
Ivonne berjalan pelan ke depan, berdiri di depan ranjang Paduka Kaisar.
Tidak sampai 2 hari, Paduka Kaisar sudah kurus seperti ini. Wajahnya pucat, bibirnya ungu, alisnya yang berantakan dan garang ini satu-satunya harga dirinya.
Pria yang tadinya merupakan orang yang paling kuat di negeri ini.
Sekarang bahkan hidup dan matinya sendiri dia tidak dapat mengendalikannya.
Ivonne meletakkan tangannya di dadanya, merasakan jantungnya berdetak perlahan, nafasnya sedikit kacau.
“Bagaimana?” Raja Ralph berpikir Ivonne sedang memeriksa, jadi dia menghampiri dan bertanya.
Ivonne menggelengkan kepalanya, “Masih belum jelas.”
Mata Raja Ralph jelas sedikit kecewa.
Raut wajah Kaisar Mikael seperti biasa, memandangi Tabib Istana yang sedang menyelediki obat di samping.
Tabib Istana menghela nafas, berjalan menghampiri untuk melaporkan: “Kaisar, itu adalah racun cinnabar dengan wisteria.”
“Apa sulit untuk ditawarkan?” Tanya Raja Ralph.
“Tidak sulit, mengetahui racun apa itu maka sudah dapat meresepkan obat yang tepat. Resep sebelumnya itu tidak efektif melawan cinnabar dan wisteria, harus diganti dengan resep lain.” Kata Tabib Istana.
Karena Tabib Istana bisa menawarkan racun, maka Ivonne sudah tidak diperlukan di sini, Kaisar Mikael menyuruhnya kembali untuk merawat Ronald.
Ketika Ivonne mengundurkan diri, Kaisar menatapnya dan berkata, “Malam ini tinggal di Istana dan makan bersamaku.”
Ivonne tidak tahu bahwa ini adalah hadiah yang sangat besar, hanya berpikir bahwa itu hanya makan biasa, lagipula, mereka ini juga bisa dikatakan merupakan sebuah keluarga, jadi Ivonne menjawabnya sekilas kemudian mengundurkan diri.
Raja Ralph melihat Ivonne yang bagai tidak peduli, tanpa sadar makin menghargainya.
Hati Ivonne sebenarnya memikirkan hal lain yaitu bagian akar keturunan Ronald.
Lukanya itu baru saja dijahit, tidak tahu apa luka itu terbuka lagi atau tidak, lagipula sepanjang jalan ke Istana, sudah pasti akan mengenai luka, dan juga dia melangkah ratusan langkah, lukanya itu dekat dengan bagian telur, ketika tertarik maka sakitnya itu akan membuat orang seakan menggila.
Pria ini, kemampuannya menahan sakit benar-benar hebat.
Sebelumnya ada terlalu banyak orang di aula, dan lagi situasinya lebih kritis, Ivonne tidak punya waktu untuk mengurusnya, sekarang seharusnya hanya ada Yanto dan Rendi di sana, maka sudah tidak masalah.
Memasuki aula, benar saja hanya ada Rendi dan Yanto yang sedang berjaga, melihat Ivonne kembali, Yanto bergegas bertanya: “Permaisuri, bagaimana situasi Paduka Kaisar?”
Ivonne melirik sekilas ke arah Ronald, Ronald juga menolehkan kepala melihat Ivonne, pandangan matanya juga memiliki makna bertanya.
__ADS_1
“Sudah menemukan cara untuk mengobatinya.” Kata Ivonne.
Ronald jelas merasa lega, kepala dan bahunya akhirnya terkulai turun.
Aula itu bukanlah tempat yang baik untuk berbicara, semua orang hanya bersyukur kemudian tidak lagi membahasnya.
Ivonne berkata pada Rendi dan Yanto: “Kalian keluarlah telebih dulu, aku ingin memeriksa luka Yang Mulia.”
Ronald seketika menatap Ivonne dengan membelalakkan matanya, “Lukanya tidak masalah, kamu tidak perlu melihatnya.”
“Aku ingin melihatnya!” Ivonne berkata dengan makna dalam.
Yanto kemudian menarik Rendi keluar, akhirnya berkata: “Kami akan berada di luar, Yang Mulia bisa berteriak jika membutuhkan sesuatu.”
Wajah Ronald menggelap, apanya yang berteriak? Dia bukan seorang wanita.
Di sisi lain, Ivonne telah membuka kotak obat untuk mempersiapkannya infus dan juga obat penghilang rasa sakit dan anti peradangan, terhadap infus, sebenarnya Ronald menolak, melihat benda yang tidak diketahui apa itu mengalir ke dalam tubuhnya, itu sangat menakutkan.
Tapi yang lebih mengerikan adalah melihat pandangan mata Ivonne yang memiliki makna meremehkan, kemudian mendengarnya berkata: “Lebarkan kakimu!”
Ada beberapa gunjingan yang tersebar di Istana mengenai Ivonne.
Sebenarnya Ivonne benar-benar ingin memberi Ronald pemahaman ilmiah, ketika situasinya lebih lemah daripada orang biasanya, yang terbaik adalah jangan melawan, bersikap patuh, dengan begitu dapat meningkatkan efisiensi pihak lain dan juga mengurangi penderitaan bagi diri sendiri.
Ivonne sangat lelah dan berkata: “Cobalah untuk berpindah sedikit ke sana, biarkan aku berbaring sebentar.”
“Tidak bisa bergerak.” Ronald berkata dengan nada tidak baik, tapi ketika melihat wajah Ivonne yang kelelahan, dia perlahan bergerak dan memberikan posisi kosong.
Ivonne berbaring di sisi Ronald, kedua tangannya diletakkan di dahinya, menghela nafas berkata: “Kuharap semuanya baik-baik saja, biarkan aku menjalani hari yang tenang.”
“Jika Paduka Kaisar baik-baik saja, maka kamu bisa meminta untuk kembali ke kediaman.” kata Ronald.
“Setelah makan baru akan pergi.” kata Ivonne.
Ronald berkata dengan nada tidak baik: “Apa tidak ada makanan di rumah? Memangnya makanan di Istana begitu enaknya?”
“Kaisar memintaku untuk menemaninya makan malam ini.” Kata Ivonne.
Ronald terpaku, “Ayah memintamu menemaninya makan? Bukan menyuruhmu makan baru pergi?”
Sang Ayah suka makan sendirian, bahkan ketika pergi ke tempat Ratu, dia selalu makan terlebih dulu baru pergi ke sana.
Ronald tumbuh begitu besar, selain pesta Istana, dia tidak pernah makan bersama Ayahnya.
__ADS_1
Ivonne dengan sedikit sebal berkata: “Tidak tahu, dia berkata seperti itu, mungkin hanya basa basi.”
Ronald tahu Ayahnya tidak mungkin basa basi pada siapa pun, di mata sang Ayah, mengundang makan adalah hal yang sangat serius.
Jika bisa dikatakan, setelah Ayahnya dinobatkan menjadi Kaisar, yang pernah makan berdua bersamanya hanyalah Kakek saja.
“Apa yang harus kuperhatikan ketika makan dengan Kaisar?” Tanya Ivonne.
Wajah Ronald sedikit tidak enak dilihat, “Siapa yang tahu?”
Ivonne sedikit menopang kepalanya, “Tidak tahu?”
Berpikir Ronald tidak ingin mengatakannya, kemudian dengan samar berkata: “Jika aku membuat malu, maka kamu juga akan mendapatkan malu.”
Ronald terdiam sesaat, dengan perlahan berkata: “Aku tidak pernah makan berdua dengan Ayah.”
Ivonne tersenyum, “Ada begitu banyak orang dalam keluargamu, tentu saja bukan makan berdua, aku juga bukan makan berdua dengan Kaisar.”
“Bukan hanya kamu dan Ayah? Lalu ada siapa lagi?” Ronald sedikit terkejut.
“Tidak tahu, biasanya dia makan dengan siapa?” Ivonne menoleh memandang ke arah Ronald, wajahnya perlahan menjadi serius, “Tidak mungkin hanya aku dan Kaisar makan berdua saja bukan?”
Ronald berkata: “Ayah tidak pernah makan berdua dengan siapa pun.”
Ivonne terkejut, “Jadi biasanya dia makan sendirian?”
“Ya!”
“Kenapa?” Ivonne benar-benar tidak mengerti, begitu banyak Ratu di Istana ini, dan juga ada begitu banyak Pangeran dan juga Putri, semuanya bisa makan bersama, mengapa harus makan sendirian?
Ronald tidak bersuara, hanya menatap Ivonne dengan tatapan samar, dia tidak tahu mengapa sang Ayah suka makan sendirian, dan dia tidak tahu mengapa sang Ayah yang biasanya selalu suka makan sendirian itu hari ini ingin makan bersama dengan Ivonne.
Kepala Ivonne dibenamkan ke atas bantal, selama beberapa saat tidak menarik nafas, dia tidak ingin makan berdua dengan Kaisar.
“Jangan takut, Ayah juga tidak akan memakanmu.”
Ivonne merasa sebal dan berkata: “Aku bukannya takut, tapi dua orang yang tidak dekat makan berdua itu benar-benar sangat canggung, tidak tahu harus berkata apa.”
“Apa lagi yang bisa kamu katakan? Dia bertanya apa padamu maka kamu menjawabnya, jangan mengatakan lebih banyak.” Suara Ronald jelas sedikit jengkel.
Ivonne mendengarkan emosi dalam nada bicara Ronald, dia tidak ingin memprovokasi pria ini, jadi dia menutup matanya untuk beristirahat.
Pria ini merasa sangat kesal, Ayahnya ingin makan bersama dengan Ivonne, dia merasa itu hanyalah alasan saja, sebenarnya Ayahnya ingin mengetahui pergerakan Kediaman Ronald dari mulut Ivonne, Ayahnya tidak percaya padanya.
__ADS_1
Pelaku yang ingin membunuhnya itu sudah bunuh diri, masalah ini tidak bisa diselesaikan, Ronald tidak bisa membersihkan kecurigaan orang lain terhadap dirinya.