
Ivonne melihat raut gelisah di wajah Ronald.
Ivonne kemudian bertanya, “Kenapa?”
Ronald menghela nafas pelan kemudian menggenggam tangan Ivonne, “Hanya merasa tidak berdaya.”
Ronald adalah anggota keluarga kerajaan, dia dapat bekerja untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat tapi kekuatannya sangat lemah.
Ivonne mengerti apa yang Ronald pikirkan, Ivonne bahkan merasa pria ini sangat imut.
Sepanjang jalan, mereka juga memaksa memasuki kerumunan. Ada sebuah toko pengobatan di ujung jalan, antriannya memanjang di depan pintu. Ada beberapa pasien yang berbaring di jalan, pakaian mereka kotor dan compang-camping, lalat juga beterbangan mengelilingi mereka.
“Begitu banyak orang yang mengantri? Apa tidak bisa pergi ke tempat lain untuk berobat?” Tanya Ivonne.
Rendi tersenyum, “Permaisuri, mereka tidak mampu membayar jika pergi ke tempat lain untuk berobat.”
“Tidak mampu? Kalau begitu pemerintah … apa ada tempat pengobatan lain atau sejenisnya yang disediakan negara?”
“Ada. Departemen pengobatan Huimin.” Kata Ronald.
Ivonne bertanya, “Apa Departemen pengobatan Huimin juga sangat mahal?”
“Hanya ada dua Departemen pengobatan Huimin di kota ini, jika ingin mengantri untuk berobat maka harus menunggu selama 3 hingga 5 bulan, bahkan jika lama bisa menunggu selama 1 tahun.”
Ivonne terkejut, “Hanya ada dua Departemen pengobatan Huimin di sini? Kota ini begitu besar, bagaimana mungkin bisa mengatasinya?”
“Ada banyak tempat pengobatan di kota ini, hanya saja tidak semua orang mampu untuk membayarnya.” Kata Ronald.
Ivonne tertegun, “Sebenarnya apa alasannya? Tidak bisakah pihak negara membangun lebih banyak Departemen pengobatan Huimin?”
“Tidak ada tabib.” Ronald menggandeng tangan Ivonne memasuki kerumunan, kemudian perlahan-lahan menjelaskan, “Bahkan orang yang sudah belajar keterampilan pengobatan akan memilih untuk membuka tempat pengobatan sendiri. Bagaimana mungkin mereka mau bekerja di Departemen pengobatan Huimin? Uang yang mereka dapatkan itu tidak jauh berbeda dengan menjadi pengawal. Orang yang sudah mempelajari ilmu pengobatan selama beberapa tahun tentu saja tidak ingin seperti itu.”
“Lalu bagaimana jika orang yang sakit parah dan tidak bisa mendapat nomor antrian, atau jika mereka tidak mampu membayar tempat pengobatan lain, apa yang harus mereka lakukan?”
Rendi yang menjawab, “Tidak ada cara lain, jika bisa mencari tabib maka akan mencari tabib. Jika tidak bisa mencari tabib maka hanya bisa menunggu kematian.”
Hati Ivonne merasa tidak nyaman setelah mendengarnya.
Tapi Ivonne tidak bisa mengubah situasi ini.
Ivonne terdiam sepanjang jalan pulang.
Semua anggota keluarga Ivonne pada dasarnya adalah staf medis, paling peduli mengenai masalah medis dan kesehatan.
__ADS_1
Topik yang paling banyak dibahas di meja saat makan adalah mengenai kondisi medis, kemajuan dalam peralatan medis dan pengembangan obat.
Dan sekarang masalah-masalah ini sudah tidak perlu dibahas, karena banyak orang bahkan tidak memiliki cara untuk mendapatkan perawatan medis.
Sepanjang hari Ivonne merasa tidak bahagia.
Suasana hati Ronald juga tidak baik, dia berada di ruang kerjanya dan merenung.
Keesokan harinya, setelah Ronald kembali bekerja, Ivonne pergi ke kediaman Indra kemudian pulang.
Baru saja kembali ke kediaman, Ivonne mendengar dari Letty bahwa Cecil datang.
Cecil duduk dengan bosan kemudian berkata pada Ivonne, "Temani aku jalan-jalan.”
“Pergi ke mana?” Pelayan Cecil membawa begitu banyak barang, dia berkata, “Ini semuanya diberikan Nenek untukmu.”
Ivonne melihatnya sekilas, benda-benda itu adalah satin, cemilan dan juga tonik kesehatan.
“Mengapa Nenek memberiku begitu banyak barang?” Tanya Ivonne.
Cecil berkata, “Nenek tahu kamu terluka, mendengar aku ingin datang kemudian Nenek menyuruhku untuk membawakanmu barang-barang ini.”
Ivonne merasa sedikit bersalah, akhir-akhir ini dia hanya pulang 1 kali untuk menjenguk Nenek.
Cecil berkata, “Seperti biasa, tidak jauh lebih baik, tapi juga tidak memburuk.”
“Aku akan pulang untuk menjenguknya dalam dua hari ini.” Kata Ivonne.
Kedua kakak beradik itu keluar dari rumah dan menaiki kereta kuda, supir pengemudi bertanya, “Permaisuri ingin pergi ke mana?”
Ivonne bertanya pada Letty, “Kemana kita pergi kemarin?”
“Jalan Felona.” Kata Letty.
“Kalau begitu pergi ke Jalan Felona.” Kata Ivonne.
Supir pengemudi kemudian menjawab, “Baik!”
Kereta kuda itu berjalan di atas jalan bebatuan dan melaju keluar dari kediaman Ronald.
Setelah beberapa saat, kereta kuda itu berhenti.
“Permaisuri, sudah sampai!” Kata supir pengemudi.
__ADS_1
Ivonne membuka tirai kereta kuda, tapi tempat ini bukan tempat yang ingin Ivonne datangi, tapi merupakan jalan yang pertama kali didatanginya kemarin, masih begitu ramai dan juga makmur.
Cecil sudah turun dari kereta kuda dan berkata dengan gembira, “Kak, ayo pergi ke toko pemerah pipi, aku ingin membeli banyak barang.”
Setelah selesai berbicara, Cecil mengulurkan tangan dan menggandeng tangan Ivonne.
Ivonne harus menemani Cecil berjalan-jalan lebih dulu.
Ivonne tidak ingin membeli apa-apa, tapi Cecil suka membeli barang, terutama di toko pewangi aromaterapi dan toko pemerah pipi.
Setelah membeli beberapa pewangi, keduanya kemudian beralih le toko pemerah pipi.
Ketika masuk ke dalam, Ivonne melihat Clara dan dua gadis lainnya sedang memilih pemerah pipi, ada sekelompok pelayan yang mengikuti di belakang mereka.
Ketika Clara melihat Ivonne, dia sedikit terkejut, tapi kemudian menyapanya dengan senyum, “Permaisuri Ronald, benar-benar kebetulan!”
Ivonne berkata, “Permaisuri Clara, benar-benar kebetulan.”
Mendengar Clara memanggilnya Permaisuri Ronald, dua gadis di sebelah Clara itu mendongak dan menatapnya.
Gadis di sebelah kiri mengenakan gaun bermotif bunga musim gugur, rambutnya disisir naik ke atas menggunakan aksesoris rambut bermodel phoenix batu giok putih, wajahnya begitu dingin tapi sangat cantik, seperti bunga mawar merah yang baru mekar.
Gadis di sisi kanan Clara sedikit lebih kurus, matanya tajam, fitur wajahnya juga begitu cantik, tapi gaya berpakaiannya sedikit lebih buruk dibanding gadis di sebelah kiri.
Clara berkata pada keduanya, “Steffie, Rebecca, masih tidak menyapa Permaisuri Ronald?”
Tatapan Ivonne jatuh pada Steffie.
Kecantikannya itu begitu berduri, ekspresinya dingin dan menghina, dia juga tidak memberi hormat, hanya melirik Ivonne sekilas dengan datar.
Mengenai gadis di sebelah kanannya, Chu Rebecca, dia hanya melirik Ivonne sekilas, raut wajahnya juga tidak terlihat baik, dia hanya berkata dengan dingin kepada penjaga toko, “Tempat apa ini? Apa tempat ini adalah tempat yang bisa didatangi sembarangan? Apanya yang Permaisuri? Siapa yang tidak tahu bagaimana dia bisa mendapatkan posisi Permaisuri itu? Tidak tahu malu!”
Ivonne tahu kekurangannya, dia selalu kalah dalam pertengkaran.
Jadi Ivonne berbalik dan ingin membawa Cecil pergi.
Cecil melepaskan tangan Ivonne kemudian maju dan menunjuk ke arah Rebecca, memaki berkata, “Siapa yang tidak tahu malu? Bagaimana Kakakku mendapatkan posisi sebagai Permaisuri Ronald, memangnya dia merebut dari siapa? Merebut darimu? Apa kamu ingin menjadi Istri Ronald? Atas dasar apa? Orang yang seperti dirimu bisa bersikap begitu sombong di sini, bukankah pengajaran dan aturan di keluarga Chu itu sangat tegas, mengapa bisa mengajarkan orang yang bermulut buruk seperti dirimu? Apa Keluarga Chu tidak takut dimaki oleh orang di luaran sana.”
Rebecca tidak berharap dirinya akan dibalas, dan juga makian itu benar-benar tidak enak didengar, raut wajahnya seketika memucat.
Rebecca tahu kedua kakaknya membenci Ivonne, dia berlaku seperti itu tadi karena ingin melampiaskan demi Kak Clara.
Melihat tatapan dingin Kakaknya, seketika Rebecca panik kemudian dia mengangkat tangannya dan ingin menampar Cecil, dengan marah berteriak, “Aku akan membunuhmu.”
__ADS_1