
Hadiah dari Permaisuri Juno dan juga Permaisuri Clara juga sudah tiba.
Permaisuri Juno memberikan patung giok Dewi Welas Asih, dipahat dengan begitu indah dan merupakan barang yang baik serta bernilai mahal, Permaisuri Juno kali ini benar-benar mengeluarkan banyak uang.
Permaisuri Juno bisa memberikan hadiah yang begitu mahalnya itu sama sekali tidak membuat Ivonne terkejut, mengenai masalah kehormatan tentu saja Permaisuri Juno akan melakukan yang terbaik.
Sebaliknya, hadiah dari Clara agak buruk.
Hanya dua akar ginseng dan beberapa angelica.
Clara adalah orang yang bersikap terang-terangan, sama sekali tidak akan melakukan hal hanya demi menunjukkan harga dirinya, Clara tidak menyukai Ivonne dan tidak ingin melihat Ivonne hamil, yang mengirim benda-benda ini kemari sepertinya adalah orang-orang dari kediamannya untuk sekedar menyampaikan niat saja.
Bagaimanapun mereka semua adalah keluarga, jika tidak mengirim apa-apa dan tidak menanyakan apa-apa sepertinya akan terlihat berhati sempit.
Jika mengirimkan makanan dan obat-obatan juga tahu bahwa Ivonne tidak akan memakannya, jadi tidak perlu memberikan yang terlalu baik.
Bibi Linda mencari tempat untuk meletakkan patung Dewi Welas Asih itu, tapi ketika sedang menyekanya Bibi Linda menemukan ada retakan di belakang patung Dewi Welas Asih itu.
Retakan ini tidak terlihat jelas, jika tidak melihatnya dengan telitit maka akan berpikir bahwa itu adalah pola dari giok.
Tapi semua patung Buddha harus dijaga tetap utuh.
Apa maksudnya mengirimkan patung Dewi Welas Asih yang sudah retak?
Bibi Linda sangat marah dan memberitahu Bibi Vera.
Bibi Vera kemudian berkata: “Sudahlah, letakkan saja di samping dan cukup beritahu Yang Mulia, jangan beritahu Permaisuri, jangan sampai Permaisuri marah.”
Bibi Linda dengan marah berkata, “Permaisuri Juno benar-benar keterlaluan, bukankah ini kutukan? Benar-benar belum pernah melihat wanita yang berhati hitam seperti itu.”
Bibi Linda biasanya sangat berhati-hati dalam perkataannya, memaki seorang Permaisuri seperti ini tidak pernah dilakukannya sebelumnya, bahkan terkadang ketika Letty berkata sembarangan saja Bibi Linda akan memarahinya.
Tapi Bibi Linda benar-benar merasa hal-hal seperti itu sangat tabu.
Ini adalah hal yang tidak baik.
Jika tidak menyadarinya dan meletakkan patung ini di dalam kamar, Permaisuri akan berhadapan dengan patung Dewi Welas Asih yang retak ini sepanjang hari dan hal itu benar-benar tidak baik.
__ADS_1
Bibi Vera juga marah.
Tapi meskipun marah tapi tidak ada cara untuk mengatakan hal ini, lagipula ketika benda itu diterima mereka tidak menyadarinya, jika sekarang mengatakan terdapat retakan bukankah nantinya akan dikatakan mencari masalah?
Bibi Vera kemudian berkata: “Sudahlah, letakkan saja lebih dulu.”
Ketika Ronald pulang, Bibi Vera memberitahunya mengenai hal itu.
Ketika Ronald mendengarnya, dia benar-benar sangat marah.
Ivonne sudah muntah begitu parahnya selama beberapa hari, meskipun berada di ranjang untuk beristirahat selama beberapa hari dan tidak mengalami pendarahan tapi kondisinya juga tidak banyak membaik, Ronald begitu tidak tega pada Ivonne dan Permaisuri Juno malah sengaja melakukan hal seperti itu, Ivonne sekarang berada dalam kondisi yang buruk dan tidak boleh marah, jika Ivonne tahu dan marah bukankah itu akan mempengaruhi janinnya?
Ronald bahkan tidak semarah ini ketika dirinya hampir dibunuh.
Boleh saja bertindak padanya, tapi jika bertindak pada Ivonne maka itu sudah tidak dapat ditoleris.
Keesokan harinya, Ronald pergi ke birokrat pagi-pagi sekali dengan membawa beberapa kepala penyelidik dan prajurit ke kediaman Juno, mengatakan bahwa kematian Selir Liana itu mencurigakan dan perlu diselidiki dengan cermat.
Juno sudah pergi untuk mengurus masalah para bandit di prefektur Tingjiang, tapi bahkan jika Juno ada di sana, Ronald juga tidak akan bisa menerima hal itu.
Ronald membawa orang pergi ke halaman luar kediaman Permaisuri Juno kemudian berseru dengan lantang: “Kalian semua masuk ke dalam dengan memakai masker penutup, penyakit Permaisuri Juno itu menular, jika terkena penyakit maka akan mati, jika kalian tidak ingin memasuki gerbang kematian maka kenakan masker penutup dengan baik.”
Permaisuri Juno tentu saja bisa mendengarnya di dalam, raut wajahnya kaku tapi berusaha mengulas sebuah senyum yang aneh.
Ronald masuk ke dalam, Permasuri Juno sedang duduk di atas bantalan empuk, dengan raut wajahnya yang datar berkata: “Ronald, kamu datang?”
Ronald menatapnya dan berkata, “Kakak ipar, aku minta maaf mengganggumu yang sedang sakit, tapi aku harus kemari untuk bertanya pada Kakak dan tolong Kakak jangan menyembunyikan apapun.”
Permaisuri Juno berkata: “Tidak masalah, mendengar nada bicaramu itu, aku ini adalah orang yang sudah akan mati jadi tentu saja tidak ada yang perlu disembunyikan.”
Ronald menatap wajah Permaisuri Juno yang datar, teringat patung Dewi Welas Asih yang diberikannya itu, Ronald marah dan berkata, “Tidak perlu berkecil hati, penyakit ini belum tentu akan membuatmu mati, kudengar dari Tabib jika meminum obat secara teratur maka Kakak mungkin akan dapat bertahan selama 2 sampai 3 tahun.”
Ada kemarahan yang membara di mata Permaisuri Juno, tangannya memegang cangkir porselen putih, buku jari-jarinya memutih, “Ronald, kamu masih belum mengatakan alasanmu kemari.”
Ronald mengubah raut wajahnya menjadi raut wajah serius, “Begini, saat ini aku menerima laporan dari orang yang tidak diketahui yang mengatakan bahwa Selir Liana dipaksa hingga mati oleh Kakak ipar, Kakak mengancamnya dengan menggunakan keluarga Selir Liana hingga memaksa Selir Liana untuk bunuh diri.”
Permaisuri Juno berkata dengan dingin, “Mengapa aku harus melakukan hal itu?”
__ADS_1
Ronald menatapnya dan berkata dengan dingin: “Laporan rahasia mengatakan bahwa Permaisuri Juno tidak memiliki kemungkinan untuk memiliki keturunan, takut Selir itu melahirkan seorang putra dan akan mengancam posisimu sebagai Permaisuri jadi harus membunuhnya, tapi jika melakukannya dengan tanganmu sendiri maka akan ketahuan, karena itu mengancam dan mengintimidasi Selir Liana untuk bunuh diri, karena jika Selir Liana sendiri yang bunuh diri maka tidak akan bisa dikatitkan padamu dengan cara apa pun.”
Ekspresi Permaisuri Juno berubah beberapa kali, pada akhirnya tersenyum dengan enggan, menatap ke arah Ronald dan berkata, “Perkataan tanpa bukti itu juga kamu percaya?”
Ronald berkata: “Maka dari itu aku datang untuk bertanya, jika Permaisuri Juno menyangkal maka orang ini sudah melakukan fitnah dan aku pasti akan menyelidikinya.”
Permaisuri Juno mencibir, “Menyelidiki?”
Jika mengakui maka itu sudah pasti tidak mungkin.
Namun jika kasus ini terus diselidiki, tidak tahu sampai berapa lama masalah ini akan bertahan, begitu penyelidikan dibuka bahkan jika penyelidikan akhir adalah fitnah tapi orang-orang mungkin sudah akan menyebarkan berita mengenai dirinya yang memaksa sang selir untuk bunuh diri.
Permaisuri Juno begitu membenci di dalam hatinya, tapi dirinya tidak bisa mengucapkannya.
Setelah terdiam selama beberapa saat, Permaisuri Juno melunak dan terbatuk sekilas, “Ronald, kamu yang bersikap seperti ini dikarenakan patung Dewi Welas Asih itu bukan?”
Ronald menatapnya dengan dinign, “Apa maksudnya dengan patung Dewi Welas Asih? Aku tidak tahu.”
Permaisuri Juno berkata dengan raut wajah bersalah, “Patung itu awalnya memang ingin kuberikan dengan tulus pada Permaisuri Ivonne, aku tidak tahu bawahanku begitu ceroboh, patung itu terajtuh dan terdapat retakan juga aku tidak tahu, sesudah dikirimkan mereka baru meminta ampun padaku, jika kamu datang dikarenakan hal ini maka aku akan menggantinya untukmu.”
Sambil berkata, Permaisuri Juno berdiri kemudian membungkuk ke arah Ronald.
Ronald menatapnya, sama sekali tidak ada ekspresi di wajahnya, “Bawahanmu melakukan kesalahan jadi tentu saja Kakak harus memberi mereka pelajaran.”
Permaisuri Juno berteriak saat itu, “Pengawal, bawa Evita kemari.”
Pada saat ini, seorang pelayan kecil diseret masuk ke dalam dan dipaksa berlutut di depan Ronald.
Pelayan kecil itu baru berusia 15 atau 16 tahun, matanya begitu ketakutan dan panik, tubuhnya gemetar.
Permaisuri Juno dengan marah berkata: “Aku memintamu mengantarkan patung Dewi Welas Asih itu untuk Permaisuri Ivonne tapi kamu malah secara tidak sengaja menjatuhkannya ke lantai, sudah terdapat retakan dan maish berani mengirimkannya untuk Permaisuri Ivonne? Berapa banyak nyawa yang kamu punya? Pengawal, pukul dia!”
Pelayan wanita kecil itu terduduk di tanah, menggelengkan kepalanya tanpa sadar, matanya dipenuhi air mata.
Seorang Bibi yang gagah maju ke depan, meraih kerah leher pelayan kecil itu lalu mengangkat telapak tangannya dan menamparnya dengan keras, Bibi itu berkata dengan marah: “Kubunuh kamu dasar pelayan yang tidak tahu diri, beraninya berbuat kesalahan.”
Ronald berteriak, “Berhenti!”
__ADS_1
Bibi itu membeku kemudian melangkah mundur lalu memandang Ronald, “Yang Mulia, tolong Yang Mulia jangan berbelas kasih pada pelayan ini, dia pantas mendapatkannya karena kesalahannya, untungnya tidak terjadi sesuatu pada Permaisuri Ivonne dikarenakan marah, jika tidak maka pelayan ini tidak akan sanggup menebusnya bahkan walaupun dia mati.”