
Tabib Chao seperti biasanya datang untuk menangani luka Ronald, bertanya bagaimana cara menangani benang itu, Yanto kemudian meminta seseorang untuk meminta Ivonne datang.
Ivonne berkata pada Tabib Chao, “Ini adalah benang protein, tubuh manusia dapat menyerapnya, tidak perlu dilepas.”
“Protein ternyata bisa dibuat menjadi benang? Hebat sekali! Hebat sekali!” Puji tabib Chao.
Tapi Ronald sangat kesal, “Apa aku harus hidup dengan benang-benar ini di kemudian hari sampai mati?”
“Ya, benangnya ada dirimu ada, benangnya mati kamu juga.” Ivonne berkata sambil tersenyum.
Dalam dua hari ini, hubungan mereka cukup menyenangkan, jadi terkadang mereka juga bisa saling berkata sinis satu sama lain.
Rendi sangat kagum pada ketrampilan medis Tabib Chao, ketika dia sudah selesai merawat luka-luka Yang Mulia, Rendi bergegas maju untuk meminta saran, “Tabib, aku akhir-akhir ini merasa tidak enak badan, bisakah kamu memeriksaku?”
“Pengawal Rendi di mananya merasa tidak nyaman?” Tabib Chao mudah didekati, tidak meremehkan Rendi hanya karena dia seorang pengawal.
“Aku selalu mengantuk akhir-akrhi ini, pikiranku sedikit linglung, suka buang gas, gas itu sangat bau, nafasku juga bau, rambut berminyak, di bokongku juga muncul banyak bentolan, Tabib, kamu masuklah, aku akan menunjukkan bentolannya itu padamu, itu sangat mengerikan …” Kata Rendi, kemudian menarik Tabib itu ke ruangan belakang.
Ivonne sedang duduk di bagian depan, dia bisa mendengar suara Rendi melepaskan pakaian, Ivonne merasa sedikit canggung.
Ronald dengan marah berkata pada Rendi di belakang, “Rendi, kembali ke kamarmu untuk melepas pakaianmu.”
Di belakang terdengar suara kentut panjang Rendi, ritmenya sangat kuat, sampai pada akhirnya suara kencang terdengar kemudian semuanya terdiam.
“Aromanya seperti ini, Tabib, kamu lihatlah, apa aku mengidap suatu penyakit?” Rendi tampaknya mengabaikan kemarahan Ronald.
Tabib kerajaan menutup hidungnya dan melarikan diri, “Baik, Pengawal Rendi, aku tahu penyakit apa yang kamu idap, ada masalah dengan limpamu, aku akan memberimu dua obat, aku undur diri dulu.”
Ivonne menahan nafasnya, aromanya agak berat, Ivonne berdiri dan berjalan keluar, Yanto mengikuti di belakang, Ronald masih terbaring, pakaiannya masih belum dirapikan, jika keluar dengan keadaan seperti ini sangat tidak senonoh, dia hanya bisa memaki Rendi.
Rendi sendiri juga tidak tahan dengan bau busuk itu, kemudian melarikan diri.
Ivonne duduk di koridor depan, merasakan hembusan lembut angin.
Ronald sudah berpakaian rapi dan berjalan keluar, ketika melihat Ivonne duduk di depan koridor, dirinya tampak sangat mungil, sinar matahari terpapar dan terpendar di kepalanya melewati dedaunan, tampilannya begitu tenang.
Ronald ragu-ragu sejenak, kemudian dia juga duduk.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” Tanya Ronald dengan datar, begitu dikerjai dengan masalah Rendi tadi, seakan suasananya sudah jauh lebih santai. ternyata tidak terlalu sulit untuk berinisiatif berbicara dengan Ivonne.
“Berjemur sinar matahari untuk asupan kalsium, aku tidak memikirkan apa-apa.” Ivonne sebenarnya sedang memikirkan mengenai masalah yang tadi dilaporkan oleh orang yang membawa pesan, Ivonne tahu bukan Neneknya yang sakit, tapi Hendra ingin mencari perhitungan dengannya.
__ADS_1
“Asupan apa?” Ronald untuk sesaat tidak mendengar dengan jelas.
“Asupan …” Ivonne menyerah akan kata-kata sains dari jaman modern, “Asupan otak, otak tidak mudah untuk digunakan.”
“Sudah sebesar ini masih asupan otak? Sembarangan!” Suasana hati Ronald agak baik hari ini, mungkin terkait dengan cuaca yang cerah.
Ronald melirik sekilas matahari yang cerah, merasa itu menusuk mata, kemudian segera menghindar.
“Terkena sedikit sinar matahari itu baik, juga tidak akan menjadi begitu sialnya.” Ivonne masih berpangku tangan, terlihat benar-benar sangat bosan.
“Istri jelek …”
Ivonne menolehkan kepalanya menatap Ronald, “Kita harus menambahkan satu syarat lagi, yaitu tidak boleh memanggilku Istri jelek, wanita jelek, atau barang jelek dan yang lainnya.”
“Apa yang kukatakan ini bukan fakta?”
“Itu tergantung dibandingkan dengan siapa.” Kecantikan biasanya sering dijadian perbandingan.
“Dibandingkan denganku!” Ronald berkata sambil mencibir.
Ivonne memandangnya, matahari terjatuh di matanya, membuat Ronald tampak memiliki cahaya yang lembut, wajah tampannya juga sedikit bersinar, warna kulit seperti gandum itu terlihat sangat sehat, fitur wajahnya sangat indah, matanya tajam, bulu matanya panjang, bahkan jika terdapat bekas luka, dia masih begitu tampan yang membuat orang kesulitan bernafas.
Ivonne kalah.
Perlahan-lahan mengalihkan pandangan, “Kalau begitu cepat ceraikan aku, nikahi wanita yang lebih cantik dariku untuk menjadi Permaisurimu.”
Hati Ronald terbakar, “Itu hal yang terjadi cepat atau lambat.”
Berkata seakan terlalu menjijikkan menjadi Istrinya, tapi bukankah Ivonne yang datang kepadanya sendiri?
Ronald mengalihkan topik, “Tadi Yanto berkata orang dari kediaman Hendra datang.”
“Ya, berkata bahwa Nenekku sakit, ingin aku pulang.”
“Kalau begitu mengapa kamu masih duduk di sini?” Ronald terpaku.
Ivonne memandangnya, “Aku mengatakan bahwa luka Yang Mulia belum sembuh, aku harus memenuhi tugas sebagai Permaisuri dan menjagamu di sini.”
“Siapa yang ingin dirawat …” Ronald berkata, kemudian dia mengerti, dengan datar berkata, “Sepertinya Ayahmu sangat cemas.”
“Berkat Yang Mulia, takutnya ini hanya permulaan saja.” Kata Ivonne.
__ADS_1
Ronald dengan kesal berkata, “Kita sudah impas, jangan ada yang mengungkit lagi.”
“Bahkan mengungkit sedikitpun tidak boleh, Yang Mulia, apa kamu begitu merasa bersalah?”
“Ivonne!” Ronald berteriak, melihat pandangan matanya yang polos dan jernih, Ronald menghela nafas kemudian kembali melunak, “Aku benar-benar sangat ingin menjahit mulutmu.”
Pandangan mata Ivonne bergerak turun, “Menjahit? Sepertinya Yang Mulia tidak seterbiasa diriku melakukannya, ngomong-ngomong, apa bagianmu itu sudah sembuh sepenuhnya sekarang?”
Ronald marah, menutup kedua kakinya, dengan marah berkata, “Jangan ungkit hal ini lagi, jika mengungkitnya aku akan membunuh seluruh keluargamu.”
Ivonne tersenyum, ketika sedang ingin menyindir dua kalimat, malah melihat Yanto membawa orang dari kediaman Hendra masuk ke dalam.
“Permaisuri, ada pesan yang dibawa oleh orang dari kediaman Hendra.” Kata Yanto.
Pandangan mata Ivonne sedikit terangkat, “Ada apa?”
Bawahan itu melihat Ronald, bergegas berlutut memberi hormat, “Budak memberi hormat pada Yang Mulia dan Permaisuri.”
“Ada apa?” Tanya Ronald dengan wajah suram.
Bawahan itu ketika mendengar suara yang tegas ini, bibirnya bergetar dan berkata, “Itu … Tuan Hendra meminta budak untuk mengantarkan pesan pada Permaisuri, kondisi Nyonya besar memburuk, meminta jika Permaisuri punya waktu maka pulanglah ke rumah.”
“Aku sudah mengatakan tidak punya waktu, aku harus merawat Yang Mulia!” Ivonne berdiri, kemudian membungkuk dan mengulurkan tangannya, “Yang Mulia, anginnya kencang, tidak boleh duduk di sini untuk waktu yang lama, cepat masuk bersamaku.”
Ronald meletakkan tangannya di telapak tangan Ivonne, kedua tangan itu saling menggenggam, Ronald bangkit, tapi malah terjatuh dengan lemah ke arah Ivonne, “Baik, semuanya mendengar perkataan Permaisuri.”
Ivonne hampir saja terjatuh ditekan olehnya ke tanah, dengan sekuat tenaga mencoba membantu memapahnya masuk ke dalam, wajahnya memerah, tapi Ivonne tidak berani marah.
“Apa sudah lihat? Permaisuri ingin merawat Yang Mulia, jika Nyonya besar benar-benar sakit parah, ada Tabib di sini, panggil Tabib pergi ke sana saja.” Yanto berkata dengan dingin.
Ketika Ivonne mendengar perkataan ini, dia kemudian mendorong Ronald dan berkata, “Tuan Yanto, itu ide yang bagus, biarkan Tabib Chao mengikutinya pulang, itu juga akan membuatku merasa lebih tenang akan kondisi penyakit Nenekku.”
Yanto tahu bahwa Nyonya besar itu benar-benar sakit, Permaisuri juga memiliki jiwa berbakti, tentu saja dia langsung menyetujui, “Ya!”
Dengan begitu, bawahan itu membawa Tabib Chao dan Rendi pergi ke kediaman Hendra.
Hendra masih harus menerima kunjungan, mendengarkan bawahannya mengatakan bahwa hubungan Ivonne dan Ronald begitu dekat, tanpa sadar dia mengerutkan alisnya, ini pasti hal yang mustahil.
Ronald bahkan tidak sabar ingin memakan daging Ivonne, meminum habis darah Ivonne, bagaimana mungkin bisa begitu dekat dengan Ivonne?
Hendra juga tidak bisa bertanya dengan lebih rinci, hanya mengikuti Tabib memasuki kamar Nenek Ivonne.
__ADS_1
Ketika Nenek Ivonne mendengar itu adalah Tabib kerajaan yang dipanggil oleh Ivonne, dia sangat kooperatif, setelah Tabib memeriksa denyut nadinya, dia berkata, “Nyonya memang menderita radang paru-paru basah, jadi bisa batuk tidak berhenti, aku akan memberi resep beberapa obat, jika setelah Nyonya memakannya dan merasa itu efektif, maka ikuti resep dan terus meminum obatnya, memakannya selama dua bulan, meskipun mungkin tidak dapat menyingkirkan penyakit, tapi itu bisa membuat kondisi jauh lebih baik. ”
“Merepotkan Tabib!” Nenek Ivonne tersenyum.