
Ronald mengangkat sumpit dan memakan hidangan yang sudah dingin, memandang Ivonne dengan datar dan berkata, “Ingin bertarung? Makanlah terlebih dulu jadi punya energi yang cukup untuk bertarung lagi.”
Ivonne tahu dia salah paham. Merasa agak canggung, kemudian kembali mengenakan tusuk rambutnya dan duduk di kursi.
Dia memang sangat lapar. Sejak datang ke sini, dia terus kelaparan.
Karena Ivonne selalu bersikap waspada, dia makan dengan sangat cepat, melahap semuanya bagai binatang buas.
Ronald makan dengan perlahan. Ekspresinya masih suram, tapi dirinya terlihat tenang, hanya saja jenis ketenangan ini membuat orang merasa sedikit tersembunyi.
Ivonne menyelesaikan makanannya dengan setengah hati. Kemudian dia pergi ke balik bilik dan menyuntik dirinya sendiri dan juga memakan obat.
Bilik sutera itu transparan, Ronald sebenarnya bisa melihat apa yang Ivonne lakukan di dalam.
Ronald menatapnya lekat-lekat. Beberapa hari ini, banyak hal terjadi di luar kendalinya, perubahan Ivonne membuat situasinya juga telah berubah.
Ronald sekali lagi ditempatkan di dalam kebimbangan.
Ini bukan hal yang baik. Tapi jika bisa membuat Paduka Kaisar sembuh, Ronald juga tidak peduli.
Perubahan Ivonne itu, dia bisa perlahan-lahan mengamati dan menyelidikinya ketika kembali ke kediamannya sendiri, dia tidak akan bisa lolos.
Setelah Ivonne selesai menyuntik dirinya sendiri, dia memasukkan obat ke dalam mulutnya, kemudian menelannya dengan air dingin.
Ronald mendongak menatapnya, dengan datar berkata: “Kembalilah ke Istana, jangan tanya apa-apa, jangan berdebat, aku akan keluar dari Istana.”
Jika sikap Ivonne terhadapnya tiba-tiba berubah maka akan merasa aneh, Ivonne selalu merasa bahwa dia jahat.
“Lukamu itu, aku akan membantumu untuk membalutnya.” Ivonne berkata, teringat kejahatannya, perkataannya ini memang tidak tulus.
Ronald menggelengkan kepalanya, bangkit berdiri dan berbalik pergi.
Ivonne menatap sosok punggungnya, merasa aneh, Ronald bisa pergi tanpa harus makan terlebih dulu.
Dan lagi, Ivonne tadi berlaku seperti itu pada Clara, dan Clara yang adalah orang paling dipedulikan Ronald, apa mungkin dia bisa berhenti begitu saja seperti ini?
Teringat saat Ronald melepaskan tamparannya, kengerian di pandangan matanya itu begitu mengerikan.
Sosok bayangannya membentang panjang dikarenakan cahaya matahari, setelah belokan, sosok bayangannya menghilang, tidak ada jejaknya sama sekali.
Hati Ivonne perlahan-lahan memiliki perasaan aneh.
Perasaan yang nyaris tak menyenangkan.
Kembali ke Istana Pearlhall, Paduka Kaisar dan Lucky, Ivonne duduk di samping, Kasim Artur berdiri di depan ranjang, berdiri sambil menundukkan kepala, terkadang melirik Ivonne sekilas dengan tatapan samar.
Keesokan harinya, Lucky sudah lebih bersemangat, sepertinya anak ini sudah melewatinya.
__ADS_1
Lucky sudah membaik, suasana hati Paduka Kaisar juga sudah membaik, kondisinya juga membaik.
Pagi hari, Kaisar Mikael datang untuk memberi hormat, kemudian Raja Ralph, Ratu, Ibu Suri, para selir, kemudian para pangeran lainnya, Istana Pearlhall ini tidak pernah santai semenjak pagi.
Tapi Paduka Kaisar sebagian besar tidak berbicara, dan para Raja tersebut pergi setelah memberi salam.
Clara dan Raja Oscar juga datang, mata Clara memerah, Raja Oscar begitu melindunginya, selalu menggandeng tangannya.
Setelah Clara memasuki Istana, dia melihat sekilas pada Ivonne, pandangan matanya itu penuh dengan maksud yang tersembunyi.
Dan Ivonne saat ini sedang mendisinfeksi luka Lucky, sambil berkata pada Lucky: “Lucky, jika melihat orang yang melukaimu, kamu tidak boleh melepaskannya.”
Raja Oscar melotot sekilas pada Ivonne, mengapa wanita ini begitu keji? Kak Ronald seharusnya memberinya beberapa pelajaran.
Setelah pasangan Raja Oscar pergi, Paduka Kaisar memandang Ivonne dan berkata: “Apa mulutmu tidak bisa diam? Untuk apa berbicara begitu banyak?”
Ivonne menyeka tangannya,
“Ya, aku akan mengingat ajaran Paduka Kaisar.”
“Tidak senang? Ini demi kebaikanmu!” Paduka Kaisar berkata sambil mendengus, “Apa kamu tidak tahu bagaimana posisimu? Masalah berasal dari perkataanmu sendiri.”
Ivonne terpaku sejenak, dengan tulus berkata: “Ya, aku tahu.”
Ivonne tidak memiliki orang yang bisa dijadikan sandaran, memang benar, dia tidak seharusnya mencari musuh.
Di samping ranjang sudah terdapat bantal yang empuk, memudahkan Ivonne untuk berlutut sambil duduk.
Paduka Kaisar tahu Ivonner terluka dan tidak bisa duduk, berlutut sambil duduk adalah yang paling nyaman, jadi dia meminta Kasim Artur untuk menyiapkan bantal empuk itu.
Ivonne duduk, selama melayani di Istana 3 hari ini, dia mengetahui karakter Paduka Kaisar, jika dia sudah lebih bersemangat maka dia akan memberi pelajaran pada orang lain, dan juga dia menolak menerima bantahan dan juga penolakan.
Benar saja, sudah dimulai.
“Apa kamu berpikir aku memintamu bersabar itu berarti membuatmu seperti kura-kura yang pengecut?”
Ivonne menggelengkan kepalanya, “Aku tidak memiliki pemikiran seperti itu.”
“Tidak ada? Jelas-jelas ada, kamu merasa tidak senang di dalam hatimu, merasa bahwa hal yang tidak adil harus dibicarakan, kamu tidak bisa berkompromi.”
Ivonne tidak begitu naif, jadi dia menggelengkan kepalanya dengan tegas, “Aku benar-benar tidak berpikir begitu.”
Paduka Kaisar mengetuk sisi ranjang dengan punggung tangannya, meningkatkan nada bicaranya. “Apa yang kamu takutkan? Semua orang bahkan berpikir seperti itu, aku juga berpikir seperti itu ketika muda, setelah mengalami penderitaan beberapa kali baru memahami kebenaran itu, ketika kamu memiliki kemampuan, kamu boleh mengutarakan hal apa saja yang kamu anggap tidak adil, tapi ketika kamu tidak memiliki kemampuan, jika orang lain menyuruhmu melakukan apapun maka kamu harus melakukannya.”
“… Ya!” Ivonne menundukkan kepalanya, terlihat seperti orang yang sedang menerima pengajaran dengan berpikiran terbuka.
“Kembali merasa tidak senang?” Paduka Kaisar menaikkan alisnya.
__ADS_1
Ivonne mendongak, pandangan matanya sama sekali tidak ada emosi ingin memberontak, bagai kelinci putih kecil yang patuh, dari mananya dia terlihat tidak senang?
“Tidak!” Ivonne berkata, matanya melirik sekilas ke luar, para Raja sudah datang, mengapa Ronald tidak terlihat? Ivonne awalnya sama sekali tidak berharap dia datang.
Ketika Paduka Kaisar melihat Ivonne melamun, dia kemudian berkata, “Jika kamu tidak mendengarkan perkataan orang tua ini, maka kamu yang akan kesulitan ke depannya, di kemudian hari kamu akan tahu bahwa perkataanku ini sangat bijak.”
Bagus! Benar-benar perkataan yang bagus!
Tabib Istana masuk sambil membawakan obat, Ivonne menghela nafas lega di dalam hatinya, dia berkata: “Letakkan, biar aku saja!”
Tabib Istana dengan hormat berkata: “Kalau begitu merepotkan Permaisuri.”
Ivonne membawa obat dan berjalan menghampiri, wajah Paduka Kaisar menggelap, melihat senyum lembut Ivonne, karma datang dengan sangat cepat.
Kasim Artur mengambil buah manisan dan menunggunya di samping, menunggunya selesai minum obat, segera menyerahkan buah manisan itu, Kasim Artur menatap pandangan mata Paduka Kaisar, dia begitu tidak tega.
“Budak tua ini ingin menggantikan dirimu sakit.”
Jika orang lain yang mengucapkan perkataan ini, mungkin akan mengira itu untuk menyanjung, tapi Kasim Artur yang mengucapkannya, itu penuh dengan perhatian dan cinta.
“Apa kamu memenuhi syarat untuk menggantikanku sakit?” Paduka Kaisar mengunyah buah manisan di mulutnya, berkata tanpa berpikir.
Kasim Artur hanya tersenyum padanya, tidak menjawab.
Ivonne memberi Lucky minum air, Lucky tidak begitu bersemangat, meminum dua teguk, kemudian kembali berbaring, Ivonne kemudian membelai kepala anjing itu.
Sinar matahari masuk dari luar, segala sesuatu di rumah itu tampak begitu sunyi.
Ada seorang kasim kecil yang masuk dari luar, dengan suara pelan berkata: “Paduka Kaisar, Raja Juno sedang menunggu di luar Istana.”
Pandangan mata Paduka Kaisar sedikit terangkat, menyimpan kemarahannya yang tadi, dengan tenang berkata: “Masuk!”
Raja Juno memasuki Istana, memakai jubah berukir, begitu terlihat berwibawa, dengan hormat dia berlutut, “Aku memberi hormat pada Paduka Kaisar!”
Paduka Kaisar sedang berbaring di ranjang, pandangan matanya melirik sekilas pada Raja Juno, menjawab sekilas dengan suara serak yang dikeluarkan dari tenggorokannya, bisa dianggap itu sebagai jawaban.
Ivonne melihat perubahan emosi Paduka Kaisar, perubahan emosi seperti ini, benar-benar Raja aktor!
Raja Juno berlutut, “Bagaimana keadaan Paduka Kaisar hari ini?”
“Sudah jauh lebih baik!” Kata Paduka Kaisar, tapi, mendengar suara dan ekspresinya, benar-benar tidak terlihat baik.
“Kondisi Paduka Kaisar membaik, itu adalah berkah bagi kami semua.” Raja Juno berkata dengan ekspresi penuh syukur.
Setelah mengucapkan beberapa kata, Raja Juno kemudian bangkit dan mengundurkan diri.
Sebelum pergi, dia menatap Ivonne dengan tatapan yang disengaja atau tidak disengaja, pandangan mata itu seakan mengandung hal yang aneh.
__ADS_1
Ivonne tanpa sadar merasa bergidik.