
Ada terdengar suara ketukan saat kami sedang makan siang.
Tok,,tok,,tok,,
"siapa ya bang,?"tanya ku pada bang Rahmat.
"kurang tau jua abang, rasa nya ta ada janji sama orang hari ini." ia menjelas kan.
"biar Bunga yang buka bang.!" aku pun beranjak. setelah di lepas selang infus tadi aku merasa baikan. hingga dapat beraktifitas kembali. tapi belum memeriksa urine.
"ada apa Sarah?" tanya ku setelah membuka pintu.
"ku lihat tadi ada bidan yang ke sini apa mas Rahmat sakit. aku mau ke toko juga tutup tadi pagi. oh ia ini ada bubur kacang hijau untuk bang Rahmat." ia panjang lebar berucap. hingga mengira yang sakit itu bang Rahmat. perhatian banget, dalam hati ku.
''oh tidak, bang Rahmat sehat sehat aja. tadi aku hanya pusing sedikit." aku pun menerima mangkok kacang hijau itu.
"ya sudah aku langsung pulang, jangan lupa kasihkan sama mas Rahmat ya." setelah itu ia pergi. aku pun menutup pintu dan kembali menuju meja makan.
''siapa tadi sayang dan apa itu...?" bang Rahmat bertanya.
"ini Sarah tadi yang ngasih di kira nya kamu yang sakit.!" jelas ku. aku mau menyendok bubur kacang itu, ingin memakan nya.
__ADS_1
"tunggu sayang...!". ucap bang Rahmat ia mencegah ku menyendok bubur itu.
"kenapa bang, aku sangat ingin memakan nya terlihat enak apa kamu mau bang...?"
"tunggu sebentar jangan di makan dulu syang, abang ambil botol di atas meja kamar dulu. ingat jangan di makan." cegah nya. aku pun menurut hingga menunggu bang Rahmat kembali. ia membawa sisa air do'a malam tadi. dan menuang kan sedikit ke mangkok plastik yang berisikan kacang hijau pemberian Sarah tadi.
"astagfirullah bang...!" aku sedikit berteriak melihat apa yang terjadi. mangkok itu mengeluarkan sedikit asap. entah kenapa aku rasa ada yang tidak beres dengan Sarah.
"sayang buang saja ke pembuangan cucian piring." jajar bang Rahmat. aku pun menurut dan membuang nya. yaallah jauh kan lah kami dari orang orang yang berniat jahat.
"sayang nanti kita pergi ke ustadz Hamzah yang ada di kampung sebelah. kamu kuat kan....?" ajak bang Rahmat.
"kuat bang, aku tidak merasa pusing dan mual lagi..." jelas ku.
1 jam perjalanan yang kami tempuh. kami melewati sawah sawah warga yang mulai menguning. pemandangan nya sangat indah. banyak burung burung beterbangan karna di buru oleh petani menggunakan tali yang di pasang kaleng hingga bila di tarik mengeluarkan bunyi. ta berapa lama kami sampai di pekarangan rumah yang sangat asri halaman nya bersih walau rumah nya sederhana hanya terbuat dari kayu dan berbentuk panggung. kami pun menaiki tangga di plataran rumah nya. pintu nya terbuka lebar.
" assalamualaikum, ustadz Hamzah." bang Rahmat sedikit berteriak. ada seorang laki laki menghampiri kami menggunakan sarung atasan kaos putih dan berkupiah. umur nya kisaran 50 tahunan.
"Waalaikumsalam, masuk nak." ucap nya pada kami.
kami duduk bersila di teras rumah nya yang berbentuk panggung itu dialasi dengan tikar anyaman. kelihatan klasik ala pedesaan.
__ADS_1
"ada perlu apa ya nak, dan dari mana asal kalian....?" tanya orang tua itu pada kami. aku diam bang Rahmat yang akan menjawab nya.
"maaf mengganggu sebelum nya tadz, nama saya Rahmat, dan ini istri saya Bunga. saya dari kampung sebelah. saya kesini ada yang ingin saya. tanyakan tadz, apakah ustadz tidak sedang sibuk...?" bang Rahman berkata dengan sopan dan lembut. ku lihat pak ustadz Hamzah manggut manggut mendengar perkataan bang Rahman.
"Alhamdulillah saya lagi tidak ada kerjaan. tapi tunggu dulu saya tinggal ke dalam dulu sebentar " ucap nya setelah itu berdiri meninggal kan kami. kami hanya saling berpandangan satu sama lain. hingga ta lama pak ustadz datang lagi .
"baiklah ceritakan lah dari awal...!" setelah pak ustadz itu duduk ia menyuruh bang Rahmat bercerita. bang Rahmat pun bercerita dari malam yang ada menyiram pintu depan kami hingga bubur itu. pak ustadz menyimak dengan seksama. dari dalam rumah datang seorang ibu ibu yang sepertinya istri pak ustadz ia masih sangat cantik menggunakan kerudung lebar dan panjang seperti ala santi wati. ia duduk di samping pak ustadz sambil menyodorkan 3 buah teh. setelah bang Rahmat selesai bercerita ibu itu baru membuka suara.
"silahkan di minum!" ucap nya dengan lembut.
"terimakasih ustadzah." ucap bang Rahmat.
"setelah saya mendengar dari kisah nak Rahmat kemungkinan itu adalah sejenis ilmu hitam yang di bubuhi di dalam makanan. kalian harus berhati hati. jangan sampai lengah. karna akibat nya akan fatal. perempuan itu sudah sering membuat onar banyak istri istri yang suami nya di rebut nya datang kemari. tapi saya hanya perantara allah jualah yang memiliki kuasa. kemungkinan jodoh mereka juga sudah habis hingga akhir nya mereka berpisah. laki laki nya memutus kan untuk memilih perempuan itu." jelas pak ustadz itu pada kami.
"lalu bagai mana tadz solusi nya...?"
"saya akan mencoba membantu dari sini. tapi ini keputusan tetap ada di nak Rahmat ia memiliki susuk yang bisa memikat laki laki dan lupa pada istri nya hingga bisa berbuat kasar pada istri. bapak harap nak Rahmat jangan lupa zikir jangan sampai lengah."
"baik pak terimakasih. kalo begitu kami undur diri dulu.." setelah meminum habis kami pun undur diri dan beranjak dari rumah pak ustadz Hamzah itu. di perjalanan aku membuka suara.
"bang istri pak ustadz tadi terlihat cantik ya. wajah nya memancarkan cahaya. aku ingin memakai hijab juga. bagai mana menurut abang...?" aku memuji istri ustadz Hamzah, dan meminta pendapat pada bang Rahmat kalo aku ingin memakai hijab.
__ADS_1
"bagus juga sayang biar niat awal melihat istri ustadz tapi akhir nya nanti terbiasa. aku setuju." ucap bang Rahmat. kami pun melanjutkan perjalanan hingga 1 jam lama nya. kami mampir di pedagang es degan muda pinggir jalan. menikmati suasana di pinggir persawahan dengan angin yang sedikit ke kencang bertiup. sangat asri dan jauh dari keramaian.
...****************...