
Setelah suster keluar aku baru mau bicara, aku sangat penasaran dengan semua kejadian yang aku lewat kan.
"sayang bagai mana cerita nya kamu sampai bisa terluka. di mana Tio dan anak buah nya?" akhir nya aku mengeluarkan pertanyaan ku yang sudah ku tahan dari rumah itu.
"waktu jam 2 malam aku terbangun mendengar suara dari luar. aku pun membuka pintu kamar. ku lihat ada lelaki bertopeng itu sedang mengacak acak rumah. bi Asih sudah tergeletak mungkin ia di pukul dengan benda tumpul. aku pun berteriak. dan menghampiri nya. kami sempat berkelahi. saat aku berteriak ia ingin melarikan diri aku menangkap nya saat di depan pintu hingga kami pun saling pukul. saat aku lengah ia mengeluarkan pisau belati nya. dan mengenai ku. Tio dan anak buah nya entah kemana nanti saat ia sudah kesini akan aku tanyakan. kenapa bisa lalai." jelas nya panjang lebar.
"entah apa yang di incar oleh pelaku itu. kalo mau melenyapkan aku seharusnya ia langsung ke kamar kan bukan malah mengacaukan kan.?" tanya ku heran.
"ia sayang aku juga sedikit bingung dengan motif pelaku?" tambah bang Rahmat.
__ADS_1
"ya sudah sayng aku suap kan bubur ya. kamu makan baru minum obat. setelah itu istrahat agar cepat pulih!" ucap ku sambil menyuapkan bubur yang sudah di sediakan pihak rumah sakit. bang Rahmat pun mengangguk. setelah makan aku membantunya untuk minum obat. setelah itu ia mulai mengantuk. mungkin efek dari obat tadi.
...****************...
Setelah 3 hari di rawat luka bang Rahmat mulai membaik. ia sudah bisa jalan hanya saja masih nyeri. kami sengaja tidak mengabari orang rumah takut nya akan menambah kepanikan. walaupun bisa jalan tapi bang Rahmat belum di ijin kan pulang. karna nunggu keputusan dokter kata nya dokternya lagi tugas di rumah sakit lain.
bang Rahmat mengajak ku jalan keluar ruangan. kami menuju taman rumah sakit. yang berdekatan langsung dengan jalan raya. saat kami asik jalan jalan. kami melihat sosok lelaki yang memakai jaket hitam dan helm itu berada di sebrang jalan raya. kami langsung menatap nya dengan tajam. aku sempat melihat wajah nya sekilas. tapi yang pasti itu bukan Bagas atau mas Dion. lalu siapa...? pertanyaan itu muncul di benakku.
"sayang gaway ku kamu bawa?" ia bertanya pada ku. untung saat mengambil tas di nakas aku melihat gaway ku dan bang Rahmat jadi langsung ku masukkan ke dalam tas.
__ADS_1
"ada bang, ini!" aku menyerahkan gaway yang ku ambil dari dalam tas.
"halo Filip, aku butuh bantuan apa kamu sibuk?"
"baik lah datang ke alamat yang aku kirim di pesan nanti!"
"baik lah aku tunggu!" setelah itu ia memutuskan sambungan telpon. entah siapa lagi yang bernama Filip aku baru kali ini mendengar nama nya bang Rahmat sebut. mungkin bawahan nya yang lain. aku berujar sendiri di dalam hati.
"ya sudah sayng istrahat dulu.,!" ucap ku sambil membantunya merebahkan diri dan menyelimuti nya. setelah itu aku mengecup kening nya.
__ADS_1
...****************...