
Ketika Tabib selesai memeriksa dan keluar, Hendra kemudian menarik Tabib dan Rendi pergi ke aula utama untuk minum teh.
Hendra mencoba bertanya pada Rendi, “Bagaimana cedera Yang Mulia?”
“Terima kasih atas perhatian Tuan Hendra, Yang Mulia sudah jauh lebih baik.” Rendi masih sangat baik di luar.
“Itu …” Hendra tertawa, “Apa Permaisuri merawat Yang Mulia secara pribadi? Putriku ini, ketika berada di rumah itu sangat dimanjakan, takutnya dia malah membuat Yang Mulia marah bukan?”
“Yang Mulia tidak pernah marah pada Permaisuri.” kata Rendi yang berbohong, tentu saja ini sudah diperintahkan oleh Yanto, dia mengatakan bahwa jika Hendra tahu Permaisuri dan Yang Mulia memiliki hubungan yang kuat, tentu saja tidak akan menyulitkan Permaisuri.
“Benarkah?” Hendra sedikit tidak percaya, tapi bawahannya mengatakan bahwa Ivonne membantu memapah Ronald memasuki kamar, ini dilihatnya sendiri, kecuali, Ivonne benar-benar telah mendapatkan hati Ronald?
Tabib kerajaan membantu, dia berkata, “Hubungan Yang Mulia dan Permaisuri benar-benar sangat baik, beberapa hari ini demi merawat luka Yang Mulia, Permaisuri terus berada di samping untuk merawatnya.”
Tentu saja, Tabib Cao tidak tahu bahwa Ivonne datang hanya untuk mencuri ilmu, Ivonne tidak mengerti pengobatan tradisional, tapi dia percaya pada pengobatan medis tradisional, lagipula setelah melakukan penelitian terhadap obat sekian lama, dia juga pernah mencoba mengekstrak tumbuhan herbal untuk pengembangan obat-obatan herbal.
Artemisina, yang digunakan untuk mengobati malaria dan lupus, itu juga secara langsung diekstraksi dari Artemisia, atau diekstraksi dari asam artemisinat yang memiliki kandungan tinggi dalam Artemisia.
Jadi dalam beberapa hari terakhir, Ivonne memikirkan cara untuk belajar pengobatan tradisional dari Tabib kerajaan.
Ketika Hendra mendengar perkataan Tabib Chao, dia baru percaya.
Terlepas dari mengapa Ronald mengubah pandangannya terhadap Ivonne, itu merupakan hal yang baik, lagipula sekarang mereka sudah menyinggung keluarga Cui, sudah tidak ada ruang untuk kembali, lebih baik berhadap pada Ronald.
Meskipun dikatakan bahwa Ronald tidak dipandang oleh Kaisar, tapi kekuasaannya masih ada, jika Ronald bersedia membantu, tidak sulit baginya untuk mempertahankan posisi menteri.
Hendra dengan puas mengantar pergi Tabib Chao dan Rendi.
Rendi kembali dan melapor pada Ronald, mengatakan bahwa Hendra sangat bahagia, mungkin dia tidak akan mencari masalah dengan Permaisuri untuk sementara waktu.
Ronald memandang Ivonne dengan sedikit marah, “Tidak perlu berterima kasih padaku!”
Ivonne mengertakkan giginya, berdiri kemudian berbalik badan lalu pergi.
Ronald menang, dia tersenyum bangga.
Kenyataan menunjukkan bahwa Hendra adalah orang yang sangat tidak tahu malu.
Beberapa hari yang lalu masih ingin memarahi Ivonne, hati ini dia meminta Istrinya untuk datang membawa hadiah dan berkata bahwa ingin menjenguk Ronald.
__ADS_1
Dulu mereka tidak berani datang untuk menjenguk, tapi setelah pernyataan dari Tabib Chao dan Rendi kemarin, mengetahui bahwa hubungan Permaisuri dan Yang Mulia sekarang sangat dekat, jadi mereka segera datang.
Di satu sisi juga ingin memastikan apakah perkataan Tabib Cao dan Rendi itu benar.
Di sisi lain juga mengambil kesempatan untuk bersikap baik, berusaha untuk menjalin hubungan keluarga yang normal.
Hendra tidak datang, bahkan Istri Hendra, Nelly juga tidak datang, terhadap Keluarga Cui sana, mereka masih menyimpan harapan, jika mereka datang menjenguk Ronald, maka sama saja sudah menyerah akan Keluarga Cui.
Nenek Viona datang membawa menantu dari putra tertuanya, Yenny dan juga Cecil.
Hadiah yang dibawanya adalah obat untuk imunitas tubuh, tidak bisa dibilang mahal, dapat dibeli di toko obat.
Ivonne bertemu mereka di Paviliun Serenity, Yenny memasuki pintu dan berjalan berputar-putar melihat sekeliling, Paviliun Serenity ini sangat besar, sayangnya memajang benda-benda yang tidak berharga, dia menyeringai, Ivonne tidak terlihat disukai.
Nenek Viona dengan ramah berbicara pada Ivonne, “Apa luka Yang Mulia sudah lebih baik? Aku harusnya datang berkunjung lebih awal, hanya saja aku harus mengurus segala sesuatunya di rumah, jadi aku baru bisa datang sekarang, kuharap Yang Mulia memaklumi.”
Ivonne merasa tidak nyaman dengan keramahannya, berkata dengan datar, “Dia memaklumi atau tidak aku tidak tahu, apa lebih baik Nenek Viona yang bertanya padanya?”
Lebih baik pergi ke tempat Ronald sana, agar Ivonne tidak perlu menjamu mereka.
Nenek Viona berpikir Ivonne bersikap sombong, tapi tidak masalah, jika dia bisa bersikap demikian maka membuktikan bahwa dia memiliki kuasa, manusia harus seperti ini, ketika mendapat kekuasaan maka harus berlagak, ketika kehilangan kekuasaan maka harus menanggungnya.
Ivonne berkata, “Tidak perlu mengatur, langsung pergi ke Paviliun Eternity saja, dia ada di dalam.”
Ketika Yenny mendengar kata-kata itu, dengan sengaja bersikap terkejut, “Bukankah Yang Mulia dan Permaisuri tidak tinggal di satu atap? Bukankah kalian suami istri, dan lagi masih belum mengambil selir, mengapa tinggal terpisah?”
Terhadap kata-kata yang sangat provokatif ini, Ivonne langsing mengaggap tidak mendengar, tapi Bibi Vera yang berada di samping langsung berkata, “Luka Yang Mulia masih belum sembuh, takut mengganggu tidur Permaisuri, jadi dia pindah ke Paviliun Eternity.”
Yenny memandangi Bibi Vera, “Kamu siapa? Mengapa tidak pernah melihatmu?”
“Dia Bibi Vera, bertugas melayani di sisi Paduka Kaisar, karena Paduka Kaisar takut tidak ada orang yang perhatian di kediamanku, jadi memintanya keluar dari Istana untuk melayaniku.” Ivonne berkata dengan datar.
Ketika Nenek Viona mendengar perkataan itu, dia bergegas berdiri dan membungkuk hormat pada Bibi Vera, “Ternyata kamu adalah Bibi Vera yang melayani di sisi Paduka Kaisar, aku sering mendengar namamu, aku memberi hormat untukmu.”
“Nyonya tidak perlu begitu sopan, aku hanya seorang budak yang melayani majikan.”
Majikannya adalah Permaisuri, mereka saja tidak begitu menghormati Permaisuri, mereka berlaku sopan pada dirinya yang merupakan seorang budak, perlakukan apa ini?
Perkataan yang memiliki maksud ini, Nenek Viona juga paham, dia tidak peduli, tersenyum dan berkata, “Bibi Vera adalah orang yang berada di sekitar kaisar, merupakan pejabat wanita di Istana, selama aku masih hidup, ketika bertemu dan memberi hormat itu sudah seharusnya.”
__ADS_1
Bibi Vera tidak berbicara, tapi raut wajahnya sudah sedikit tidak sabar.
Selama dia masih hidup, apa-apaan perkataannya ini? Memberi hormat ya memberi hormat, tidak perlu menekankan hal ini.
Cecil memandang Ivonne dan bertanya, “Mereka mengatakan bahwa Yang Mulia sekarang sudah bersikap baik padamu, apa itu benar?”
Cecil adalah orang yang lugas, langsung menanyakan apa yang ingin dia tahu, tidak perlu basa-basi.
Ivonne memainkan cangkir tehnya, “Tidak bisa dibilang baik.”
“Mengapa?” Cecil mengerutkan keningnya, “Mengapa dia tidak baik padamu?”
Ivonne sedikit tidak mengerti Adiknya ini sedang bermaksud baik atau sedang menyindirinya, tapi dalam ingatannya, tidak ada perasaan khusus terhadap Adiknya ini.
Yenny menarik tangan Cecil, tersenyum berkata, “Keponakanku yang baik, jangan tanyakan lagi, itu akan membuat Kakakmu malu karena tidak tahu bagaimana menjawabmu.”
Cecil menghempaskan tangannya, berkata dengan benci, “Pria di dunia ini semuanya adalah anjing, Raja Ronald ini sepertinya juga bukan orang yang baik.”
Ivonne langsung menyukai Adiknya ini, pemikirannya begitu unik, terutama kalimat yang terakhir.
“Aku ingin tinggal di sini selama beberapa hari, apa kamu bisa mengaturnya?” Cecil bertanya padanya.
Ivonne mengangguk, “Kamu tinggal di rumahku, aku yang akan menjadi tuannya, tidak perlu bertanya pada orang lain.”
Nenek Viona kembali mengungkit, “Tidak tahu apa bisa pergi mengunjungi Yang Mulia?”
“Ya.” Kata Ivonne.
Nenek Viona sedikit canggung, “Apa Permaisuri tidak menemani pergi ke sana?”
“Aku tidak pergi!” Ivonne melirik sekilas, “Aku punya banyak urusan untuk diurus.”
“Permaisuri ada urusan apa? Kudengar semua hal di sini diatur oleh Tuan Yanto, tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh Permaisuri, takutnya Yang Mulia tidak ingin menemui Permaisuri, jadi Permaisuri tidak berani pergi?”
Ivonne masih belum menjawab, sudah ada sosok yang bergerak di luar.
“Yang Mulia tiba!”
Suara Rendi terdengar.
__ADS_1
Orang-orang di ruangan itu seketika tercengang, Nenek Viona sudah bergegas bangun, tersenyum ke arah pintu.