
Pavilion Xiaoyue masuk ke dalam keheningan yang cukup lama.
Ronald merenungkan berulang kali, mendongak dan berkata pada Yanto: “Kamu pergilah cari tahu, Paduka Kaisar terkena racun apa.”
“Yang Mulia, takutnya sulit untuk mencari tahu.”
“Peter pasti tahu!” Kata Ronald.
“Sekarang Peter harusnya bersiaga di depan Istana, sama sekali tidak bisa keluar, dan lagi tadi Peter juga datang kemari, jika dia bisa mengatakannya maka tadi dia pasti akan mencoba untuk memberitahu.” Kata Yanto.
Mata Ronald penuh dengan raut kejam. “Laporkan ke Istana, bilang aku akan mengaku bersalah.”
“Yang Mulia!” Rendi dan Yanto berseru terkejut bersamaan, apa Yang Mulia sudah gila? Dia ingin mengaku bersalah.
“Aku mengaku bersalah, semua yang dilakukan Ivonne itu adalah perintahku.” Kata Ronald dengan raut wajah tanpa ekspresi.
Rendi menghela nafas, dia berpikir Yang Mulia ingin mengakui bahwa dialah yang meminta pembunuh itu untuk melukai dirinya sendiri.
Tapi, bahkan jika mengaku bahwa Permaisuri mengobati Paduka Kaisar itu atas perintah Ronald, itu juga tidak beguna.
“Itu tidak boleh, Yang Mulia, kamu sekarang sudah dituduh bersalah.” Kata Rendi.
Yanto berpikir sejenak kemudian berkata: “Apa Yang Mulia percaya pada Permaisuri?”
“Hanya itu satu-satunya cara!” Kata Ronald dengan dingin.
Yanto menatap Ronald. “Yang Mulia memutuskan untuk melakukan ini, maka Permaisuri benar-benar di ujung tanduk, jika Permaisuri tidak dapat membalikkan kondisi, maka situasi Yang Mulia juga akan menjadi lebih buruk. Yang Mulia apa kamu sudah memikirkannya baik-baik?”
“Selain itu, apa masih ada cara lain?” Ronald marah. Darah di tenggorokanya kembali naik, dia berusaha menekannya, tapi masih tetap dapat tercum bau amis darah itu.
Raja Juno ketika bertindak selalu begitu rapi dan juga tidak ada celah.
Karena si pembunuh sudah membunuh dirinya sendiri, maka pasti tidak akan meninggalkan jejak apapun, masalah ini, Ronald sudah dipastikan akan mendapatkan kesulitan.
Jadi, tidak ada gunanya membuat keributan tentang masalah ini, hanya berharap Ivonne bisa menyembuhkan Paduka Kaisar, dengan begitu dia mungkin akan bisa lepas dari fitnah ini.
Seberapa kejam hati sang Ayah, dia tahu dengan sangat jelas.
Rendi tidak mengerti, “Sebenarnya ada apa ini?”
Yanto menjelaskan: “Paduka Kaisar awalnya sudah hampir tidak bernyawa, Permaisurilah yang menolongnya tepat waktu, jika keracunan Paduka Kaisar tidak ada hubungannya dengan Permaisuri, maka Permaisuri memiliki jasa dalam mengobati Paduka Kaisar, semua ini jika diinstruksikan oleh Yang Mulia maka Yang Mulia juga memiliki jasa. ”
Rendi terkejut dan berkata: “Lalu jika Permaisuri tidak dapat membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah?”
__ADS_1
Yanto terdiam sesaat, dengan berat berkata: “Maka, Rendi, kamu dan aku harus mengikuti Yang Mulia untuk mati.”
Rendi mengeluarkan semacam rasa kesetiaan, “Oke, mati ya mati, menunggu seperti ini juga hanya ada jalan buntu, lebih baik kita berjuang.”
Yanto mengangguk dan menatap Ronald, “Sekarang Yang Mulia tidak boleh memasuki Istana, mengenai rencana ini, hanya dapat mencari Raja Ralph.”
“Ya!” Ronald perlahan berdiri, lukanya terbuka, bergerak sedikit saja sudah sakit, benar-benar menyakitkan, bisa membuat semangat juangnya tidak rileks.
Ivonne dapat menyeret tubuhnya yang penuh luka pergi ke Istana untuk merawat Kakeknya, mengapa Ronald tidak bisa?
Tenda sudah tiba di kediaman Raja Ralph.
Raja Ralph baru akan memasuki Istana, dia bertemu dengan Ronald di depan pintu.
Raja Ralph tahu bahwa Ronald terluka oarah, ketika melihat Ronald datang, dia begitu terkejut, Yanto maju dan melaporkan, “Raja Ralph, tolong Anda ke sana sebentar, Raja Ronald terluka parah, tidak bisa turun.”
Raja Ralph menarik kudanya dan berjalan mendekat, Yanto membuka tirai, wajah Ronald yang pucat terlihat.
“Paman, Ivonne merawat Kakek karena permintaanku, tolong Paman membawaku masuk ke Istana.”
Raja Ralph mengangguk, “Ayo pergi!”
Raja Ralph memerintahkan orang untuk mengganti kudanya menjadi tandu, kemudian memasuki Istana bersama Ronald.
Tandu dibawa melewati pintu Timur, sepanjang jalan masuk, karena ada Raja Ralph, jadi tidak ada yang menghalangi.
Raja Ralph berkata pada Yanto: “Tunggulah dengan Yang Mulia-mu di sini, aku akan masuk dan menemui Kaisar.”
“Baik!”
Kamudian Raja Ralph memasuki pintu ruang kerja kerajaan.
Yanto melihat Hendra berdiri di depan dengan gemetar, wajahnya pucat, sepertinya tidak bisa berdiri dengan tegap.
Yanto berjalan maju, “Tuan Hendra?”
Hendra terkejut, melihat itu adalah Yanto, dia baru kembali fokus dan menatapnya lurus, “Ternyata Tuan Yanto!”
“Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” Tanya Yanto.
Hendra dengan tidak berdaya berkata, “Menunggu panggilan dari Kaisar, aku juga tidak tahu apa yang terjadi, Kaisar memerintahkanku untuk datang, tapi dia tidak menemuiku, hanya meminta orang untuk bertanya padaku beberapa hal mengenai Permaisuri Ivonne… kemudian menyuruhku untuk menunggu di sini. ”
Selama dia berbicara, Kasim David keluar dan berkata: “Raja Ronald silahkan masuk.”
__ADS_1
Yanto dan Rendi dengan cepat membantu Ronald, ketika Hendra melihat tampilan Ronald dia begitu terkejut, bergegas mundur beberapa langkah, takut akan menyentuhnya.
Benar-benar seperti orang kertas yang akan jatuh ketika tertiup angin.
“Kaisar hanya memanggil Raja Ronald!” Kasim David memisahkan Rendi dan Yanto, berkata dengan datar.
Yanto dan Rendi menatap sekilas pada Ronald dengan tatapan khawatir, Ronald perlahan berdiri dan berkata: “Tolong Kasim David memimpin jalan!”
Memasuki istana, tidak sampai 20 langkah sudah dapat mencapai aula utama ruang kerja Istana.
Ronald mengambil langkah demi langkah, darah di bawah kakinya menetes, luka di kakinya terbuka, menyeret jejak darah di belakangnya, membuat orang yang melihatnya merasa amat sangat kaget.
Kasim David terpaku sejenak, tidak menyangka bahwa luka Raja Roald begitu parah.
Tadinya dia berpikir hanya luka di bagian tulang alis wajah ke sisi telinga.
Kaisar Mikael mengerutkan kening, melihat jejak darah yang diseret oleh tubuh Ronald, wajahnya muram.
Sudah terluka selama dua hari, lukanya masih mengeluarkan darah, apa Ronald mengira dia itu bodoh?
Anak ini, pintar dengan sedikit berlebihan.
Dahi Ronald penuh dengan keringat, sepanjang jalan, sudah menghabiskan seluruh tenaganya, dia berdiri seperti ini, itu benar-benar sangat menyakitkan.
Tapi dia masih harus berlutut.
Tubuhnya perlahan bergerak turun, kakinya lemas, terdengar suara keras, luka di perutnya terbuka, darah segar mengalir keluar, Ronald seketika merasakan dunia berputar, pandangannya menggelap, tapi dia bersikeras meneriakkan sebuah kalimat, “Ayah, Ivonne mengobati Kakek, itu atas perintahku. ”
Setelah mengeluarkan kata-kata itu, dia terjatuh ke lantai dan pingsan.
Ronald dikirim ke aula terdekat, Ivonne berada di dalam aula, melihat Ronald yang berlumuran darah dibawa masuk ke dalam.
Kaisar Mikael dan Raja Ralph juga mengikuti masuk, Tabib Istana masih belum datang.
Ivonne kaget dan berkata: “Bagaimana dia bisa masuk Istana? Dia bahkan tidak bisa bangun dari ranjang, ya Tuhan, luka-lukanya semua terbuka.”
Raja Ralph kemudian bertanya: “Apa kau yang merawat lukanya?”
“Ya, dia mendapat luka 18 sayatan pisau, sudah dalam kondisi kritis, ketika aku memasuki istana, dia masih belum melewati periode kritisnya.” Jawab Ivonne, matanya melayang menatap Ronald, hatinya sangat cemas, jika luka ini tidak cepat diatasi maka dia akan mati.
Pandangan mata Kaisar bergetar, tapi tidak mengatakan sepatah kata pun, hanya menatap Ivonne dengan tatapan penuh makna.
Ivonne sudah tidak mempedulikannya lagi, dia menerjang dan bergegas untuk menutupi luka pendarahan di perut Ronald, dia menjahitnya dengan menggunakan waktu yang cukup lama, apa Ronald gila? Dia malah datang ke Istana.
__ADS_1
“Ronald, Ronald, sadarlah!” Ivonne menutup luka Ronald dengan satu tangannya dan satu tangannya lagi menepuk wajah Ronald, “Jangan tidur, kamu tidak akan bisa bangun lagi jika tidur.”
Kehilangan begitu banyak darah, dia benar-benar akan mati.