
Rendi melihat Ronald pergi menuju ke kantor birokrat kemudian Rendi mengejarnya dan bertanya, “Yang Mulia, apa tidak pulang ke rumah?”
Ronald berkata, “Untuk apa pulang? Apa untuk melihat singa yang mengamuk? Tidak. Aku hanya ingin melihat sisi baik Ivonne saja.”
Jika wanita sudah bersikap galak, itu sangat mengerikan.
Rendi menjadi ragu, “Apa Permaisuri benar-benar berani memukuli Raja Oscar?”
Raja Oscar adalah putra sang Ratu, bahkan Permaisuri pun tidak berani menyinggung perasaan Selir Prilly, apa dia berani menyinggung sang Ratu?
Ronald percaya Ivonne berani.
Ivonne sudah sangat marah pada Oscar, Ivonne sudah menahan emosi ini untuk waktu yang lama dan tidak melampiaskannya.
Hari ini di lokasi kejadian pun Ronald mendengar Ivonne memarahi Oscar, jika bukan karena banyak orang dan sibuk berurusan dengan yang terluka, Ivonne sudah pasti akan bertindak.
Jika Oscar mencari Ivonne hari ini untuk mempermasalahkan mengenai kejadian di danau maka Ivonne sudah pasti akan memperhitungkan semuanya.
Jika Ivonne bisa menahan emosi ini maka anggap Ronald kalah.
Ivonne memang tidak memiliki temperamen buruk tapi prinsipnya sangat kuat, Ivonne akan meminta maaf jika dirinya salah, dia akan dengan tulus meminta maaf.
Tapi jika Ivonne tidak bersalah dan lagi pihak lawan terus mendesaknya maka Ivonne sudah tidak bisa menahan emosinya.
Memikirkan dulu, Ivonne bahkan menggigit Ronald hingga tangannya berdarah walaupun harus bertaruh nyawa.
Hari ini suasana hati Ivonne sangat buruk karena ada banyak orang yang terluka dan hal ini sebenarnya sepenuhnya bisa dihindari.
Ronald memaksanya untuk pulang dan beristirahat, itu sudah membuat Ivonne sangat kesal, jika Oscar pergi ke sana nanti, maka sepertinya Oscar akan mendapat ganjaran.
Ketika Ronald memikirkan hal ini, dia memacu kudanya menuju ke arah kantor birokrat untuk bekerja lembur!
Ivonne memang sangat marah hari ini.
Pada saat itu ada banyak orang yang terluka dan hanya memikirkan mengenai penyelamatan, Ivonne sama sekali tidak memikirkan masalah itu.
Tapi setelah kembali ke rumahnya dan diawasi untuk beristirahat oleh Bibi Vera dan Letty, ketika Ivonne memikirkan masalah yang dibuat oleh Clara, dirinya benar-benar kesal.
Nyawa begitu banyak orang berada dalam bahaya, itu tidak bisa digunakan Clara hanya demi reputasinya saja.
Ivonne sangat mengerti maksud dari perbuatan Clara hari ini.
Itu tidak lebih hanya melakukan pertunjukan untuk memenangkan hati rakyat dan memperjuangkan reputasi bagi diri mereka sendiri, tapi karena takut orang-orang di atas tidak mengetahuinya, jadi mengundang Permaisuri Ralph dan juga Putri Karen untuk datang.
Hal inilah yang menyebabkan keterlambatan pembagian bubur.
Demi menutupinya, Clara menggunakan alasan ingin membagikan roti.
__ADS_1
Ada begitu banyak tempat yang menjual roti di kota ini, roti yang sedikit itu bisa dibeli, sama sekali tidak perlu sengaja dipesan.
Clara benar-benar sangat keterlaluan.
Teringat lokasi kecelakaan hari ini, Oscar juga masih terus mencecarnya mengenai peristiwa di danau, Pangeran yang memiliki tangan dan kaki ada di sana tapi malah melindungi Istrinya yang tidak dalam bahaya dan bukannya pergi untuk menyelamatkan orang, masalah ini lebih membuat Ivonne marah dibandingkan masalah yang dibuat Clara.
Clara setidaknya memiliki tujuan, sedangkan Oscar itu benar-benar bodoh.
“Permaisuri, apa mau menunggu Yang Mulia kembali baru makan malam?” Letty bertanya.
Ivonne berkata, “Tidak perlu, ada masalah begitu besar yang terjadi, sepertinya dia tidak akan kembali begitu cepat, sisakan saja untuknya, mari kita makan lebih dulu.”
“Baik!” Letty kemudian pergi.
Ivonne dan Cecil makan lalu mengajak Becky berjalan-jalan di halaman.
Becky bersembunyi di semak-semak untuk buang air besar, Cecil melihatnya dengan tidak berdaya dan berkata, “Kak, kamu bisa menyerahkan hal ini untuk dilakukan bawahanmu, itu sangat kotor!”
Ivonne duduk, “Bukankah sama saja siapa yang melakukannya? Lagipula ini bukan pekerjaan berat.”
“Kamu adalah Permaisuri!” Cecil berulang kali mengingatkan Ivonne akan identitasnya.
“Permaisuri tidak perlu makan? Permaisuri tidak perlu berpakaian? Permaisuri tidak memiliki tangan atau kaki?” Ivonne memutar bola matanya pada adiknya itu.
Cecil duduk di sebelah Ivonne, tidak berdebat dengannya mengenai hal ini, Kakaknya ini seakan berubah menjadi orang lain, tidak akan bisa menang berdebat dengannya.
“Kak bagaimana kamu bisa mengerti ilmu pengobatan?” Tanya Cecil dengan penasaran.
“Belajar dari siapa?” Cecil belum pernah mendengar Ivonne mempelajari ilmu pengobatan, dan lagi itu adalah teknik pengobatan yang aneh.
Ivonne tersenyum dan tidak berbicara.
“Begitu misterius!” Cecil tahu dia tidak tidak bisa mendapatkan jawaban jadi terlalu malas untuk bertanya lagi.
Becky berlari untuk sementara waktu kemudian kembali berbaring di dekat kaki Ivonne, nafasnya terengah-engah.
Cecil diam untuk sekian lama kemudian berkata, “Kudengar hari ini Raja Oscar mengatakan Clara sedang hamil.”
Ivonne berkata, “Hamil ya hamil.”
“Apa kamu tidak khawatir?” Cecil menoleh ke samping untuk menatap Ivonne.
Ivonne tertawa, “Apa yang ku khawatirkan? Aku bukan Ayah anak itu.”
“Raja Oscar adalah keturunan langsung dari Kaisar dan Ratu, jika Clara hamil maka Raja Oscar kemungkinan besar akan dianggap sebagai pangeran mahkota, jadi Kak Ronald tidak akan bisa mendapatkan posisi itu, sayang sekali.” Cecil berkata sambil menghela nafas.
“Menjadi pangeran mahkota itu tidak selalu merupakan hal yang baik, akan menjadi target!”
__ADS_1
“Siapa yang berani menyentuh Raja Oscar? Di belakang Raja Oscar ada keluarga Chu yang menjaganya.” Meskipun Cecil tidak memahami urusan seperti ini tapi dia tahu akan kehebatan dan kekuatan keluarga Chu.
Ivonne menggelengkan kepalanya, “Walaupun jalan untuk naik ke atas itu sulit, akan selalu ada ada orang yang ingin naik ke puncak.”
“Kak apakah kamu tidak ingin menjadi putri mahkota? Jika menjadi putri mahkota maka kamu nantinya bisa menjadi seorang ratu.” Kata Cecil.
Ratu, bahkan generasi keluarga Ivonne pun tidak berani memikirkan gagasan ini.
Tapi merencanakan Kakaknya ini menikahi Raja Ronald saja sudah menghabiskan semua koneksi yang dimiliki Ayah.
Ketika berhasil pada saat itu, Ayah begitu gembira dan bahagia setiap harinya.
Jika Kakaknya ini benar-benar menjadi putri mahkota, maka diperkirakan sang Ayah akan gembira hingga menjadi gila.
Letty bergegas datang menghampiri, “Permaisuri, Raja Oscar datang.”
Ivonne bahkan tidak mendongak, “Kamu katakan padanya Yang Mulia masih belum pulang, minta dia datang lain hari.”
“Raja Oscar kemari untuk mencarimu.” Kata Letty.
Ivonne mengelus Becky kemudian berkata, “Pergilah bermain.”
Becky menggoyangkan ekornya kemudian pergi.
Ivonne bangkit kemudian berkata, “Baiklah, aku mengerti.”
Cecil tentu saja tidak enak untuk mengikutinya, tapi hatinya gelisah jadi dia berkata pada Ivonne, “Jangan menyinggung Raja Oscar, kamu harus menanggapinya dengan baik, jangan membuat masalah untuk dirimu sendiri.”
Ivonne mengangguk, “Ya, aku mengerti, kamu kembalilah untuk beristirahat lebih dulu.”
Ivonne membawa Letty berjalan ke depan dan bertanya, “Di mana dia menunggu?”
“Aula utama!” Kata Letty.
“Apa Tuan Yanto ada?”
Letty berbicara sambil berjalan, “Ada, sekarang sedang menyambut Raja Oscar.”
Ivonne datang ke aula utama dan melihat Oscar berkata pada Yanto, “Lebih baik kamu mencari Kak Ronald kemari untuk mencegah jangan sampai nantinya terjadi konflik, aku juga tidak bisa membereskannya jadi hanya bisa menyinggungnya.”
Yanto tersenyum dan berkata, “Yang Mulia tidak bisa berkata seperti itu, pada akhirnya Permaisuri Ivonne adalah Kakak iparmu dan lagi Anda adalah seorang pria, bagaimana bisa Yang Mulia perhitungan pada wanita?”
“Aku bukannya perhitungan, aku kemari ingin meminta keadilan, mengapa kamu begitu banyak omong hari ini? Aku memintamu untuk pergi maka pergilah, aku benar-benar tidak memiliki kesabaran hari ini.” Oscar berkata dengan tidak sabar.
Yanto hanya bisa berbalik dan menyuruh para pelayan untuk mengundang Yang Mulia Ronald untuk pulang, tapi dia malah melihat sang Permaisuri sudah ada di depan pintu dengan raut wajahnya yang menggelap.
“Permaisuri, kamu sudah datang!” Kata Yanto buru-buru.
__ADS_1
“Ya, aku datang untuk menyapa Raja Oscar, Tuan Yanto bisa pergi untuk mengurus pekerjaanmu.” Ivonne melangkah maju dan memandang Oscar, “Datang mencariku begitu larut, apa ada masalah?”
“Tentu saja ada masalah.” Oscar bangkit, dirinya jauh lebih tinggi dibanding Ivonne, tingginya benar-benar mengintimidasi.