
Ivonne memakan beberapa suap tapi dirinya benar-benar tidak tahan akan bau amis kerang yang ada di dalam bubur itu, perutnya kembali mual. Ivonne melambaikan tangannya dan berbaring dengan wajah pucat, “Aku tidak mau makan lagi, jika makan lagi maka aku pasti akan muntah.”
Ronald tidak tega padanya kemudian berteriak pada Tabib: “Sebenarnya penyakit apa itu, mengapa Ivonne bisa muntah ketika makan? Apa kamu tidak ada cara?”
Tabib itu ketakutan dan berkata: “Setelah Tabib Darien datang baru resepkan obat saja, aku benar-benar tidak berani sembarangan membuka resep.”
Ketika Ronald mendengar perkataan ini, dia begitu panik dan marah, “Sebenarnya bagaimana kondisinya?”
Tabib itu ingin berbicara tapi kemudian berhenti.
Bibi Vera berkata: “Tabib, kamu kembalilah lebih dulu, tolong jaga mulutmu dengan rapat.”
Tabib itu berkata: “Kalau begitu aku akan undur diri lebih dulu.”
Bibi Vonny mengantarkan Tabib itu untuk mengambil biaya pengobatan lalu mengantarkannya keluar.
Bibi Vonny kembali kemudian memanggil Bibi Vera keluar.
Keduanya berjalan di luar koridor kemudian Bibi Vonny berkata: “Penilaian Tabib itu mungkin salah, jangan beritahu Yang Mulia lebih dulu, bicarakan nanti setelah Tabib Kerajaan memeriksanya.”
Bibi Vera berkata: “Aku juga berpikir seperti itu.”
Bibi Vonny menghela nafas, “Jika itu benar maka betapa baiknya, hanya saja Permaisuri pernah meminum sup Golden Purple sepertinya tidak mungkin bisa dalam 2 atau 3 tahun.”
“Oh iya, aku memang ingin menanyakan hal ini, siapa yang membuat sup Golden purple itu? Bagaimana porsinya?”
“Dibuat oleh Tuan Yanto, porsinya adalah porsi normal tapi setelah itu Yang Mulia memberikan sup penawar jadi sedikit banyak itu membantu.”
“Sup penawar tidak banyak membantu, kecuali langsung meminum sup penawar setelah meminum sup golden purple, tapi ketika Permaisuri di Istana kesehatannya sudah sangat buruk, sup Golden purple itu sudah melukai paru-parunya …"
Bibi Vera ragu-ragu sejenak, “Tapi itu memang aneh, aku tidak melihat Permaisuri kenapa-kenapa akhir-akhir ini.”
Bibi Vonny berkata: “Ya, sebenarnya aku selalu memperhatikan kondisi tubuh Permaisuri, dirinya bahkan tidak batuk sama sekali, sup golden purple itu paling melukai paru-paru.”
Begitu keduanya berkata demikian, mereka kemudian mendengar suara batuk dari dalam.
Kedua Bibi itu bergegas masuk, kemudian melihat Ivonne kembali muntah, hanya saja benar-benar tidak ada yang dimuntahkan, hanya bisa muntah tanpa bisa mengeluarkan apa-apa di samping ranjang.
Sekujur tubuh Ivonne terjatuh lemas di pelukan Ronald. Ronald begitu cemas, bingung dan panik, tidak ada yang bisa dilakukannya selain menepuk-nepuk punggung belakang Ivonne dengan pelan.
“Papah aku, aku ingin buang air kecil.” Ivonne mengulurkan tangannya dengan lemah.
“Aku akan menggendongmu!” Ronald langsung menggendong Ivonne.
“Tidak, turunkan aku, aku akan berjalan.” Kata Ivonne.
__ADS_1
Ronald menggendongnya, “Diamlah.”
Toilet ada di sebelah, Ronald menggendong Ivonne kemudian menurunkannya, setelah beberapa saat Ivonne dengan perlahan berjalan keluar, memapah pada lengan Ronald kemudian dirinya menjadi lebih lega.
“Letty, bantu aku menyiapkan sesuatu, tamu bulanku datang!”
Ketika kedua Bibi mendengar perkataan ini, mereka saling bertatapan dan sedikit kecewa.
Ivonne malah merasa lega, tadinya dia begitu terkejut dikarenakan Tabib itu hingga membuat dirinya bahkan sedikit mempercayainya.
Letty bergegas pergi dan mempersiapkan air panas untuk Ivonne mandi.
Ivonne melihat benda yang amat kuno di dalam dan tidak bisa berkata-kata, Ivonne tahu cara menggunakannya tapi itu benar-benar tidak nyaman.
Sepertinya Ivonne harus membuat pembalut untuk dirinya sendiri.
Setelah selesai dan berbaring di ranjang, Tabib Darien tiba.
Mendengar Permaisuri muntah cukup lama dan juga Tabib lain juga sudah datang dan tidak bisa mengatakan penyebabnya, jadi Tabib Darien benar-benar menanggapinya dengan sangat serius.
Ronald memintanya untuk memeriksa denyut nadi, Tabib Darien dengan hati-hati mengeluarkan benang merah, Ronald berkata dengan cemas: “Untuk apa itu? Langsung memeriksa nadinya saja.”
Tabib tadi juga seperti itu, untuk apa melakukan hal itu ketika berada dalam kondisi darurat?
Tabib Darien berkata: “Ini aturan.”
Begitu jari-jari Tabib Darien ditekankan tidak lama, alisnya terangkat kemudian memandang ke arah Ivonne.
“Kenapa?” Tanya Ronald.
Tabib Darien meminta ijin pada Ronald dengan hormat, “Aku meminta Yang Mulia menginjinkan untuk memeriksa denyut nadi tanpa benang merah!”
Ronald begitu marah, memutar bola matanya dan langsung berteriak ke telinganya: “Aku tadi sudah memintamu untuk memeriksa denyut nadi secara langsung.”
Tabib Darien berkata: “Ini aturan.”
Ivonne mengulurkan tangannya dan menatap ke arah Tabib Darien, “Kamu bisa mengatakan langsung apa penyakitnya.”
Ivonne melihat kotak obatnya sebentar ketika dia mandi, tidak ada obat baru di dalam kotak obat, masih sama seperti sebelumnya.
Jadi Ivonne merasa dirinya tidak memiliki masalah besar.
Tabib Darien memejamkan matanya, memeriksa tangan kiri kemudian berganti ke tangan kanan, mengganti tangan kanan kemudian memeriksa tangan kiri.
Tepat ketika Ronald sangat ingin mengusirnya pergi dan sangat ingin memperlajari ilmu pengobatan, Tabib Darien membuka matanya dan bertanya, “Berapa lama Permaisuri terlambat datang bulan?”
__ADS_1
Ivonne tersenyum dan berkata: “Baru saja datang.”
Tabib Darien terpaku sejenak kemudian menghela nafas dan berkata: “Itu bukan datang bulan, ada masalah stagnasi di bagian hati Permaisuri, darah Permaisuri juga sedikit rendah, janin tidak stabil dan tanda-tanda pendarahan kecil.”
Ronald melototkan matanya, “Omong kosong apa yang kamu bicarakan? Janin apa yang tidak stabil? Kapan dia hamil? Sebenarnya kamu mengerti atau tidak?”
Tabib Darien menggosok telinganya sendiri dengan perlahan yang mengisyaratkan suara Ronald terlalu berisik, “Penilaian ini tidak mungkin salah, mengenai masalah stagnasi di hati Permaisuri sepertinya itu dikarenakan terlalu marah jadi menyebabkan mengalami pendarahan kecil seperti itu, aku akan meresepkan obat terlebih dahulu dan harus segera diberikan pada Permaisuri, janinnya tidak stabil dan juga ada tanda-tanda pendarahan, dalam beberapa hari ke depan harus banyak beristirahat di ranjang.”
Ronald menatap ke arah Ivonne, Ivonne juga menatap lekat padanya, sudut bibir Ronald perlahan-lahan terangkat, sudut bibir Ivonne perlahan menurun dan menjadi sedikit datar, Ivonne memiliki keinginan untuk menangis.
“Hamil?” Ronald bertanya dengan hati-hati kemudian perlahan-lahan duduk dan menatap ke arah Ivonne dengan raut wajah masih tidak bisa mempercayainya.
“Tabib Darien, Permaisuri pernah meminum sup golden purple sebelumnya.” Kata Bibi Vera.
Tabib Darien terpaku, “Ini … bagaimana mungkin?”
“Itu bisa dipastikan!” Kata Bibi Vonny.
Tabib Darien buru-buru kembali mengulurkan tangannya untuk memriksa kembali denyut nadi Ivonne, setelah beberapa saat mengangkat tatapan matanya yang curiga, “Ini benar-benar denyut sukacita.”
“Tapi Permaisuri pernah meminum sup golden purple.” Kata Bibi Vera.
“Tapi denyut nadi ini adalah denyut sukacita.” kata Tabib Darien.
Ronald merasa hatinya berada di antara keterkejutan dan kegembiraan, benar-benar sudah hampir gila.
Ivonne juga demikian, tapi keterkejutan dan kegembiraannya itu justru kebalikan dari Ronald.
“Sebenarnya iya atau tidak?” Ronald gelisah.
“Ya!” Tabib Istana berkata dengan pasti.
Ronald menatap ke arah Tabib Istana, “Kamu harus memeriksanya dengan akurat, jangan sampai kegembiaraan Permaisuri hanya kosong belaka, lihatlah, Permaisuri hampir menangis karena gembira.”
Ronald membungkuk dan menepuk lengan Ivonne dengan lembut, “Jangan terlalu senang dulu, mungkin penilaiannya itu salah.”
Ronald tahu efek samping dari sup golden purple yang sangat merusak tubuh, akhir-akhir ini Ronald selalu meminta Bibi Vonny membuat sup bergizi untuk Ivonne.
Ivonne benar-benar tidak berdaya, dari mananya Ronald melihatnya menangis dikarenakan terlalu gembira? Ivonne itu terlalu takut hingga ingin menangis!
Apa mungkin anak yang berusia 17 tahun tidak takut jika hamil?
Ivonne memandang Ronald, mengulurkan tangannya kemudian menyentuh wajah Ronald yang sedikit bengkak dan biru, dengan lembut berkata sambil menggertakkan giginya, “Jika aku benar-benar hamil, aku akan membunuhmu lebih dulu.”
Ronald terkejut, Ivonne gila!
__ADS_1
Ronald menatap ke arah Tabib, mengertakkan giginya dan berkata, “Cepat periksa sebenarnya apa yang terjadi!”