
Pagi ini aku sudah bersiap untuk kepasar. Nina sudah ku mandi kan dan ku suapi tadi. mas Deni ternyata malam tadi tidak pulang. kami pun sudah siap untuk berangkat. Nina ku gendong di punggung ku. dan aku membawa bakul yang sudah di sisi dengan buah pepaya yang sudah ku serut dan ku bungkus subuh tadi. kami pun menaiki angkot menuju ke pasar. setelah sampai aku menggelar karung ku untuk menaruh pepaya serut yang sudah ku bungkus dan menyusun nya, sambil ku hitung. lumayan banyak ada 35 bungkus.
"bismillah semoga cepat habis.!" ucap ku.
"bu sayur pepaya muda nya sudah di serut tnggal di masak di rumah peraktis!" teriak ku menawar kan pada pengunjung pasar yang sedang lewat di depan lapak ku.
"Tasya, benar ini kamu?" tanya salh seorang laki laki ia bersama teman perempuan nya.
"ia benar, kamu Ikbal ya!" tanya ku sambil menerka nama nya.
"ia sya, kamu jualan di sini?" ucap nya lagi.
"ia Bal, hee,,!" ucap ku sambil tertawa. ia teman waktu sekolah dulu.
"kamu ngapain di sini.?" tanya ku lagi ia berjongkok di samping dagangan ku. si teman wanita nya hanya berdiri sangat kelihatan dari wajah nya kalo ia tak suka aku mengobrol dengan Ikbal.
"aku di sini hanya jalan jalan ke tempat keluarga sya, kenalkan ini indah sepupu ku.!" jawab nya. aku pun mengangguk ke pada indah. tapi ia malah membuang muka. seperti nya ia cemburu.
"sya, Martin nyariin kamu lo.!" ucap nya lagi. ya Martin adalah teman kami waktu sekolah dulu.
"hemm,," aku berdehem. karna Martin dulu ia sempat mengatakan perasaan nya pada ku tapi aku tolak aku saat itu sudah dengan mas Deni.
"hey siapa adik kecil ini imut sekali!" ucap nya sambil mengelus kepala Nina.
"ini Nina anak ku Bal,!" ucap ku pada Ikbal sambil tersenyum.
"lucu sekali sya. berapa umur nya.?" tanya Ikbal lagi.
__ADS_1
"baru 3 tahun !" jawab ku singkat. ia merogoh kantong dan mengambil dompet. ia mengeluarkan uang dari dompet nya.
"sya ini buat Nina, lain kali kita ketemu lagi. boleh aku minta nomer hp mu!" ucap nya. sambil menyerahkan uang 500 ribu pada ku.
"sya terima ya aku ngasih anak mu!" ucap nya lagi. aku melihat ke arah Indah yang masih berdiri. ia membuang muka.
"ah, kamu sya kelamaan!" ucap nya sambil tersenyum dan mengambil tangan kanan ku serta menaruh uang itu di tangan ku.
"terimakasih Bal, em,, aku ga punya hp bal, hee,,!" ucap ku sambil tertawa kecil.
"em,, baik lah. semoga kita ketemu lagi ya.!" ucap nya.
"dah Nina cantik om pergi dulu ya!" Nina terlihat tersenyum pada Ikbal .setelah itu ia beranjak dari duduk nya.
"sya aku pergi dulu ya!" ucap nya pamit dengan ku aku pun berdiri dan tersenyum pada mereka.
"Alhamdulillah, dapat rezki tambahan.!" gumam ku sendiri sambil duduk.
Hingga jam 12 siang dagangan ku belum habis masih tersisa 15 bungkus. aku lihat Nina sudah lelah. ku putus kan untuk pulang sambil menjajakan sisa dagangan ku. Nina ku gendong di punggungku lagi dan aku menenteng bakul yang masih ada isi nya. aku menaiki angkot tapi aku berhenti jauh dari gang biasa aku turun.
"bunda kenapa kita turun di sini.?" Nina bertanya.
"bunda mau jualan lagi sayang ga papa kan. !" jelas ku. Nina pun mengangguk. aku pun menjajakan dagangan ku dari satu rumah ke rumah lain nya. hingga sampai di rumah ku.
"masih sisa 5 bungkus!" ucap ku dalam hati. aku berniat ingin memberikan ke tetangga dan mama mertuaku. dari pada terbuang pikir ku. aku pun mandikan Nina dan memberi nya makan. setelah itu ku masukkan Nina ke dalam ayunan. terlihat sekali Nina sangat lelah karna ia ikut berjalan. ta membutuhkan waktu lama Nina pun tertidur. aku gegas mengambil bakul ku dan pergi ke rumah tetangga. Alhamdulillah nya tetangga ku mau malah ada yang mau membeli. setelah tersisa 2 bungkus aku langsung menuju rumah mertuaku.
"Assalamualaikum mas, mama ada?" tanyaku pada mas Deni yang sedang duduk minum kopi seraya menikmati kue bolu.
__ADS_1
"ada di dalam masuk aja!" ucap nya sambil masih melihat ke layar hp tanpa melihatku bahkan ta menanyakan Nina. aku pun masuk. mama terlihat sedang menonton tv di ruang tengah.
"ma, ini Tasya ada bawa sayur pepaya muda. untuk mama nanti menyayur!" ucap ku sambil menaruh bakul ku dan mengeluarkan 2 bungkus sayur pepaya.
"ga usah ya, aku ga butuh sayuran seperti itu. nanti rematik ku kambuh!" ucap nya. aku pun memasukkan lagi bungkusan pepaya itu.
"ya sudah ma tasya pulang dulu.!" ucap ku sambil beranjak. aku ta menyalimi tangan nya karna ia kelihatan fokus menonton tv. menyahut pun tidak. aku pun gegas keluar dari rumah mertua ku.
"mas aku pulang dulu!" ucap ku pada mas Deni.
"Hem,," ia hanya berdehem. aku pun langsung gegas pulang takut nya Nina bangun. sambil berlari kecil.
"eh neng tasya, kenapa lari larian?" tanya bu Hindun pada ku.
"ga papa bu. saya hanya takut Nina bangun karna ia di rumah sendirian.!" ucap ku setelah berhenti berlari di hadapan bu Hindun.
''oh, apa yang kamu bawa sya?" tanya bu Hindun lagi.
"ini bu sayur pepaya sudah di serut, sisa jualan tadi ga habis. ibu mau!" tawar ku pada bu Hindun.
''ah ia neng ibu juga rencana nya mau cari buah pepaya kalo sudah di serut lebih enak lagi tinggal di masak aja.!" jelas bu Hindun.
"ini bu ga usah di bayar untuk ibu aja!" ucap ku sambil menyerahkan 2 kantong pelastik.
"jangan neng, ini untuk jajan Nina ambil. cepat pulang nanti Nina bangun.!" ucap nya sambil menyerahkan uang itu di tangan ku. aku pun mau tidak mau mengambil nya.
"terimakasih bu, aku pamit dulu.!" ucap ku. aku kembali berlari untuk cepat sampai rumah.
__ADS_1
setelah masuk ke dalam rumah ternyata Nina belum bangun aku merasa lega. aku pun menuju dapur untuk menggantung bakul ku di tempat biasa nya. setelah itu aku kembali ke ruang tengah untuk merebahkan diri sambil mengayun Nina. aku lupa sesuatu, aku belum menghitung hasil jualan ku hari ini. aku pun menuju kamar takut nya mas Deni datang. ku raih dompet ku di dalam saku daster ku. aku duduk di atas kasur dan mengajarkan semua uang nya. uang hasil jualan ku hari ini 66 ribu. di tambah uang yang di kasih Ikbal. lumayan untuk kami beberapa minggu ke depan. aku pun menyimpan uang ku di dalam dompet yang satu nya yang ku selip kan di dalam lemari yang khusus untuk kain tidak terpakai.