
Sebelum jamuan ini berakhir, Ratu tiba-tiba memanggil Ivonne dan Permaisuri Stanley, bertanya apa ada dari para gadis itu yang mereka sukai.
Permaisuri Stanley menyebutkan beberapa tapi Ivonne malah menggelengkan kepalanya dan berkata: “Tidak ada.”
Perkataan ini menarik perhatian sang Ratu dan juga beberapa selir lainnya.
Semua orang diam-diam berkata dalam hati ternyata berita bahwa Ivonne itu pencemburu benar adanya.
Hanya saja di hadapan Selir Prilly tidak ada yang berani mengatakan apapun.
Sang ratu juga tersenyum enggan, “Karena tidak ada maka sudahlah.”
Ivonne mendapatkan tatapan mata sengit dari Selir Prilly.
Saat meninggalkan Istana, Bibi Vera berkata: “Permaisuri seharusnya mengatakan nama beberapa putri.”
“Beberapa?” Ivonne merasa sebal, “Satu saja aku tidak ingin mengatakannya apalagi beberapa?”
Bibi Vera berkata: “Itu hanya untuk menjawab asal saja, bagaimanapun juga tidak dapat mengambil beberapa selir, jamuan ini diselenggarakan oleh sang Ratu, mengatakan beberapa gadis yang disukai itu juga memberikan kehormatan bagi sang Ratu, apa Permaisuri pikir Permaisuri Stanley benar-benar menyukai gadis-gadis itu? Itu hanya upaya untuk memberi kehormatan bagi sang Ratu saja, itu juga tidak akan merusak reputasinya, sedangkan Permaisuri hari ini mungkin akan menanggung nama sebagai orang yang pencemburu.”
Ivonne benar-benar terpaku, siapa yang tahu akan hal itu?
Kembali ke kediamannya, Ronald berpura-pura tidak peduli dan terus bergerak di sekitar Ivonne, tapi Ronald tidak bertanya karena takut akan menanyakan topik yang salah dan membuat Ivonne tersinggung.
Ivonne berkata dengan marah: “Duduk, jangan terus bergerak di depanku.”
Ronald duduk dengan malas di sampingnya kemudian bertanya dengan santai: “Bagaimana jamuan malam ini?”
“Benar-benar menyilaukan.” Ivonne menatap Ronald, hatinya merasa kesal, “Apa setiap Pangeran harus memiliki selir?”
“Tidak harus.” Ronald menatap perut Ivonne, “Jika perutmu itu bisa memiliki kabar baik maka aku punya alasan untuk menolaknya di hadapan Ayah.”
Ivonne tertegun, “Apa maksdunya perutku bisa memiliki kabar baik?”
“Melahirkan 10 atau 8 anak.”
Ivonne marah, “Aku bukan babi betina.”
Hati Ronald sebenarnya juga sangat panik.
Ronald juga tidak menginginkan selir, harinya dilewati dengan baik, jika memiliki selir maka Ivonne pasti akan bertengkar dengannya setiap hari.
__ADS_1
Memikirkan hari-hari seperti itu membuat Ronald merasa jengkel.
Namun hal semacam ini dirinya sama sekali tidak bisa membuat keputusan, bahkan jika Ronald menolaknya dan bersikap tegas, jika Ayahnya memberikan selir padanya maka dirinya juga tidak berdaya.
Itu sebabnya Ronald mengingatkan Ivonne malam ini untuk tidak menyukai siapapun dan tidak peduli jika Ivonne memiliki nama sebagai seorang Istri yang pencemburu.
Memang kenapa jika pencemburu? Cemburu juga itu karena Ivonne peduli padanya.
Ivonne melihat Ronald mengerutkan kening kemudian dia berkata: “Ratu bertanya padaku, tapi aku berkata tidak ada yang kusukai tapi ada seorang gadis yang mengatakan dia ingin menikah denganmu.”
“Siapa?” Ronald mengerutkan keningnya, beraninya dia!
Besok dia akan membunuhnya.
“Gadis itu bernama Yulicia, katanya dia adalah cucu atau putri dari Jenderal Yuan, aku tidak ingat, dia adalah teman Wendy.”
Ronald membeku, “Yulicia? Dia bilang dia mau menikah denganku? Itu sama sekali tidak mungkin.”
“Mengapa tidak mungkin?” Ivonne menatap Ronald.
Ronald mencibir, “Setiap kali gadis itu melihatku, dia bersembunyi ketakutan, dia begitu takut padaku, bagaimana mungkin ingin menikah denganku sebagai selir?”
“Tapi dia benar-benar berkata begitu.” kata Ivonne.
Ivonne berkata: “Apa mungkin dia sengaja menghindarimu karena dia menyukaimu? Dia itu pemalu.”
“Pemalu?” Ronald tertawa kencang, “Aku percaya jika kamu berkata kamu pemalu, tapi jika mengatakan dia pemalu maka aku benar-benar tidak, gadis ini tidak takut pada apapun.”
Ivonne menatap Ronald lekat, “Kita sepertinya tidak membicarakan orang yang sama, aku bertemu dengannya malam ini dan sepanjang malam dia bersikap pemalu, meskipun dia terus menerus menatapku, tapi ketika aku menatapnya dia akan menghindar secara tidak sadar.”
Ronald terkejut dan mengatakan: “Kalau begitu pasti itu bukan orang yang sama, gadis itu sudah jelas bukan pemalu, nyalinya bahkan lebih besar dibanding pria.”
“Kalau begitu kenapa dia takut padamu?”
Ronald membicarakan masa lalu, “Waktu itu dia pertama kalinya masuk ke Istana, sepertinya dia berusia 5 atau 6 tahun pada saat itu, Ibunya yang membawanya ke Istana untuk memberi salam pada Nenek, waktu itu aku baru berusia 12 tahun dan suka bermain, ada seekor ular kecil di Taman Istana, aku menangkapnya dan berpikir itu akan sangat menyenangkan, aku ingin memberikannya pada Nenek, aku tidak tahu bagaimana bisa terlepas kemudian menyusup ke gaun milik gadis kecil itu, dia begitu ketakutan hingga menangis kencang, setelah itu sepertinya hal yang paling dia takuti dalam hidupnya mungkin adalah ular dan juga aku.”
Membicarakan prestasinya itu Ronald seakan begitu bangga.
Ivonne memutar bola matanya pada Ronald, “Menakuti seorang gadis kecil hingga menangis, kamu benar-benar sangat hebat.”
Ronald merasa lega, jika itu adalah Yulicia maka gadis itu tidak mungkin mau menikah dengannya.
__ADS_1
Dua hari kemudian, Ronald kembali dari istana dengan gembira kemudian menarik Ivonne ke Paviliun Eternity.
“Selir Oscar sudah ditentukan.” Kata Ronald dengan penuh semangat.
“Siapa?” Ivonne bertanya tanpa sadar.
“Yuang Yulicia.”
Ivonne terkejut, “Yulicia?”
Ronald tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya, “Ya, aku sudah bertanya pada Wendy, yang kamu temui hari itu sudah pasti Yulicia yang sama dan gadis yang disukai Clara salah satunya adalah dia.”
Ivonne terkejut, “Gadis itu, bagaimana bisa menjadi lawan Clara? Astaga, Oscar begitu terobsesi pada Clara dan juga metode serta tindakan Clara begitu kejam, jika gadis itu menikah menjadi selir Oscar dan bisa bertahan selama setengah tahun maka dia sangat hebat."
Di benak Ivonne sudah muncul sebuah gambar.
Yulicia memeluk kepalanya sendiri dan meringkuk di sudut, terisak dan gemetar, tampilannya begitu sedih sementara Clara duduk dengan sombongnya dan menatapnya dengan dingin.
Benar-benar sangat kontras.
Ronald malah menggelengkan kepalanya, “Masih tidak bisa dikatakan siapa yang bisa bertahan dan tidak, tapi mengapa Clara memilihnya? Dia juga bukannya tidak tahu temperamen anak itu.”
Perkataan ini membuat Ivonne penasaran.
Sebenarnya bagaimana sifat gadis itu?
Setelah selir Oscar ditentukan, salah satu selir di kediaman Juno malah terkena musibah.
Terjatuh ke danau.
Ketika ditolong naik sudah kehabisan nafas.
Jingzhaofu tentu saja harus menyelidiki masalah ini, setelah mayat diperiksa ternyata menyadari bahwa selir ini baru saja hamil.
Di sisi Juno awalnya memang memiliki dua selir, satunya sudah meninggal karena penyakit parah, Juno begitu sedih hingga dia membubarkan semua wanita cantik yang ada di kediamannya dan hanya menyisakan satu selir yaitu Liana.
Ayah dari Liana adalah mantan menteri yang mengurus keuangan rumah tangga, kemudian dihukum oleh Kaisar karena perhitungan akun yang tidak jelas dan dibebaskan ke prefektur lain sebagai menteri biasa.
Ada seorang selir yang meninggal dan lagi dalam keadaan hamil, tentu saja Kaisar Mikael menganggap hal ini penting, sang Ibu Suri juga marah, sebenarnya itu karena kecelakaan atau dirinya sendiri yang terjatuh ke danau, mereka ingin pihak Jingzhaofu menyelidikinya dengan jelas.
Ronald mengambil alih penyelidikan dan bertanya pada orang-orang yang melayani di samping Selir Liana, dia baru mengetahui bahwa Ayah Liana sebelumnya mengirim surat dan meminta Liana memohon pada Juno karena dia sudah benar-benar tidak sanggup tinggal di tempat itu.
__ADS_1
Mengenai apakah Liana memohon pada Juno atau tidak, itu harus bertanya pada Juno dan Liana.
Tentu saja sudah tidak bisa bertanya pada Liana, jadi Ronald mau tidak mau harus bertanya pada Juno.