
Setelah Tio dan 3 orang tadi datang mereka langsung menghampiri kami. Akhir nya aku tau yang mana orang nya yang bernama Tio.
"di mana paket itu tuan?" tanya Tio langsung.
"di dalam kamar. ambil dan buka di luar sini saja.!" ucap bang Rahmat.
kami pun sangat deg degan. suasana berubah menjadi menegangkan. bi Asih pun ikut keluar rumah. aku memegang erat tangan bang Rahmat. ke 3 anak buah Tio masuk ke dalam rumah. setelah mengambil paket itu mereka pun ke luar.
"tuan, paket nya tidak berat. !" jelas salah satu anak buah Tio tadi.
"ya sudah buka di bawah pohon sana saja. !" ucap bang Rahmat menunjuk pohon jambu air di halaman ujung rumah.
"syang tunggu di sini saja ya. atau kamu mau ikut melihat nya?" tanya bang Rahmat pada ku.
"aku ikut bang, aku penasaran apa isi paket itu!" jelas ku.
"baik lah.!" bang Rahmat pun menggandengku ke arah anak buah yang sudah mulai membuka kotak itu. saat di buka betapa terkejut nya kami semua. mata kami serempak membelalak melihat isi paket itu. terlihat sebuah boneka yang sudah di lumuri cairan merah entah darah apa itu dan di perut boneka itu tertusuk pisau kecil. boneka nya berhijab menggambarkan seperti diriku. aku pun terjatuh ta bisa menahan berat tubuh ku. bang Rahmat langsung memegangi pundak ku.
__ADS_1
"sayang, tidak akan terjadi apa apa. ini hanya ancaman yang tak berarti.!" bang Rahmat mencoba untuk menenangkan ku. tatapan ku kosong menuju boneka itu. entah siapa yang ingin berniat mencelakakan aku seperti boneka itu.
"ini sebuah ancaman tuan, kita harus waspada." ucap Tio.
"ia aku juga sudah menduga nya.!" jelas bang Rahmat.
"kalian ber 3 saya tugas kan untuk menjaga rumah ini. !" ucap bang Rahmat pada ke 3 anak buah Tio tadi. mereka serempak menjawab dengan anggukan.
"Tio telpon kan 2 orang lagi untuk menjaga di belakang rumah jangan sampai lengah. aku tidak mau sesuatu terjadi pada istri dan calon anak ku. kalo ada orang pake motor menggunakan jaket hitam yang mencurigakan langsung tangkap dan laporkan pada ku. kalo bisa kalian jaga nya jangan kelihatan. supaya mereka bisa beraksi dengan rencana mereka sendiri. kalo lengah langsung eksekusi saja.!" kelas bang Rahmat pada mereka semua. ku lihat Tio sedang menelpon mungkin menghubungi yang 2 orang lagi.
"kalian bakar saja boneka itu!" perintah bang Rahmat lagi. setelah itu aku pun di bawa bang Rahmat masuk ke dalam rumah.
"bi tolong ambil kan air putih.!" ucap bang Rahmat pada bi Asih. aku sudah duduk di kasur di dalam kamar. aku tidak menangis hanya saja masih syok dengan semua kenyataan yang ada. aku pun meminum air yang di serahkan bang Rahmat pada ku.
"sayng sudah jangan takut tidak akan terjadi apa apa." ucap bang Rahmat.
"aku tidak apa apa bang, hanya berfikir siapa yang mau berniat jahat pada ku.!" ucap ku setelah aku sudah bisa menguasai diri.
__ADS_1
"tenang saja sayang orang orang yang berkemungkinan mencelakai mu besok akan ku penjara kan. !" ucap bang Rahmat. aku pun di baringkan nya.
"sayang abang mandi dulu ya.!" ucap bang Rahmat. aku pun mengangguk. setelah ia masuk ke dalam kamar mandi aku bangkit untuk mengambil kan baju ganti nya. penjaga mulai berjaga tapi aku tilik dari jendela kaca merela duduk di bawah pohon yang gelap. sekilas ta terlihat ada mereka karna mereka memakai pakaian serba hitam. setelah menyiapkan baju bang Rahmat tadi aku keluar untuk mengintip.
"sayang sedang apa?". aku sangat kaget, tidak tau dengan kehadiran bang Rahmat.
"sayang ngagetin aja sih" ucap ku sambil memukul sedikit lengan nya.
"hahahaa,, habis nya kamu serius sekali.!" ia malah tertawa. aku menepuk jidat ku sendiri.
"bang kamu bisa serius ga. aku lagi tegang ini" dengan gusar aku mengutarakan apa yang aku rasakan.
"ok ok, maaf. lagian kan sudah ada mereka. orang itu tidak akan bisa masuk kesini sekarang" ucap bang Rahmat.
"baik lah" ucap ku pasrah.
kami pun duduk di teras seperti biasa nya. ta lama terlihat orang yang berkendara motor itu berhenti di tempat biasa dan menyalakan roko. anak buah Tio tadi sudah bersiap dengan kendara an nya. ta menunggu waktu lama kedua anak buah Tio itu pun mengejar pengendara motor itu. hingga kami pun berlari menuju jalan untuk melihat dua motor saling kejar kejaran. aku berharap lelaki penguntit itu tertangkap. hingga kami tau siapa dalang dari semua nya. kami pun kembali ke teras untuk duduk. menunggu kabar dari mereka yang mengejar tadi.
__ADS_1