
“Bukankah begitu? Jika melahirkan seorang putra dan mati lebih awal, maka itu baru akan sangat menyakiti hati. Itu juga akan mempersulit keluarga kerajaan, mungkin saja orang luar sana akan mengatakan keluarga kerajaan tidak memiliki seorang putra selama bertahun-tahun tapi ketika mendapatkan seorang putra malah diambil kembali oleh langit, ini adalah hukuman untuk keluarga kerajaan.”
Permaisuri Juno mengidap penyakit karena merawat Indra.
Selir Liana terinfeksi karena merawat Permaisuri Juno, ini semua dikarenakan tindakan kebaikan dan cinta. Tidak dapat disalahkan dan malah harus dipuji.
Siapa yang bisa dia salahkan?
Ibu Suri dengan sedih berkata: “Tuhan tidak memiliki belas kasihan pada keluarga kita!”
Ronald tahu Neneknya ini masih merasa sedih, tapi beberapa waktu kemudian, masalah ini akan dilupakan perlahan-lahan.
Setelah menghiburnya beberapa kata, Ronald kemudian meminta Neneknya memakan setengah mangkuk bubur lagi.
Siapa yang tahu setelah Neneknya memakan bubur dia malah menatap Ronald dan berkata: “Kamu dan Istrimu itu sudah menikah selama lebih dari satu tahun, mengapa sama sekali tidak ada kabar baik? Jika dia tidak bisa memberi keturunan maka kamu harus mengambil seorang selir, sekarang bahkan selir untuk Oscar sudah ditentukan, kamu harus benar-benar berusaha.”
Nenek selalu berpihak pada Ronald, Nenek memiliki pemikiran sendiri di dalam hatinya, di antara begitu banyak cucunya, yang paling dipandangnya adalah Ronald.
Tentu saja itu karena Prilly adalah keponakannya, keluarga dari pihaknya mengalami kesulitan selama bertahun-tahun, selalu menantikan Ronald untuk dapat sukses mengangkat wajah dan menjadi kebanggaan keluarga.
Hanya saja itu semua adalah cucu-cucunya, meskipun tidak bisa memperlakukan mereka semua dengan adil, tapi juga berharap mereka itu baik, jadi Nenek juga begitu peduli mengenai kasus selir Juno ini.
Hal yang paling ditakuti Ronald adalah Neneknya mengungkit mengenai masalah selir, Ronald kemudian mengungkit Ivonne, “Mengenai selir, aku memiliki pemikiran sendiri, ditambah hubunganku akhir-akhir ini dengan istriku itu… ”
“Diam!” Ketika Nenek mendengar Ronald mengungkit Ivonne, amarahya kembali muncul, “Istrimu itu, bukannya aku ingin mengatainya, tapi dia itu pencemburu, berhati sempit, berpikiran sempit, jamuan yang diadakan sang Ratu itu bahkan Permaisuri lain sudah menyebutkan nama tapi hanya dia yang tidak menyebutkan dan berkata tidak menyukai satupun, apa dia benar tidak suka atau tidak ingin menerima? Jika dia bisa memberikan keturunan maka aku tidak akan mengatakan apa-apa mengenainya, tapi sudah menikah lebih dari setahun sama sekali tidak ada pergerakan, kalian ini sudah tidak muda, mengapa tidak tahu untuk bersikap panik?”
Ronald awalnya berpikir Ivonne sekarang dipandang tinggi oleh Kakeknya jadi harusnya Neneknya ini memberikan sedikit wajah padanya, tapi tidak menyangka malah langsung dimaki jadi Ronald harus melindunginya.
“Nenek, kamu tidak bisa menyalahkannya, aku yang tidak menyukai gadis-gadis itu, sebelum pergi aku sudah memperingatkannya dan tidak mengizinkan dia untuk menyebut nama sama sekali, aku bersumpah aku sama sekali tidak berbohong, atau seumur hidupku ini aku tidak akan mendapatkan keturu… ”
Nenek begitu marah hingga mengangkat telapak tangannya dan menampar sekilas wajah Ronald dengan pelan, “Omong kosong, untuk apa kamu bersumpah? Apa kamu begitu ceroboh? Jika berani bersumpah dengan membawa keturunan aku akan merobek mulutmu.”
“Ya, aku salah, Nenek jangan marah.” Ronald bergegas membujuk.
__ADS_1
Ibu Suri meliriknya sekilas, “Benar kamu yang tidak menyukainya?”
“Ya.”
Nenek menghela nafas, “Lalu seperti apa yang kamu inginkan? Katakan, biar Nenek yang akan mencarikan untukmu.”
Ronald berkata: “Nenek tahu aku sudah bergabung dengan tentara sejak aku berusia 16 tahun, aku selalu merasa bahwa wanita bangsawan itu begitu lemah yang bahkan bisa terbang ketika tertiup angin, wanita seperti itu jangankan bisa menahan rasa sakit ketika melahirkan, takutnya penderitaan selama hamil pun mereka tidak bisa menerimanya.”
Ibu Suri benar-benar mendengarkannya dan berkata: “Yang kamu katakan benar, tapi di sini hanya mementingkan ramping dan cantik, jarang menemukan wanita yang gemuk dan kuat, kamu tidak bisa menemukan wanita desa untuk dijadikan selirmu.”
Ibu Suri merasa seorang wanita begitu menderita ketika melahirkan, dirinya sudah pernah melahirkan jadi diirnya tahu seberapa pahit dan menyakitkan hal itu.
Dan hal itu benar-benar tidak mudah untuk wanita yang kurus dan lemah.
Jika memiliki bokong yang gemuk dan besar, tidak akan menjadi masalah melahirkan 2 anak dalam tiga tahun.
Cucunya ini memiliki selera yang bagus.
“Jadi aku baru berkata tidak usah terburu-buru mengenai masalah ini, mencari dengan perlahan-lahan, ini adalah keputusan seumur hidup, bagaimana mungkin meminta Ivonne untuk mencarinya dengan asal? Ivonne juga tidak berani mengambil keputusan untukku.” Kata Ronald.
Jika menurut sifat Ronald, dia harusnya bukan suami yang takut pada Istrinya.
Ronald tersenyum, “Lihat apa yang Nenek katakan? Hanya Ivonne saja apa mungkin aku tidak bisa mengaturnya?”
“Baguslah jika bisa, tentu saja, jika dia bisa melahirkan keturunan untukmu maka itu sangat baik, lagipula dia adalah Istri sah, anak yang dia lahirkan akan lebih baik dibanding anak yang dilahirkan oleh para selir.” kata Ibu Suri.
“Ya, ya!” Ronald menjawab sekilas, dia harus pergi atau tidak tahu hal apa lagi yang akan diucapkan Neneknya ini untuk mempersulitnya.
Benar saja, baru saja ingin undur diri, Neneknya kembali berkata: “Oh iya, Istrimu itu telah menyembuhkan penyakit Indra, minta dia untuk memeriksa Permaisuri Juno, jika bisa menyembuhkannya maka cepat sembuhkan.”
Ronald takut Neneknya mengatakan hal ini.
“Kenapa? Tidak mau?” Ibu Suri berkata dengan dingin.
__ADS_1
Ronald berkata: “Apanya yang tidak mau? Hanya saja Permaisuri Juno juga tidak mencarinya, mana mungkin Ivonne pergi sendiri ke sana? Dan lagi bulan ini tamu bulanan Ivonne belum datang, meskipun tidak bisa dikatakan hamil, tapi memiliki kemungkinan ini bukan? Jika terjadi sesuatu seperti kasus Selir Liana, bukankah itu akan membuat Nenek sedih sekali lagi?”
“Benarkah?” Ibu Suri bersemangat ketika mendengar tamu bulanan Ivonne belum datang, “Kalau begitu kamu harus memperhatikannya, kamu harus meminta Tabib untuk memeriksanya, tidak boleh sembarangan.”
“Baik!” Ronald langsung menanggapi.
Ibu Suri bahagia, setelah berbicara beberapa kata dengan Ronald dia kemudian menyuruh Ronald pergi.
Di malam harinya, Ronald pulang ke rumahnya dan berkata dengan santai, “Oh iya, hari ini aku tidak sengaja memberitahu Nenek bahwa kamu mungkin sedang hamil.”
Ivonne sedang meminum sup, ketika mendengar Ronald berkata demikian hampir saja Ivonne menyemburkannya, Ivonne bergegas menelannya kemudian melotot padanya dan berkata: “Omong kosong apa yang kamu bicarakan? Dari mananya aku hamil?”
“Bukankah itu juga karena terpaksa? Nenek terus mencecarku mengenai masalah Selir, dan juga memintamu untuk merawat Permaisuri Juno.” Ronald meminum seteguk air, dirinya hari ini benar-benar lelah.
Ivonne mengerutkan kening, “Merawat Permaisuri Juno? Bagaimana caranya? Apa ada obatnya?”
“Nenek mana mungkin tahu mengenai kotak obat? Aku hanya bisa mengatakan bahwa tamu bulananmu belum datang dan mungkin kamu hamil.” Kata Ronald, tiba-tiba menatap Ivonne dengan serius, “Benar juga, kita sudah melakukannya begitu lama, mengapa aku tidak melihat tamu bulananmu itu datang?”
Ivonne memegang mangkuk kemudian berkata, “Datang atau tidak apa kamu harus melihatnya?”
Ronald tersenyum, “Tamu bulananmu itu datang atau tidak, aku sudah pasti tahu. Setiap malam aku menidurimu berkali-kali dan tamu bulananmu itu tidak datang.”
Ivonne begitu marah, melirik sekilas ke arah Letty yang sedang tertawa sambil menutupi mulutnya, kemudian meneriaki Ronald, “Diam!”
Ronald berkata: “Apa kamu benar-benar hamil?”
Ivonne merasa malu dan marah, “Tidak, aku belum pernah datang bulan sebelumnya.”
Sebenarnya Ivonne juga tidak begitu jelas mengenai masalah ini, tidak ada ingatan mengenai hal ini dari ingatan sang pemilik tubuh asli.
Ronald terkejut dan berkata, “Kamu masih belum datang bulan? Kamu… kamu sudah begitu tua, masih belum datang bulan?”
“Normal jika masih belum datang bulan di usia 17 atau 18 tahun, dan lagi, kamulah yang tua, usia kita berbeda jauh, masih memiliki malu mengatakan aku sudah tua?” Kata Ivonne dengan sebal.
__ADS_1
Di jaman modern normal jika datang bulan di usia 12 sampai 18 tahun, hanya perbedaan tubuh setiap orang saja.