Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan

Kelahiran Kembali Doctor Ivvone Yuan
Bab 115. Selir Renata Mengadu


__ADS_3

Wajah Oscar seketika berubah, dia tidak pernah melihat Clara seperti ini, selama ini, tutur katanya lembut, tindakannya juga murah hati, ramah terhadap orang lain, bahkan jika bukan bawahan di kediaman sendiri, dia juga tidak pernah mengeluarkan sikap sombong sebagai seorang Permaisuri, bahkan sangat bersikap murah hati pada para Bibi yang sudah tua di Istana.


Clara belum pernah bersikap setajam itu.


Clara pasti sangat ketakutan.


Oscar berpikir demikian, mengulurkan tangan dan memeluknya, “Tidak apa-apa, jangan emosional.”


Clara bersandar di bahunya, seperti boneka kayu, mendengus sekilas, Clara tahu bahwa dirinya kehilangan kendali, tapi dia sudah tidak peduli, Oscar itu naif, begitu setia padanya, bahkan jika sikap Clara begitu pahit, keras, dan juga kejam, Oscar juga tidak akan membencinya.


Mungkin, dia sudah harus melupakan Kak Ronald, Oscar sangat baik, dan lagi dia masih yang paling baik saat ini, memberikan semua yang Clara inginkan.


Memikirkan kata-kata mengecam yang diucapkannya pada Ivonne, Clara merasa malu dan juga marah, kenapa dia bisa mengatakan perkataan sekasar itu? Itu seharusnya Ivonne.


“Mengapa Ivonne mendorongmu ke danau? Apa dia gila?” Oscar bertanya setelah melihat Clara yang sudah sedikit tenang.


Clara perlahan menjadi tenang, ketika dia melihat Ivonne berada di tepi danau saat berada di kediaman Indra, dia memiliki dorongan hati untuk mendorongnya ke danau, ingin membunuhnya.


Kekejaman yang tiba-tiba tumbuh itu, membuat Clara tidak mengaturnya dengan baik, hanya berpikir ingin menenggelamkan Ivonne saat itu, tapi mereka berdua malah jatuh ke danau bersama.


Tapi pada saat terjatuh ke danau, dia teringat kata-kata Kakeknya, tubuhnya gemetar, aura membunuhnya memudar, tapi Clara tidak bisa dengan mudah melepaskannya.


Clara berusaha menekannya, harus membuatnya melakukan perlawanan yang kuat, jika Ivonne melukai dirinya, maka itu dapat membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah, setidaknya Kak Ronald akan membenci Ivonne sejak saat itu.


Tapi mengapa, Clara bahkan bisa salah menebak hal ini?


“Wanita itu benar-benar sangat kejam, kupikir dia sudah berubah.” Oscar berkata dengan marah.


Clara berusaha bersikap kembali bersemangat, “Sudahlah, aku juga tidak kenapa-kenapa, tidak usah mempermasalahkannya lagi.”


“Clara, kamu itu terlalu baik, jika kali ini kamu dengan mudah melepaskannya, siapa yang tahu apa akan ada kali berikutnya lagi?” Oscar merasa hal ini tidak bisa dibiarkan seperti ini begitu saja, melihat penjelasan apa yang akan diberikan oleh Kak Ronald, jika dirinya tidak puas, maka dia akan mengadu pada Ayahnya.


“Kita semua keluarga, tidak baik jika merusak hubungan, dan lagi dia juga bersikap impulsif dalam sesaat, mungkin melihatku adalah teman masa kecil Kak Ronald, berpikir bahwa Kak Ronald memiliki perasaan padaku, jadi bisa bertindak tidak rasional.”

__ADS_1


“Ini konyol, meskipun kamu tumbuh besar dengan Kak Ronald dan juga pernah hampir menikah, tapi sekarang masing-masing sudah menikah, tidak perlu mengungkit masa lalu, dia begitu terobsesi dengan masa lalu, sebenarnya apa tujuannya?”


Clara menghela nafas pelan, “Apa lagi tujuannya? Paling-paling juga demi posisi Pangeran Mahkota.”


“Demi posisi Pangeran Mahkota?”


Clara bersandar dengan lembut di pelukan Oscar, “Sekarang posisi Pangeran Mahkota masih belum diputuskan, kamu adalah orang yang paling diharapkan, hatinya pasti tidak nyaman, jika memprovokasimu dan juga Kak Ronald, maka Kak Ronald mungkin ingin mengambil posisi ini, dengan begitu dia dapat mencapai keinginannya dan juga menjadi Permaisuri Mahkota. ”


Oscar sangat marah, “Dia yang seorang wanita bisa memiliki ambisi seperti itu? Mana mungkin aku membiarkannya mendapatkan apa yang dia inginkan?”


Hati Clara sedikit tenang, jika dia bisa memprovokasi Oscar seperti ini, maka bukankah itu adalah hal yang baik.


“Ibu terus mencalonkan dirimu, walaupun aku merasa kamu tidak peduli akan posisi Pangeran Mahkota, aku juga tidak peduli, tapi di Dinasti Tang Utara ini tetap memerlukan seorang Raja yang memiliki kemampuan. Raja Juno itu tindakannya cukup kejam, kudengar desas-desus sebelumnya Kak Ronald ingin dibunuh oleh orang, itu dilakukan oleh orang Raja Juno, jika Raja Juno berani bertindak pada Kak Ronald, maka tidak mungkin tidak berani bertindak padamu.”


“Kak Juno?” Wajah Oscar sedikit berubah, “Kamu mendengar desas-desus dari mana?”


“Tidak perlu bertanya, beritanya bisa dipercaya.”


Oscar tahu bahwa sumber berita Clara adalah dari keluarganya, jika begitu, maka itu sudah pasti benar, Oscar tidak bisa menahan kemarahan dan kesedihannya, demi posisi Pangeran Mahkota, saudara-saudaranya saling berebut, saling membunuh, betapa kejamnya itu?


Tapi jika Kak Juno mendapatkan kekuasaan, dapatkah dia mundur dan menjadi seorang Raja dengan tenang?


Clara kembali berkata, “Demi posisi Pangeran Mahkota, semua orang memiliki ambisi, bahkan Ivonne tahu hubungan yang kuat ini, ini bukan pertempuran untuk merebut kekuasaan, ini bahkan pertarungan hidup dan mati, tidak peduli apa kamu ikut atau tidak, kamu tidak dapat melarikan diri karena kamu adalah keturuan Kaisar, Raja Juno bisa menolerir semua orang di masa depan, tapi dia tidak akan menolerirmu dan juga Ibu. ”


Oscar meraih tangannya, “Aku akan memikirkannya baik-baik, kamu jangan terlalu khawatir.”


Oscar mungkin tidak memikirkan masalah ini di dalam hatinya, tapi dia selalu berpikir bahwa masih belum mencapai titik itu.


Tapi hari ini begitu tahu bahwa Kak Juno memerintahkan orang untuk membunuh Kak Ronald, tiba-tiba dia baru menyadari bahwa bukannya masih belum mencapai titik itu, tapi dirinya yang takut hingga tidak berani menyentuhnya.


Dua Permaisuri terjatuh di danau di Kediaman Raja Indra dengan cepat tersebar keluar.


Orang yang paling marah tentu saja adalah Selir Renata.

__ADS_1


Indra sakit parah, sudah mencapai tahap akhir dalah hidupnya, tapi masih saja mengalami gangguan seperti ini, bagaimana mungkin itu tidak membuatnya marah?


Selir Renata menangis sambil pergi ke kediaman Kaisar Mikael, melaporkan masalah ini.


Setelah melapor, dia mengeluh sambil menangis, “Permaisuri Ivonne benar-benar sangat menindas orang, dendam apa yang dia miliki dengan Permaisuri Clara, mereka bisa menyelesaikannya di luar, mengapa harus melakukan hal yang berdosa ini di kediaman Indra? Jika di kediaman Indra ini ada nyawa yang melayang, bukankah itu menjadi dosa Indra?”


Kaisar Mikael juga sudah sangat terganggu memikirkan penyakit putranya, mendengar keluhan dari Selir Renata, dia sangat marah, “Permaisuri Ivonne beraninya berbuat seperti itu di kediaman Indra? Benar-benar kurang ajar, kamu tenang saja, aku pasti akan menanyakan hal itu padanya.”


“Kaisar, bukannya aku yang suka mengadu, tapi kamu juga tahu mengenai penyakit Indra, dia tidak bisa menerima provokasi, sekarang terjadi hal seperti itu di kediamannya, jika dia panik dan marah maka kondisinya akan makin memburuk, aku benar-benar tidak tega padanya.” Selir Renata menangis hingga kehilangan santunnya, air mata dan ingusnya menutupi wajahnya.


Kaisar Mikael sangat marah, “Katakan pada Peter, minta dia pergi ke kediaman Indra untuk menyelidikinya, kemudian panggil Permaisuri Ivonne datang ke Istana.”


Selir Renata berkata, “Kaisar, Permaisuri Clara adalah korban, setelah terjatuh ke danau dia begitu ketakutan, Kaisar harus memerintahkan orang untuk menenangkannya.”


Kaisar Mikael melihat Selir Renata yang sudah sampai seperti ini saja, masih mengingat bahwa dia tidak dapat menyinggung Ratu dan juga keluarga Cui, benar-benar orang yang berpikiran jernih.


Bahkan para selir di Istana juga tahu tidak boleh menyinggung keluarga Cui.


Setelah Selir Renata pergi, Kaisar Mikael masuk ke dalam ruangan.


Permainan catur diletakkan di atas meja, terlihat seperti sedang dimainkan setengah jalan, dalam situasi itu, harus membunuh, tapi mereka yang mahir dalam permainan itu jika melihatnya, sudah dipastikan bahwa pihak putih sudah kalah, semua jalan sudah terputus, jika terus dimainkan hanya akan mati.


Timothy bangkit, “Kaisar, giliranmu!”


Kaisar Mikael duduk di posisi pion putih, menghela nafas berkata, “Sudahlah, tidak main lagi, hatiku jengkel, sangat jarang bisa mengalahkanmu, sayang sekali.”


Dia mendorong poin-pion itu dengan satu tangannya, membuat kekacauan di atas papan catur itu, “Permainan ini seri!”


Sudut bibir Timothy berkedut kemudian berkata, “Baiklah jika seri.”


“Kamu juga mendengar perkataan Selir Renata bukan? Timothy, bagaimana menurutmu cara mengatasi masalah ini?” Tanya Kaisar Mikael.


Timothy masih menatap permainan catur itu dengan raut sangat disayangkan, kemudian dia berkata, “Kaisar pasti telah memutuskan dalam hati, sama seperti permainan ini, pada kenyataannya sebenarnya menang dan kalah sudah ditentukan.”

__ADS_1


Kaisar Mikael tidak senang, “Apa urusannya masalah ini dengan permainan catur?”


Timothy memang orang yang tidak akan melepaskan hal yang tidak masuk akal, tidak bisa menerima kekalahan, bahkan seri pun dia tidak bisa menerimanya.


__ADS_2