
Aku dan Indah sedang berada di dapur. untuk bersiap memasak. sebenar nya indah mau pulang saat kami terbangun tadi tapi aku tahan. aku mengajak nya untuk makan malam di sini. karna indah ku lihat sudah mulai menunjukkan sifat baik nya kami pun sepakat untuk berdamai saja. menjalani hubungan yang bisa di katagori kan aneh ini bagi sebagian orang. tapi aku ta menggubris nya. aku kembali dengan mas Dion saja ibu Eka sangat tidak setuju. ia meyakinkan ku agar tidak kembali. ia terlihat kecewa dengan keputusan ku. tapi aku meyakinkan nya bahwa mas Dion pasti berubah. dan satu lagi ternyata indah selama ini di hasut oleh bu Susi yang notabene nya tidak menyukai aku. ia sirik dengan kehidupan ku. deru motor mas Dion terdengar di luar.
"indah tolong sambut mas Dion ya, ayam goreng nya sekali angkat lagi." usul ku pada indah yang di angguki nya. ia menggendong Dio untuk keluar.
"akhirnya selesai juga." aku menaruh piring terakhir di meja makna ku lihat mas Dion menggendong Dio dan diiringi oleh indah.
"asalamualaikum mas," ucapku menghampiri mas Dion dan mencium tangan nya. aku mengambil Dio di gendongan nya. indah menuju ke meja makan untuk menyiapkan makan untuk kami. aku yang menggendong Dio mengiringi mas Dion ke kamar.
"sayang, kenapa indah ada di sini?" mas Dion merasa heran ia bertanya setelah kami memasuki kamar.
"apa ada yang salah mas, kalo indah bertamu ke sini.?" tanyaku dengan nada menyelidik.
"tidak, hanya saja tumben kalian akur!"
"apa mas tidak suka aku dan indah akur?"
"kamu ko ngomong nya seperti itu. aku sangat bahagia, hanya saja merasa canggung untuk berinteraksi dengan salah satu istri mas. dan dilihat istri satu nya, aku takut ada cemburu antara kalian." aku pun tersenyum menanggapi ucapan mas Dion.
"sudah lah jangan terlalu di pikirkan, mandi saja mas baru susul kami ke dapur.!" ucap ku dan berlalu dari hadapan nya sambil menggendong Dio menuju ke dapur.
Ku lihat indah sudah duduk di meja makan, ia tersenyum ke arah ku.
"saya jadi tidak enak berada di sini. saya pulng saja ya sama Dio.!'' ucap indah.
"santai saja, lagian kan kita tidak ada masalah lagi. dan kita tunjukkan pada mas Dion bahwa kita sama sama menutupi kekurangan salah satu dari kita. hingga menjadi sempurna. yah begitu seharusnya. " jelas ku.
"benar juga ya, ya sudah kalo mas Dion tetap mempunyai wanita lain itu kelewatan nama nya."
"set,, jangan keras-keras nanti mas Dion dengar'' aku menempelkan telunjukku di bubur ku.
__ADS_1
"maaf aku terlampau smangat, hahahaa" kami pun tertawa. mas Dion terlihat menghampiri kami.
"seperti nya seru. apa yang kalian bicara kan.?"
"tidak ada," jawab indah singkat. ia kelihatan sekali tidak bisa menyembunyikan kan kecurigaan nya terhadap mas Dion.
"gini mas, gimana kalo kita tidur ber tiga. Dio tidur di keranjang yang sudah aku persiapkan untuk calon anak kita.?"
"maksud nya.!" mas Dion terbelalak mendengar usul ku. ta terkecuali dengan indah. aku pun tersenyum menanggapi mereka.
"ehemm,,, ia tidur di kasur yang sama. jadi kan kalo mas Dion mau nambah istri lagi nanti istri yang ke tiga karna tidak cukup kasurnya harus tidur di bawah. ia kan indah" ku lihat ada ke gugupan di gelagat mas Dion. indah pun tersenyum mengerti dengan maksut ku.
"benar juga usul kamu Bunga. baik lah. tidurnya di rumah sini atau di rumah yang kami tinggali?" indah dengan semangat meminta pendapat ku.
"gimana kalo di sini saja. di kamar ku. hemm,," ku lihat mas Dion tak berkutik. menanggapi usulan kami.
"ya sudah ayo kita makan.!" ajak ku.
"indah nanti kita kerjain aja mas Dion supaya dia tidak bisa memain kan gaway nya. karna aku yakin ia pasti berbalas pesan." indah pun mengangguk. aku pun mengantarkan kopi ke ruang tamu.
" ini kopi nya mas." aku lihat benar kan ia memain kan gaway nya.
"iya." jawab nya singkat. aku pun mendekati nya. dan memeluk pinggang serta menyandarkan kepala di dada nya.
"mas aku rasa aku kangen dengan kamu, gimana malam ini kalo kita melakukan nya. ?" mas Dion terlihat kaget mendengar ajakan ku.
"kenapa mas. mas ga mau ?" tanya ku.
"lalu indah ?" ya biarkan saja paling juga tidur. aku menarik turun kan alis ku.
__ADS_1
" tapi...!" ia menggantung kan kalimat nya.
" ya sudah kalo tidak mau.." aku melepas kan pelukan ku dan melipat ke dua tangan ku sambil bibir berkerucut. indah datang dari dapur karna Dio sebelum nya sudah tidur.ia langsung duduk di sisi lain mas Dion.
"mas, aku kangen sama kamu. " ucap nya. bukan nya senang dua istri nya ada di samping mas Dion malah mengeluarkan keringat dingin. ta berapa lama gaway nya berbunyi tanda ada yang menelpon. aku dan indah sekilas melihat ada foto profil wanita. kami saling berpandangan dan melancarkan aksi. indah memeluk mas Dion dan aku menggeser tanda merah itu sekilas menekan tanda pengeras suara.
"hallo sayang ..! kenapa pesan ku ga di bales sih aku bete tau." terdengar suara wanita dengan manja. mas Dion tak bisa berkutik lagi. aku menggerak kan dagu beberapa kali tanda menyuruh nya bicara.
"i,oiya. aku tadi di kamar mandi?"
"mas jadikan besok kita beli tas?"
mas Dion memandangi aku dan indah bergantian. hingga ia salah tingkah. masalh uang aku serahkan pada indah. aku tidak ikut campur. mas Dion tidak menjawab.
"o iya mas, terimakasih kata mama baju nya bagus. ia suka.! mas,, mas, ,masih di sana?
aku pun mematikan samabungan telpon se pihak. aku dan indah menatap mas Dion bersamaan dengan tatapan meminta penjelasan.
"ok ok,, aku akan jelas kan." ia sambil mengangkat ke dua tangan nya berucap.
"nama nya Ani"
"lalu" lanjut ku dengan singkat.
"iya teman...!" belum selesai ia berucap ku tatap mata nya dengan memicingkan mata ku. apa kata nya teman. dasar lelaki ta pernah puas dengan wanita.
"baik lah. ia kekasih ku.!!" jelas nya sekarang aku yang diam dan indah yang kelihatan berdiri.
plak,,plak,, dua kali tamparan mendarat di pipi mas Dion. aku sempat kaget dengan perlakuan nya. aku yang selama 3 tahun hidup dengan mas Dion belum pernah melakukan kontak pisik pada mas Dion. mata ku terbelalak melihat apa yang terjadi. tapi aku diam. ini urusan rumah tangga mas Dion dan Indah.
__ADS_1
"tega kamu mas. apa kamu kurang puas dengan dua istri. tidak menyangka kalo kamu Setega ini sama kami." indah memukuli mas Dion dengan membabi buta. aku hanya duduk. tapi saat mas Dion ingin melayangkan tinjuan nya aku berusaha menahan nya hingga tubuh ku terhuyung kemeja, dan perutku terbentur di ujung meja. rasa sakit yang luar biasa langsung menjalar di tubuh ku hingga dari sela kaki ku mengeluarkan cairan merah. mataku berkunang-kunang akhir nya gelap.
...****************...