
Setelah berpamitan kami pun menaiki mobil trevel dan melambaikan tangan pada Anto dan Tika. di perjalanan aku bersandar di dada bang Rahmat. hingga perjalanan 5 jam baru kami sampai di kota tempat tinggal orang tua ku.
"sayang bangun sudah sampai.," bang Rahmat mengelus pipiku ia berusaha membangun kan ku.
"emm,, sudah sampai bang,, badan ku pegal semua..!" ucap ku sambil menggeliat.
"ayo kita turun sayng. pasti ibu dan ayah sudah ada di rumah. aku belum sempat bilang pada mereka." ucap bang Rahmat.
"ayo bang, pasti mereka kaget." ucap ku dengan semangat.
"em,," bang Rahmat mengangguk. setelah itu kami pun turun dan pa satpam rumah ayah membawakan barang kami yang terdiri hanya 2 koper besar dan satu tas jinjing. kami memasuki rumah. terlihat ayah dan ibu sedang duduk di ruang keluarga sedang asyik nonton tv tayangan kesukaan ibu.
"assalamualaikum ayah.' ucap ku di telinga ayah. ayah pun terkaget. membuat aku tertawa dan bang Rahmat hanya menggeleng kan kepala nya saja.
"Bunga , kamu ya....?" ayah langsung menangkap ku dan menggelitiki ku.
"ko kalian kesini ga bilang bilang sih..!" ucap ibu.
"sengaja kami ingin membuat kejutan,"
ucap ku setelah lepas dari jurus maut ayah.
"ko banyak bawa koper nya kayak mau pindahan...?" ucap ayah.
" maaf ayah sebelum nya kami mau tinggal di sini. karna di tempat kami tinggal tidak aman!"
''maksud nya?" ayah bertanya dengan penasaran. bang Rahmat pun menceritakan semua nya. ayah dan ibu tercengang dan saling berpandangan.
"untung kalian cepat kisini.!" ucap ayah.
''kalian. tidak kenapa napa kan..?" tanya ibu.
"Alhamdulillah tida bu. kami pun punya kabar gembira untuk opa dan Oma..!"
"maksud kalian ...?" kami mengangguk bersamaan mengerti kemana arah pembicaraan ayah.
"alhamdulilah ya allah. semoga kamu dan calon cucu ayah sehat sampai lahiran ya nak." ayah sampai berkaca kaca mendengar berita bahagia ini. ia memelukku dengan erat.
__ADS_1
"ya sudah kalian makan dulu gih baru langsung istrahat. " ucap ibu. kami pun menuju meja makan. yang makan hanya kami. ibu dan ayah sudah makan kata nya tadi. setelah makan kami pun naik ke atas beristirahat.
...****************...
Aku mengerjapkan mata, ku lihat bang Rahmat sedang menghubungi seseorang. ta berapa lama ia pun memutus sambungan dan menghampiri ku.
"sayang sudah bangun." bang Rahmat mengelus pipi ku.
"sayang aku mau...!"
"ok ok aku ngerti." ia pun membuka sebelah baju nya. aku pun tersenyum.
sekitar 15 menitan baru aku rasa baikan tidak sakit kepala lagi. kami pun bangkit untuk mandi dan turun sarapan pagi. di bawah sudah ada ayah dan ibu menunggu kami.
"ibu,, ayah,, selamat pagi..!" aku berlari menghampiri mereka.
"sayang jangan lari lari nanti jatuh sayng..!" ucap ibu pada ku.
" ia ma aku baik baik saja. emm,, bau apa ini..?" tanya ku ada aroma yang tidak enak. aku menghampiri meja dan mencium makanan yang ada. ternyata bau ikan bandeng.
"bi,,!" aku sedikit berteriak.
"tolong bawa ini ke belakang. ko bibi masak ikan sudah bau sih...?"
bibi terlihat sangat kebingungan dengan ucapan ku. ayah mengangguk ia ngerti dengan ke adaan ku. bibi pun langsung membawa ikan itu ke blakang sambil mencium cium ikan itu. yang lain tertawa kecil.
"ayo duduk sini sayang, kita. makan.!"ajak bang Rahmat. aku pun duduk dan ia mengambil kan nasi dan sayur untukku. aku bisa makan saat tangan ku menyentuh put*ng susu nya. hingga membuat ayah tertawa. bang Rahmat menggaruk tengkuk nya.
"sayang hari ini kita ke mall. untuk membeli susu kamu. gimana..?" ajak bang Rahmat pada ku.
"baik lah, aku juga ingin beli sesuatu bang nanti.!" aku kegirangan di ajaku jalan jalan. ayah dan ibu menggeleng kan kepala nya sambil tersenyum. kami pun melanjutkan makan dengan di selingi obrolan kecil.
...****************...
Sekarang kami sudah menuruni mobil ibu yang kita pakai. saat mau memasuki mall kami bertemu dengan mama nya bang Rahmat. ia bersama dengan Sandra. kami pun menghentikan langkah saat berhadapan dengan mereka.
"oh, jadi ini wanita pilihan kamu. pakaian nya kolot sekali. seperti ibu ibu yang tukang gosip."Sandra bercelatuk mengeluarkan pendapat nya.
__ADS_1
"mata Leo memang tertutup jadi tidak bisa melihat mana wanita cantik dan tidak.!" mama mertuaku menyambung hinaan Sandra.
"bukan luar nya tapi dalam nya. itu yang penting. yo sayng kita masuk!" setelah menjelas kan bang Rahmat mengajakku ke dalam mall dengan menggandeng tangan ku. terlihat mama mertua dan juga Sandra terlihat marah. kami pun mengabaikan mereka.
setelah membeli susu bumil aku dan bang Rahmat makan di salah satu resto yang ada di mall. Sandra dan mama menghampiri kami.
"Ups,, maaf ga sengaja..!" ucap nya pada ku setelah sengaja menyiram kan jus alpukat pada ku.
"Sandra apa yang kamu lakukan...?" bang Rahmat terlihat marah.
"ia kan ga sengaja Leo," ucap mama membela Sandra.
"sudah bang aku ga papa.!" aku memegang tangan bang Rahmat. ia terlihat sangat marah.
"tapi ia sudah keterlaluan.,,,,!" ucap bang Rahmat emosi sambil menunjuk Sandra. aku melihat ke sekeliling banyak mata yang tertuju pada kami.
"sayang sudah kita pergi aja dari sini." ajak ku. bang Rahmat pun dengan berat hati mengikuti saran ku. kami beranjak dari sini. hingga kaki mama mertua ku sengaja menghadang kaki ku hingga aku sedikit kehilangan keseimbangan. untung saja bang Rahmat sigap menangkap ku.
"sayang,," ia terkejut. aku pun sama untung tidak jatuh..
''mama ingin mencelakai cucu mama sendiri. Leo tidak menyangka mama sejahat ini." ucap Leo dengan mata nyalang ke arah mama nya.
"apa,, ia Hamill" ucap mama mertua ku dengan ekspresi kaget.
"ya," jawab bang Rahmat singkat.
aku pun di rangkul bang Rahmat untuk menjauhi mereka.
"asal mama tau. anak yang Sandra bilang anak ku itu bukan lah cucu mama. aku sudah tes DNA hasil nya tidak sama." mama mertua ku kelihatan syok dengan penjelasan bang Rahmat.
kami pun berlalu meninggal kan tempat itu.
"sayang kamu tidak papa...?" bang Rahmat memastikan.
"tidak sayang hanya sedikit kaget saja." jawab ku jujur.
kami pun keluar dari mall itu menuju parkiran mobil untuk pulang ke rumah. bang Rahmat masih kelihatan emosi. dengan apa yang sudah terjadi.
__ADS_1
"aku ta menyangka mama percaya dengan ular betina itu." ucap bang Rahmat lagi. ia terlihat sangat kecewa dengan mama nya sendiri. aku pun hanya diam tidak berani menanggapi ucapan bang Rahmat karna menyangkut orang tua nya. kami pun menuju rumah dengan hati yang sangat gusar.
...****************...