
Terik matahari terasa membakar tubuh ku, aku mencoba melap keringat yang bercucuran di keningku. aku sedang berada di pasar yang sangat ramai. hari sudah jam 12 siang tapi dagangan ku belum juga laku. untung Nina anak ku ia ta rewal, ia sedang tidur di pangkuan ku. umur nya baru 3 tahun. Nama ku Tasya Humayro. aku seorang ibu rumah tangga yang memiliki satu anak perempuan. aku menikah muda saat usia ku 18 tahun. sekarang usiaku menginjak 22 tahun. aku dari anak orang berada hanya saja karna di buatkan cinta aku memilih untuk memilih mas Deni dan meninggal kan ke dua orang tua ku. mereka sangat marah besar pada ku sehingga aku pun memutuskan untuk pergi dari rumah dan menikah dengan mas Deni. tapi sayang setelah 2 tahun usia pernikahan ku mas Deni mulai berubah. aku ta bisa berbuat apa apa. karna mas Deni adalah pilihan ku. aku harus menerima semua kenyataan pahit yang sekarang aku alami. ia jarang mau bekerja hanya mengandalkan orang tua nya. ia anak tunggal dari keluarga yang sederhana. orang tua nya sangat menyayangi nya karna ia anak tunggal sama seperti ku. terkadang kalo mas Deni di beri uang ia hanya mementingkan diri nya saja. saat di rumah tidak punya apa apa pun ia ta perduli. makan nya aku bekerja menjual rebung, kangkung atau kalo musim nya aku akan mencari Tutut untuk di jual di pasar. untuk membiayai hidup ki dan anak ku. nasi sudah jadi bubur itu lah istilah tepat untuk ku. aku bisa saja pulang ke rumah orang tua ku. tapi aku belum siap untuk memisahkan Nina dengan ayah nya. sekarang aku hanya bisa berharap mas Deni berubah. di tambah lagi ia suka dengan judi online. itu yang membuat nya berubah drastis.
"sayur kangkung bu satu ikat 2ribu saja!" ucap ku sambil menawarkan dagangan ku. aku membawa culup banyak ada 30 ikat kangkung. sekarang sisa 5 ikat lagi. aku harap cepat habis karna aku ingin pulang kasihan Nina ia kepanasan.
"berapa seikat nya neng?' tanya ibu yang menghampiri ku.
"2 ribu bu satu ikat nya!" ucap ku sambil tersenyum.
"ya sudah ibu ambil semuanya saja.!" aku sangat senang karna aku akan bisa cepat pulang. aku mengambil keresek hitam dan memasukkan semua kangkung ke dalam nya.
"ini bu semua nya 10 ribu!" ucap ku sambil menyerah kan kantong plastik yang berisi kangkung itu pada nya. ibu itu pun menyerahkan uang pas pada ku.
"terimakasih bu!" ucap ku pada nya sambil tersenyum. aku pun membereskan karung yang menjadi alas untuk aku jualan tadi ku lipat dan ku masukkan kedalam bakul yang ku bawa. aku pun mencoba meraih tiang untuk berdiri karna anak ku masih ada di pangkuan. aku pun mengambil gendongan untuk menggendong nya. ku benarkan kerudung terusan yang ia pakai. ia masih terlelap wajah polos nya membuat aku ta tega. dan harus semangat. setelah selesai aku pun beranjak meninggal kan tempat ku berjualan dengan menenteng bakul yang sudah kosong. hari ini penghasilan ku 60 ribu lumayan untuk beli beras dan jajan Nina. aku pulang dengan angkot yang biyaya nya 5 ribu. setelah sampai rumah aku pun menaruh Nina di ayunan agar ia lebih nyenyak tidur nya. aku pun menuju dapur untuk memasak beras yang aku beli tadi. aku beli hanya satu liter. karna biasanya hanya aku dan anak ku saja yang makan. setelah memasak aku menyayur kangkung yang sengaja ku tinggal untuk lauk kami makan.
__ADS_1
"bunda,!" teriak Nina di ayunan. aku pun gegas menghampiri nya.
"ia sayang" ucap ku sambil berlari kecil menuju ayunan.
"Nina sudah bangun sayang, !" ucap ku sambil mengangkat nya. ia pun mengangguk.
"kita mandi dulu ya sayang baru makan!" ucap ku pada anak ku.
"ok bunda!" ucap nya sambil memelukku di dalam gendongan ku. aku pun memandikan nya. setelah beres baru aku mandi ia menunggu ku di meja makan.
"ga k, bunda cepat mandi nya!" ucap nya sambil tersenyum.
"ya sudah ayo kita makan dulu. jangan lupa baca doa ya!" ucap ku sambil mengelus pipi nya. ia pun mengangguk dan baca doa. aku pun langsung menyuapi nya. terlihat sekali anak ku sudah lapar karna pagi tadi hanya makan sedikit sisa nasi semalam yang aku panaskan kembali.
__ADS_1
"bunda ayah mana?" tanya Nina di sela sela ia mengunyah.
"ayah lagi di tempat Nene sayang.!" jas ku. ya karna biasanya mas Deni memang jarang pulang. aku pun tidak begitu memikirkan sifat nya karna kalo aku tegur pasti akan jadi pertengkaran. yang ku pikirkan sekarang hanya bagai mana aku bisa membahagiakan anak ku. ia masih kecil masih sangat membutuh kan ayah nya. hanya saja kadang mas Deni tidak mau tau dengan Nina. ia hanya memain kan hp nya untuk main judi online. ada satu hari saat mas Deni sedang asyik main judi online di hp nya, Nina menghampiri nya dan langsung menaiki punggung nya. mas Deni sangat marah hingga ia memukul kaki Nina yang membuat nya kaget lalu Nina menangis. aku pun marah dan menyuruh nya untuk ke rumah ibu nya saja kalo tidak mau di ganggu anak nya. sehingga ia pun langsung pergi. dari hari itu ia jarang pulang karna ia tidak mau saat main judi di ganggu oleh anak nya. ku pikir lebih baik seperti itu dari pada ia memarahi sampai menyakiti Nina, aku sangat tidak terima. setelah makan aku dan Nina pergi ke kebun untuk mencari apa yang bisa aku jual besok untuk menyambung hidup. ladang yang ku maksud adalah kebun orang yang sudah lama tidak terawat. yang punya orang nya di kota. sodara nya masih ada di sini yakni kaka yang punya kebun itu. aku pun sudah dapat ijin untuk mengambil tumbuhan liar di kebun itu. sekitar 25 menit aku berjalan sambil menggendong Nina di punggungku. akhir nya sampai.
"sayang Nina duduk di sni dulu ya. bunda mau ambil jantung pisang itu.!" ucap ku sambil menunjuk pohon pisang yang tidak jauh dari kami.
"ok bunda, asyik besok jualan lagi.!" ucap nya kegirangan. aku pun mengelus kepala nya yang memakai hijab terusan dan tersenyum. lalu aku mengambil kayu panjang yang biasa ku pakai untuk mengambil jantung pisang itu. aku dapat 3 jantung pisang lalu ku taruh di dalam bakul yang ku bawa tadi.
"sayang ayo naik ke punggung bunda, kita cari daun singkong di ujung sana!" ucap ku sambil berjongkok membelakangi nya. ia pun menaiki punggungku. sebelah tangan ku menahan pantat nya dan yang satu nya untuk membawa bakul yang sudah terisi jantung pisang.
"nah Nina sayang duduk lagi di sini ya tunggu bunda jangan ke mana mana ok sayang!" ucap ku pada Nina.
"ok bunda!" ia pun kembali memainkan boneka nya. aku mengambil daun singkong muda di sana bekas tanaman yang punya kebun tapi sudah tidak di rawat lagi. ku rasa sudah cukup aku pun memasukkan nya ke dalam bakul ku susun supaya muat.
__ADS_1
"sayang sudah kita pulang ya!" ajak ku pada anak ku ia pun kembali menaiki punggung ku. lumayan berat bakul yang ku bawa. banyak rumput yang tinggi nya selutut yang kami lalui untung nya aku memakai sepatu buts. kami pun menuju rumah, aku senang sekali besok bisa berjualan lagi karna kalo tidak ada sayuran yang ku dapat biasanya aku tidak bisa jualan. hanya sesekali terkadang tetangga menyuruh ku untuk mencabut rumput di sekitaran rumah nya. aku tak mematok tarif seikhlas nya saja. kadang di kasih 20 atau 30 ribu. aku sudah bersyukur.