
Aku dan bang Rahmat berjalan di koridor rumah sakit. kami menuju ruangan anak yang di tunjukkan oleh suster penjaga. sesampai nya di depan pintu kami pun menetuk nya. tok,,tok,,
ada yang membukakan pintu.
"Tika,, " aku kaget melihat nya. yang memakai daster sedikit lusuh. aku pun memeluk nya.
"Bunga,, ta menyangka akan bertemu kamu di sini. gaway ku sudah lama ku jual. makan nya tidak bisa menghubungi mu lagi." jelas nya.
"sudah nanti saja cerita nya aku mau lihat kondisi anak mu" kami pun masuk anak nya Tika tidur dengan pulas. kata nya ia terkena tipes karna telat makan. sekarang kabar nya sudah membaik. aku dan Tika duduk di kursi yang ada di ruangan itu.
"sekarang ceritakan semua nya hingga aku tidak bingung lagi."
"jadi setelah kita bertemu terakhir aku pulang duluan ke kota di mana aku kerja. saat itu hubungan ku dan Adi memburuk karna aku Hamill, dan ia tidak mau tanggung jawab. awal nya aku di jebak nya di berikan nya obat tidur hingga aku tidak tau hal itu akan terjadi bangun bangun aku sudah berantakan. aku sempat beberapa kali menemui nya agar menikahi ku tapi ia tidak mau. malah ia mengancam ku akan menyebar kan vidio kami. aku takut hingga satu bulanan. aku menjadi budak se* nya. hingga aku ta sanggup lagi. aku prustasi berjalan di pinggiran kota hingga bertemu dengan mas Anto. aku bercerita semua nya hingga ia bersedia menikahi ku. mas Anto hidup sebatang kara ia tidak memiliki keluarga. hingga kami pun ke kampung ini saat mau melahirkan aku harus SC. dan rumah satu satu nya peninggalan orang tua ya ia jual pada teman nya. untuk ongkos di rumah sakit. kami sekarang mengontrak di rumah orang yang tak terpakai. harga nya juga terjangkau 150ribu perbulan. dan malam kemaren mendadak anak ku Panas ia bilang mau kerumah teman nya dan pulang membawa uang 3 juta aku pun menangis siapa teman yang sudah sangat baik itu. aku sangat bersyukur anak ku tertolong. entah bagai mana nanti kami membayar nya." dengan panjang lebar ia menceritakan kisah hidup nya.
"sabar ya Tik, kita akan sama sama melalui ini semua. kamu kenal dengan yang berdiri itu.'' aku menunjuk bang Rahmat. Tika mengamati nya dengan seksama.
"Mamat,, " ia baru menyadari nya. aku pun tertawa.
"sayang mulai lagi kamu." ucap bang Rahmat dengan memutar bola mata nya.
"maaf,," aku pun menghentikan tawaku. Tika terlihat bingung.
"ia Tik, dia bang Rahmat teman kita dulu. " jelas ku.
"lalu, ngapain kalian ada di sini. siapa yang ngabarin dan mana Dion. atau jangan jangan kamu mat bawa istri orang kabur lagi." ia mulai melupakan kesedihan nya.
"hahahaaa. ia Tik ia menculik ku dari mas Dion." ucap ku sambil terbahak. bang Rahmat tetap dngan pandangan nya tadi.
"sudah lah tidak penting juga. yang penting anak kalian sudah sehat.''
Tika msih kelihatan bingung. aku pun menceritakan semuanya. ia mengangguk paham.
"jadi ceritanya ini penganten baru. aduh senang nya." Tika meledekku aku pun tersipu malu.
hingga jam 2 siang kami pamit pada Tika dan Anto. aku merasa bahagia karna mengetahui Tika juga tinggal di kampung ini.
...****************...
Kami berkendara melewati pasar. aku mengajak bang Rahmat mampir membeli jajanan untuk di bwa pulang. banyak jajanan yang tergantung di motor. aku pun sangat senang.
"bang kita duduk di taman itu sebentar. ?" ajak ku.
"ok, tapi kita mampir di mushola dulu ya sayang. !" aku pun mengangguk mengerti.
setelah selesai kami pun duduk di kursi taman itu. melihat banyak anak anak bermain di taman itu.
"sayang nanti kalo kita punya anak aku ingin punya 10 ya.?" aku pun melotot mendengar pernyataan bang Rahmat.
"kebanyakan bang" ucap ku.
"ga apa sayang kan jadi rame rumah kita.!" ucap nya lagi.
"ga ah aku ingin 2 saja. itu lebih baik." ucap ku pada bang Rahmat.
__ADS_1
''gimana kalo 5!" ia menawar.
"bang,, sedikasihnya aja deh." ucap ku mengakhiri perdebatan.
"kamu mau es krim?" ia menawariku.
" mau bang, rasa coklat ya."
"baik tunggu sebentar ya" ia pun berlari kecil ke arah tukang eskrim itu. aku memperhatikan sekitar. ku lihat seperti tak asing dengan wanita yang sedang menggendong anak sambil berjualan es buah itu. aku mencoba mengingat ingat.
"Wati, ia itu pasti Wati. yang waktu SMA sering membully ku. aku pun menghampiri nya ia kelihatan sangat memprihatinkan menggendong anak yang sedang tertidur. pakaian nya pun terlihat kusut.
"maaf apa benar kamu Wati...?'' tanyaku setelah aku berjongkok. ia memandangku mencoba mengingat ingat juga.
"ia benar, kamu siapa ya...?" ia ternyata lupa dengan ku.
"aku Bunga, Wat." ia kelihatan kaget.
"Bunga yang di SMA dulu..!"
'ia tepat nya yang sering kamu bully.' aku berucap dalam hati.
" ia , tinggal di daerah sini..?"
"ia Bung, di desa pandan sari. kamu sendiri ngapain di sini?"
"aku juga tinggal di pandan sari baru kemaren pindah kesini. di sebelah mana rumah mu?"
"di dekat warung bakso mang Dadang. bung!".
'' yang bener bung. nanti jalan jalan ke rumah ku.!" ajak nya.
"baik nanti akan berkunjung ke rumah mu. "
"kamu berapa punya anak Bung...?"
" satu, tapi ia meninggal." ucap ku dengan murung.
"maaf Bung, aku tidak bermaksud"
"tak apa, kalo kamu...?" tanya ku pada nya.
"aku 3, ini anak yang nomer terakhir. itu di sana yang nomer satu dan dua.!" ia menunjuk anak yang berjualan es buah juga di ujung taman sana. kisaran umur 7 dan 5 tahunan.
" suami kamu wat..?"
"ia sedang bekerja bangunan Bung, di dekat lapangan !" jelas nya.
"sayang ternyata kamu di sini. aku cariin tadi di tempat kita duduk tidak ada..!"
"ia bang, ini aku bertemu dengan teman kita SMA, kamu ingat tidak...?" bang Rahmat datang dengan membawa eskrim di tangan nya. ia mencoba mengingat ingat siapa teman yang ku maksud.
"siapa dia Bung,, ?'' Wati ternyata juga lupa dengan bang Rahmat.
__ADS_1
"dia bukan Dion kan, masa Dion berubah wajah apa dia operasi plastik...?" tambah nya lagi.
"haha. tentu bukan, kamu ngaco aja wat." aku tertawa melihat kebingungan Wati. ya ia juga hadir di acara nikahan aku dan mas Dion. makan nya dia tau kalo aku nikah dengan mas Dion. tapi ia tidak tau kisah perjalanan ku.
bang Rahmat ku lihat masih mengingat ingat Wati. ia sampai ta bersuara.
"dia bang Leo Rahmat Aditama. dan ini Susilawati" kalian sudah ingat. aku memperkenalkan mereka berdua.
"ooh,, ia aku baru ingat." ucap bang Rahmat.
"lalu Dion mana ko kamu sama Mamat.?" tanya Wati.
"sayng jangan mulai ya.jelas kan saja." aku baru mau tertawa tapi di tegur oleh bang Rahmat.
"ok ok,, aku sudah pisah dengan mas Dion setelah anak kami meninggal. ada hal yang terjadi yang tidak bisa aku ceritakan. ya dan sekarang aku jadi istri bang Mamat ini" jelas ku sambil tertawa. aku tak bisa menahan nya lagi.
"sayang." peringat nya.
"haha,, maaf maaf."
'eh wat nanti kalo ketemu lagi dengan istri ku ini jangan sebutkan kata jimat itu ya. walau ia sedih pasti akan ke tawa. !" jelas bang Rahmat pada Wati yang membuat Wati bingung.
"kata jimat. emang nya kata apa...?" Wati malah bertanya lagi hingga aku tambah tertawa.
"harus banget ya aku jelas kan. lihat aja tingkah istri ku. baik lah jangan kaget ya kalo mendengar ia tambah terbahak.kata jimat nya "Mamat"." jelas bang Rahmat lagi dengan wajah kesal. Wati jadi tambah bingung.
"ok ok,, sudah sudah. sakit perut ku. bang rumah Wati dekat dengan kita kata nya suami nya tukang bangunan. kita bisa mnta tolong berarti dengan nya.!" jelas ku pada bang Rahmat.
"kalo begitu malam ini kami akan kerumah mu Wat." kata bang Rahmat pada Wati.
"ngomong ngomong kamu juga tau kalo Tika tinggal di sekitaran kampung kita wat.?"
"tau pernah beberapakali bertemu. tapi kaya nya ia tidak ingat dengan ku. aku juga malu mau menyapa nya. karna keadaan ku saat ini." jelas nya.
" tidak apa jangan berkecil hati. kita semua sama." jelas ku lagi.
"aku mau dong es buah nya 5." ucapku pada Wati ku lihat dagangan nya masih bnyak.
"beneran Bung 5.,"
"ia masa aku bohong sih. tolong bungkusin ya" aku tersenyum ke arah nya.
"berapa...?"
"50 ribu!" aku menyerahkan uang 100 ribu pada nya.
"kembalian nya untuk anak mu ya. aku pamit dulu nanti kita bertemu lagi." ucap ku pada nya ia pun mengguk dan tersenyum.
"terimakasih Bunga dan ma ... eh tidak jadi deh aku belum terbiasa." ia tertawa ke arah bang Rahmat. bang Rahmat pun memutar bola mata nya malas.
"sama sama wat, ya sudah kami pulang dulu.!" aku berucap pada nya dan setelah itu berlalu dengan bang Rahmat menuju motor untuk pulang.
"cek,,cek,, ternyata istriku ngeri juga kalo masalah makanan. ta bahaya ta..!" dengan nada bercanda dan yang lagi viral ia berucap. dan tertawa. aku pun ikut tertawa. hingga kami beranjak pergi dari taman menggunakan motor untuk pulang.
__ADS_1
...****************...