
Yanto melihat tampilan Ivonne yang mengangkat pisau dapur, jantungnya berdegup kencang ketakutan, ketika ingin membuka suara, Ronald perlahan berdiri, tangannya memapah meja, dengan suara dalam berkata, “Kalian keluarlah lebih dulu, Permaisuri mencariku.”
Peter menatapnya, “Yakin?”
“Pergilah.” kata Ronald.
Peter mengangguk. Berkata pada Yanto, “Ayo pergi”.
Yanto sangat khawatir, Peter baru saja berkata bahwa Permaisuri dikirim pulang dalam keadaan mabuk. Kemudian Permaisuri datang kemari dengan membawa pisau dapur, benar-benar sama sekali tidak ada pertahanan.
Seorang wanita yang mabuk itu benar-benar berbahaya. Luka Yang Mulia masih belum sembuh, tapi masih tidak masalah untuk merebut pisau itu dari tangan Permaisuri.
Dia kemudian pergi dengan Peter.
“Tutup pintunya!” Ivonne melambaikan pisau dapur, berkata dengan dingin.
Yanto menatap ke arah Ronald, kemudian Ronald berkata, “Dengarkan Permaisuri, dia punya senjata sekarang, dia yang paling hebat.”
Pintunya ditutup, ruangan itu sunyi, napas Ivonne terengah-engah, dada bergerak turun naik tanpa henti.
Ronald menatapnya, tidak ada kemarahan di wajahnya.
“Kamu menyindirku.” Ivonne semakin marah ketika mendengar kalimat yang baru saja Ronald ucapkan, dia punya senjata, jadi merasa yang paling hebat? Ivonne tahu, bahkan jika dirinya memiliki senapan mesin, dirinya masih adalah orang lemah di hadapan Ronald.
“Tidak menyindir, kamu mabuk,” Ronald mencoba berjalan menghampiri, suaranya sangat lembut.
“Jangan mendekat, berdiri di sana, kamu mendekat aku merasa itu berbahaya.” Ivonne berkata dengan marah sambil mengangkat pisau dapur.
“Aku tidak bersenjata dan juga terluka parah, akulah yang harusnya merasa itu berbahaya.” kata Ronald.
Ivonne berusaha memicingkan matanya, mencoba membuat ekspresi sengit, tetapi karena mabuk membuat matanya berair, sama sekali tidak ada aura mematikan.
Ivonne sedikit terhuyung-huyung, setelah berlari dia merasa kepalanya berputar, Ronald di depan matanya ini terus bergoyang tanpa henti, Ivonne menggumamkan kata kotor di mulutnya, “Sial, aku peringatkan untuk tidak bergerak.”
__ADS_1
Ronald mengangkat tangannya dengan tidak berdosa, “Aku tidak bergerak.”
Ivonne merasa bahwa dia perlu menyelesaikannya secepat mungkin, dia sangat mengantuk, “Aku tanya padamu, mengapa kamu mengatakan bahwa aku tidak setuju kamu mengambil selir?”
Ronald memandangnya, “Kamu memang tidak setuju.”
“Kapan aku mengatakan bahwa aku tidak setuju?” Ivonne berkata dengan sangat galak, pisau di tangannya kembali dihunuskan, sepotong daging cincang di pisau itu terlempar dan menempel di atas rambut Ivonne, kemudian Ivonne dengan asal mengulurkan tangan untuk menyingkirkannya, dengan kejam membuangnya ke lantai, Ivonne merasa gerakan ini benar-benar memalukan, karena itu ketika berhadapan Ivonne meningkatkan kepercayaan dirinya.
Sudut bibir Ronald berkedut, “Ketika kita menikah, kamu memperingatkanku bahwa tidak mengijinkanku mengambil selir.”
Benarkah? Ivonne memikirkannya sejenak, dia tidak mengingatnya. tidak memiliki ingatan ini dalam otaknya.
“Kamu tidak mengingatnya? Aku akan membantumu mengingatnya.” Ronald berjalan menghampiri tanpat mengubah raut wajahnya, terdapat nada menggoda dalam nada suaranya, “Apa kamu ingat situasinya saat itu? Aku setengah mabuk kembali ke kamar, kamu… ”
Ivonne mendengarkan dengan linglung, mencoba membuka matanya lebar-lebar, melihat wajah Ronald yang berayun di hadapanya, Ivonne tersentak mundur satu langkah, “Kamu menjauh, jangan mendekat, ucapkan perkataanmu baik-baik.”
Ronald hampir bisa memegang pergelangan tangan Ivonne, wanita ini begitu waspada, Ronald sudah sedikit kesal, tapi dia juga mundur selangkah, memandang Ivonne lekat.
Langkah Ivonne tidak stabil, menunjuk padanya dengan pisau dapur, wajahnya sangat merah, “Mundur, terus mundur, yang terbaik berdiri di samping ranjang, aku pusing, aku harus duduk baru bisa berbicara baik-baik denganmu.”
Ivonne dengan terhuyung-huyung berjalan ke depan meja, melihat bangku dan ingin duduk, tapi terduduk dengan tidak stabil dan terjatuh ke lantai, kursi itu terguling dan terkena lututnya.
Ivonne dengan kasar menendangnya, tapi dia sudah tidak bisa mengembalikan tatapannya yang kejam tadi, pisau dapur itu juga berat, pergelangan tangannya sudah sakit, sudah tidak ada tenaga lagi memegangnya, pisau itu terjatuh ke lantai dengan suara keras, ketika pisau itu memantul kebetulan lengan Ivonne terangkat, lengannya tergores pisau, sebuah goresan memercikkan darah.
Ivonne duduk di lantai terpaku selama dua detik, memikirkan dirinya datang kemari dengan memegang pisau dapur ingin menebas orang, pada akhirnya malah dirinya sendiri yang terluka, kemarahan dalam hatinya berubah menjadi kesedihan, kemudian Ivonne menangis dengan kencang.
Ronald melihat Ivonne duduk di lantai dan menangis keras tanpa memikirkan citranya, seperti seorang anak kecil yang begitu tertindas, hatinya sakit tanpa bisa dijelaskan, kemudian melihat tangannya masih mengalirkan darah. Ivonne mengangkat tangannya dengan asal untuk menyeka air matanya, darahnya mengenai wajahnya, tampilannya begitu menyedihkan seperti anjing liar yang kalah.
Ronald berjalan menghampiri dalam diam, merobek sepotong kain kasa yang ditinggalkannya sebelumnya, berjongkok untuk membalut lukanya, menghela nafas pelan dan berkata, “Anggap aku salah, oke? Jangan menangis, awalnya sudah jelek, begitu menangis makin bertambah jelek .”
Ketika Ivonne mendengarkan kalimat ini, dia menangis makin sedih, mendorongnya pergi, “Kamu pergi, siapa yang menginginkan kebaikan palsumu itu? Aku bisa sampai seperti ini hari ini juga dikarenakan dirimu.”
Ronald didorong hingga terjatuh ke lantai olehnya, menjulurkan tangan memegang dadanya, dengan menyakitkan berkata, “Kamu mengenai lukaku.”
__ADS_1
“Mengapa aku tidak melihatmu mati?” Ivonne berkata marah.
Alis Ronald terangkat, “Aku belum pernah melihat orang yang begitu ingin menjadi janda, jika aku mati, kamu akan menangis dengan hebatnya.”
Ivonne lupa akan tangisannya, memelotot marah padanya, “Jika kamu mati aku tidak akan menitikkan air mata setetes pun.”
“Ya, kamu tidak menangis, kamu bahkan akan menyalakan petasan untuk merayakannya.” Ronald berkata sambil tertawa.
Ivonne menyeka air matanya, “Menyalakan petasan itu tidak ramah lingkungan.”
“Ramah lingkungan? Apa itu ramah lingkungan?”
Ivonne memandangi wajah tampan Ronald yang mendekat padanya, teringat apa yang telah dia lakukan pada dirinya, berpikir bahwa kepalanya ini hanya akan bertahan sebentar di lehernya di kemudian hari, kepalanya pusing, kesedihan menerjangnya.
Ivonne mengulurkan tangannya, saat dia menyentuh pisau dapur, Ronald langsung menjulurkan kaki dan menendangnya, ketika menendang pisau dapur dia juga mengenai lengan Ivonne, hanya kurang tidak menendang hingga lengannya terlepas saja.
Rasa sakit menerjang, kemarahan di hati Ivonne tiba-tiba bangkit, dia berbalik dan bergegas menerjang Ronald, dengan penuh kebencian berkata, “kekerasan rumah tangga? Aku peringatkan padamu, tidak boleh memukulku, apa aku begitu mudah ditindas? Dasar pria brengsek, Ivonne itu buta makanya dia bisa melihatmu, wanita seperti ini jika tidka mati aku juga akan membunuhnya dengan tanganku sendiri.”
Ivonne menerjang sambil memaki dan memukul, langsung menduduki di atas tubuh Ronald, memukul dengan kedua tangannya, karena Ivonne sudah tidak bertenaga, ketika memukul seakan menggunakan kekuatan untuk memijat, sama sekali tidak bertenaga, tidak sakit malah terasa sedikit nyaman.
Tapi, Ivonne duduk … di tempat yang sepertinya tidak sepantasnya, ada … luka.
“Yang Mulia, apa butuh bantuan?” Suara cemas Yanto terdengar dari luar.
Ronald menanggapi dalam kesulitan, “Diam di luar, tidak diizinkan masuk.”
Dalam posisi seperti ini, jika mereka melihatnya, bukankah mereka akan menertawakannya seumur hidup?
Ronald meraih tangan Ivonne, berkata dengan marah, “Cukup, jangan berpikir aku tidak berani bertindak padamu dikarenakan dirimu sedang mabuk.”
Kedua tangan Ivonne tidak bisa bergerak, langsung menggunakan kepalanya untuk dibenturkan ke kepala Ronald, suara keras terdengar, Ivonne menggertakkan giginya, kepalanya berdengung.
Hidung Ronald sudah hampir miring dibentur oleh Ivonne, sangat sakit hingga air matanya sudah hampir menetes, memegang dagu Ivonne dengan satu tangannya, “Berhenti, dengar tidak?”
__ADS_1
Ivonne menolehkan kepalanya, membuka mulutnya kemudian menggigit Ronald.
“Apa kamu itu seekor anjing?” Ronald sangat marah, ingin menendang Ivonne, tapi melihat kebencian di wajah merah Ivonne, memikirkan bahwa kali ini dirinya memang sudah menyengsarakan Ivonne, akhirnya Ronald tidak mempermasalahkannya dengan Ivonne.