
Setelah Filip datang ke rumah sakit bang Rahmat memerintah kan ia memenjarakan Bagas dan juga mas Dion tanpa pengecualian semua bukti di serahkan pada Filip. Filip ternyata anak buah ayah nya yang sengaja di tugas kan di belakang layar selama ini. hanya ia orang kepercayaan ayah nya. aku pun hanya diam ku telisik wajah Filip ada keturunan bule nya. tapi ia sangat Pasih berbahasa indonesia. setelah Filip pergi seorang suster pun datang dengan dokter. ia memeriksa perban yang sudah di buka dokter sehari sebelum nya. jahitan nya sudah kering, tapi hanya di luar nya saja kalo jahitan di dalam memerlukan waktu satu bulanan baru kering. bang Rahmat pun di anjurkan harus rutin minum obat yang sudah di resep kan oleh dokter. aku pun menebus obat itu sekalian membayar semua administrasi selama bang Rahmat di rawat. karna dapat ijin dari dokter kami pun pulang. hanya kami ber dua. kami menuju apertemen bang Rahmat. karna aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi lagi kalo kami pulang ke rumah. sesampai nya di dalam apertemen bang Rahmat langsung beristirahat. aku pun ikut tidur di samping nya karna beberapa malam tidak nyenyak tidur. mana badan ku rasa nya pegal semua hingga kami terlelap entah sampai jam berapa nanti bangun nya.
aku Berlari mencoba meraih tangan seseorang yang ingin menyakiti bang Rahmat hingga aku menangkap nya. ia pun berkata.
"suami mu ta sebaik yang kamu lihat selama ini. ada janin yang ia sia sia kan"
aku terbangun langsung duduk dengan nafas tersengal. keringat dingin membasahi kening ku. ternyata aku mimpi buruk. ku lihat bang Rahmat tidak ada di samping ku.
"bang,,!" aku sedikit berteriak.
"ia sayang aku di kamar mandi!" jawab nya.
__ADS_1
aku pun merasa lega mendengar jawaban nya. aku bangun dan menyiapkan baju ganti nya. ta lama ia keluar dari kamar mandi.
"sayang,,!" aku langsung menghampiri nya dan memeluk nya.
"au,, sayang sakit. jangan kencang kencang memeluk nya!" ucap nya sambil meringis.
"maaf bang aku reflek. aku takut kehilangan mu bang!" jelas ku sambil melonggarkan pelukan ku. ia membalas pelukan ku dan mencium puncak kepala ku.
"sayang aku juga mau mandi. suah tidak enak rasa nya badan ini!" ucap ku sambil melerai pelukan ku.
"baik, aku tunggu kita makan sama sama.!" ucap nya. aku pun gegas mengambil baju dan mandi. setelah selesai aku bersiap untuk mengganti pakaian. setelah itu aku menghampiri bang Rahmat di meja makan. ternyata makanan sudah siap bang Rahmat memesan makanan lewat aplikasi. aku pun duduk, kami pun makan.
__ADS_1
"sayang Bagas dan Dion sudah di tangkap." jelas nya. aku pun mengangguk.
"syukur lah bang, aku sedikit lega." jawab ku.
"kata Tio bi Asih juga baik baik saja. kemaren mereka entah kenapa tertidur. sepertinya ada yang memasukkan obat tidur saat bi Asih membuatkan kopi pada mereka.!" jelas bang Rahmat.
"tapi siapa bang?" ucap ku penasaran.
"abang juga tidak tahu. mungkin dari salah seorang yang ada, salah satu nya ada yang berkhianat atau malah pelaku itu sendiri." ucap bang Rahmat sambil mengunyah makanan.
aku pun makin penasaran dengan semua kenyataan yang ku dengar. aku pun belum menceritakan tentang kisah bunda bersama Bagas pada bang Rahmat. mungkin nanti ini waktu nya belum tepat.
__ADS_1
...****************...