
Sekarang yang ku rasa hanya lah perih yang teramat di leher ku. entah apa mungkin hari ini adalah hari akhir dari kehidupan ku.
"Tuhan tolong ijin kan aku hidup lebih lama lagi agar aku bisa merawat anak ku" aku berdoa dalam hati. polisi pun berdatangan di blakang bang Rahmat.
"menyerah lah, kalo tidak kami akan bertindak,,!" teriak salah satu petugas polisi itu.
"Rendra,,,!" teriak Sandra. ia baru masuk ke ruangan yang sangat mencekam ini.
"Sandra,,,!" bang Rahmat menatap nya.
"Hem,, biar aku yang jelas kan pada nya.,!" ucap Sandra pada bang Rahmat.
__ADS_1
"kamu sudah salah paham Rendra. itu buku harian ku yang tertinggal di kamar Laura sehari sebelum kejadian naas itu. dulu aku juga hamil sama dengan Laura, tapi yang menghamili ku bukan Leo, tapi aku di perkosa. makan nya aku menulis harapan ku sebagai Leo pelaku nya. dan Laura ia telah di hamili oleh kekasih nya Alex. ia di tinggalkan begitu saja pulang ke Amerika, Alex tanpa mau bertanggung jawab. ini buku harian Laura. tertukar dengan punya ku.!" Sandra pun melempar buku itu ke atas kasur. Tio mulai melemahkan dekapan tangan nya pada leherku. dan beringsut mengambil buku harian itu.
ia pun membuka halaman demi halaman buku itu. hingga akhir nya ia menangis. aku pun beringsut turun dari tempat tidur saat ia lengah. untung nya hanya tangan ku saja yang di ikat. jadi aku bisa lari ke arah bang Rahmat. para polisi pun menyergap Tio yang sudah pas rah. ia di bawa dengan kepala menunduk. ternyata waktunya untuk balas dendam selama ini sia sia. aku pun di bawa ke rumah sakit untuk di berikan perawatan pada leherku. Sandra mengikuti ku dan bang Rahmat sampai rumah sakit. setelah di ruangan rawat inap. Sandra pun menghampiri ku.
"Bunga,, aku minta maaf atas semua kesalahpahaman ini sehingga kamu dan Rahmat yang menjadi korban." ucap Sandra dengan tulus.
"ta apa, ini semua bukan kesalahan mu, sekarang aku sudah bisa lega. aku hanya ingin hidup damai bersama bang Rahmat dan juga calon anak ku.
"klo begitu lekas sembuh ya, aku pamit dulu. bahagia selalu ya!" ucap Sandra sambil tersenyum dan keluar dari ruangan.
Entah apa lagi yang akan terjadi setelah ini. itu semua hanya rahasia penulis, hee,,,.
__ADS_1
Bang Rahmat menghampiri ku. ia mengelus puncak kepala ku.
"sayang masih sakit?"
"sedikit bang, kan luka nya juga tidak dalam hanya tergores saja. mungkin sebentar lagi akan sembuh.
"em,, semoga setelah ini tidak ada lagi yang mengusik kehidupan kita.!" harapan bang Rahmat.
setelah di nyatakan luka ku tidak terlalu parah kami pun pulang ke rumah yang di tempati bi Asih. bang Rahmat berencana ingin menyerahkan perusahaan pada kaka nya Maya. ia ingin membuka usaha sendiri. ia rasa ka Maya juga bisa menghendel semua nya. setelah ini pun hidup kami berjalan dengan lancar. bang Rahmat sudah membangun perusahaan sendiri di bidang jasa kirim barang. setahun berlalu aku pun sudah melahirkan anak yang sangat ganteng 11 12 dengan Abi nya. kami hidup damai dengan suasana baru kehidupan baru dan juga keluarga baru.
TAMAT
__ADS_1