanya mengabaikan nya dengan menuntun ku ke kamar.
"sayang, sedang apa kamu di sini...?" bang Rahmat datang membuyarkan lamunan ku.
"eh, bang. sudah selesai mandi nya.?" aku balik tanya.
"sudah sayang!".
"bang aku ingin makan sesuatu lagi,boleh?"tanya ku dengan wajah yang ku buat imut.
"makan apa sayang...?"
"aku ingin makan sesuatu yang ada di pasar malam.!"
"baik lah ayo siap siap kita akan berangkat ke pasar malam." ajak nya. aku pun ke girangan langsung memeluk nya sekilas dan berlari untuk mengganti baju. terlihat bang Rahmat menggelengkan kepala nya.
saat sudah siap aku dan bang Rahmat menuruni tangga. ku lihat mama Laras ,ka maya ,dan Bagas masih duduk di ruang tamu.
"lihat ma, perempuan ini pasti sudah puas karna memfitnah Bagas...?" ucap ka maya mengadu kan yang tidak tidak pada mama Laras.
terlihat Bagas menyunggingkan senyum.
"kamu jangan asal ka may, nanti kamu bakalan tahu siapa Bagas ini sebenar nya. siap siap saja dengan kejutan yang akan aku kasih,..!" jelas bang Rahmat. mama hanya diam 1000 bahasa. ia tak ingin ikut campur karna ia ta tau masalah nya.
"Bunga sayang kalian mau ke mana...?" ucap mama Laras sambil tersenyum ke arah ku.
"mau ke pasar malam ma, mama mau nitip sesuatu....?"
"em,, mama minta belikan jajanan pasar aja deh ya.!" ia dengan antusias mengatakan nya.
"baik ma nanti Bunga belikan.!"
"ka maya mau titip juga...?" tanya ku
"tak Sudi, !" ucap nya sambil mengalihkan muka.
"sudah sayang biarkan saja. nanti juga dia akan menangis mencari mu.!" bang Rahmat menarik tangan ku.
''kami pamit dulu ma!" ucap ku pada mama Laras.
"hati hati sayang"
"ia ma"
kami pun menuju mobil. setelah itu mobil perlahan meninggal kan tempat nya. hingga 45 menit perjalanan kami pun sampai. banyak wahana permainan di sini tapi aku hanya tertarik dengan jajanan nya saja. hingga aku menarik bang Rahmat ke area jajanan. mata ku sangat di manjakan dengan berbagai makanan yang berjejer. aku mengambil dengan semangat. hingga banyak sekali.
"bang kita duduk di lesehan sana aja ya, sambil makan ini." aku menenteng semua belanjaan ku.
"baik lah,!" ucap bang Rahmat sambil tersenyum.
kami pun makna di lesehan itu sambil melihat banyak anak anak yang bermain.
ta berapa lama ada anak yang menawarkan dagangan nya terhadap ku. umurnya kisaran 7 tahunan.
"ka kerupuk udang?"
__ADS_1
"berapa satu nya de.?"
"5000 ka.!" ucap nya dengan wajah berbinar.
"kaka beli 2 ya!" ucap ku lagi. ia membungkus kan pesanan ku.
"kamu sendirian.?" tanyaku pada nya.
"ia ka. biasa nya sama bunda tapi bunda lagi sakit ka." jelas nya.
"bunda sakit apa dek?"
"sakit demam ka. ini ka kerupuk nya 10 ribu.!" ucap nya sambil menyerah kan keresek berisi kerupuk udang yang aku pesan.
"ini uang nya. dan ini untuk kamu ya kasih sama bunda hati hati hilang.!" aku menyerahkan uang 10 ribu dan uang 500 ribu. aku sangat iba pada nya usia sekecil itu harus ikut banting tulang untuk menafkahi keluarga.
"ini beneran untuk Bunga ka" ia bertanya memastikan.
"nama kami Bunga?" tanyaku memastikan. bang Rahmat hanya memperhatikan kami ber dua.
"ia ka, nama ku Bunga Jainal ka,emang nya kenapa ka.?"
"sama dengan nama kaka dong.!"
"yang benar ka" ia tersenyum sumringah.
"sini kaka jual kan dagangan mu kamu tunggu sebentar ya..!" ujar bang Rahmat ia pun mengangkat keranjang dagangan itu dan menaruh di depan kami duduk.
"kerupuk nya pa bu ka ayo di beli. khusus hari ini beli 2 gratis satu...!" bang Rahmat berteriak teriak menawarkan dagangan Bunga.
"Nama kaka Bunga Sanjaya. salam kenal. sini duduk kita makan jajanan ini. biarkan ka Rahmat yang jualan.!" aku menepuk karpet di sebelah ku ia pun menghampiriku. ku lihat bang Rahmat masih asik berjualan ada beberapa pengunjung yang menghampiri nya.
"hanya ber dua dengan Bunda saja ka. ayah sudah lama meninggalkan kami dengan tante." ucap nya. yang ku tangkap berarti ayah nya meninggalkan mereka karna wanita lain.
"kamu tinggal di mana sayang?" tanya ku lagi.
"di dekat jembatan layang sana ka!" ucap nya.
"memang nya ada pemukiman di sana de, setau kaka tidak ada.!" aku bertanya lagi karna heran. aku sering lewat di sana tapi tidak ada pemukiman kadang aku hanya sekilas melihat anak anak bermain di bawah jembatan.
"ada ka. tepat di bawah jembatan nya kami menyewa di sana. !" jelas nya.
''kaka boleh ikut ke rumah Bunga. mau jenguk bunda nya bunga..!" aku meminta ijin pada nya. aku menyodorkan jajanan pada nya. ia pun menerima nya. ia terlihat sangat tidak terawat. ikatan rambut nya seadanya dan baju yang lusuh.
"boleh ka, !" sambil mengunyah ia menyahuti ku.
bang Rahmat menghampiri kami dengan keranjang yang sudah kosong.
"ini Bunga dagangan nya sudah habis dan ini uang nya 165ribu karna tadi kerupuk nya ada 33 bungkus." jelas bang Rahmat.
"terimakasih ka.kalo begitu aku langsung pulang ya ka. bunda pasti sudah menunggu di rumah.!" ia memasukkan uang di dalam tas kecil nya dan ijin mau pulang.
"tunggu biar kaka antar ya. sekalian mau lihat bunda nya Bunga." ucap ku.
"boleh ka." ucap nya lagi. aku memasukkan sisa jajanan yang belum habis ke dalam pelastik. setelah itu aku mengisyaratkan pada bang Rahmat bahwa aku mau ke rumah Bunga. ia pun mengangguk setuju.
setelah naik di mobil kami langsung menuju jembatan yang di maksud.
__ADS_1
''bang kita mampir di KFC dulu ya bang.!" usul ku.
"baik syang.!" ucap bang Rahmat. ku lihat Bunga sangat senang naik di dalam mobil ia melihat ke luar dari kaca mobil. aku pun tersenyum saat menoleh ke belakang.
bang Rahmat pun memasuki parkiran KFC.
"sayng biar aku saja yang turun kamu tunggu di sini temani Bunga.!" aku membuka pintu mobil sambil berkata. ku lihat bunga memandangi ke arah KFC.
"Bunga tunggu di sini dulu ya sayang..?" ucap ku ia pun mengangguk.
aku pun menuju ke dalam menemui karyawan KFC. aku memesan 30 paha ayam untuk di bungkus beserta nasi nya. aku berniat ingin makan di tempat Bunga. setelah selesai membayar aku kembali ke mobil.
"sudah syang...?" tanya bang Rahmat.
"sudah syang. kita beli air mineral aja lagi.!" ucap ku pada bang Rahmat. kami pun mampir di alfa. setelah membeli satu dus air mineral kami langsung menuju rumah Bunga kecil.
Setelah sampai kami pun turun bang Rahmat membawakan dus air mineral aku membawa ayam KFC dan nasi. Bunga kecil berjalan di depan kami. banyak anak anak masih bermain di jam segini. aku sangat kasian seperti nya orang tua mereka sedang bekerja. kami memasuki bawah jembatan dengan sedikit menunduk. aku merasa takjub di bawah jembatan ini seperti perkampungan. banyak berjejer pintu pintu rumah yang dindingnya triplek di bikin seperti rumah susun. kami sampai di sebuah pintu yang sudah sedikit rusak. Bunga kecil membuka pintu. di dalam rumah ini sangat sempit. hingga saat membuka kami sudah dapat melihat bunda nya bunga yang berbaring di dalam selimut.
"assalamualaikum. bunda , Bunga pulang. bunda bawa ka Bunga dan ka Rahmat.!" jelas nya. terlihat bunda nya bunga mencoba untuk duduk.
"eh, ada tamu ya. maaf berantakan neng.!" ucap nya setelah ia sudah duduk.
kami hanya tersenyum.
"silahkan duduk.!"
kami pun duduk di dekat pintu. bunda nya bunga membenarkan hijab nya.
"maaf bu saya mengganggu malam malam. saya bertemu bunga kecil di pasar malam. saya yang minta ijin ingin kesini menjenguk bunda.'' jelas ku.
"tidak apa apa neng. tapi ya begini tempat nya kumuh neng."
"tak apa Bun, boleh sya numpang makan di sini. saya lagi ngidam Bun.?" ucap ku pada bunda. terlihat wajah nya berubah sendu.
"boleh saja neng, tapi bunda sedari pagi tadi tidak punya apa apa.!" jelas nya. aku pun merasa iba dengan keadaan mereka.
"tidak usah repot Bun, saya sudah bawa makanan ke sini kita makan sama sama ya Bun." jelas ku.
"ko jadi kelihatan ngerepotin neng jadi nya. itu di samping neng suami nya neng.?" bunda melihat bang Rahmat tidak membuka suara dari kami datang tadi makna nya ia bertanya.
"ia bunda saya suami nya Bunga. kebetulan nama anak bunda sama dengan nama istri saya.! jelas bang Rahmat. bunda pun terlihat tersenyum.
"sayang tolong ambilkan piring ya nak.!" ucap bunda pada anak nya karna melihat ku mulai membuka bungkusan.
setelah bunga kecil mengambilkan piring dan menyerahkan nya pada ku. aku pun menyiapkan nya.
"sudah lama ya Bun kita tidak makan enak. biasa nya hanya makan mie instan saja." celetuk Bunga kecil. aku merasa sangat perihatin dengan kehidupan Bunga kecil.
"ini sayang makan yang banyak ya, nanti tambah lagi ya kaka beli banyak!" aku menyodorkan nasi dengan isi paha ayam dua.
"ok ka, terimakasih." ucap nya dengan sedikit berteriak.
"sama sama syang!" ucap bang Rahmat sambil mengelus kepala Bunga kecil kami pun tertawa melihat tingkah nya.
"ini untuk bunda. jangan sungkan kalo mau tambah ya Bun," ucap ku pada bunda. ia pun mengangguk.
kami makan bersama dengan di selingi candaan dari bunga kecil. ia terlihat lahap sekali hingga menghabis kan 4 potong paha ayam. bunda juga menghabiskan 2 potong paha ayam. aku sangat bahagia bisa sedikit membantu mereka.
__ADS_1
...****************...