
Ronald mengerutkan keningnya, “Mengapa perempuan sudah pasti akan menderita?”
Ivonne menarik napas dalam-dalam, menyesuaikan postur tubuhnya, “Mengapa tidak menderita? Ini adalah masyarakat patriarkal, seorang wanita selain menikah dan melahirkan anak tidak ada lagi jalan lain. Melayani suami adalah pekerjaan seumur hidupnya, tapi pekerjaan ini juga memiliki pesaing, kalian para pria memiliki lebih dari 1 istri, benar-benar tidak bisa setia, dan juga tidak mengerti arti dari ketulusan.”
Ronald terpaku tidak bisa berkata-kata, teori apa ini?
Pekerjaan apa, pesaing apa? Selain itu, atas dasar apa dia tidk mengerti arti dari ketulusan?
“Apanya yang aku tidak mengerti?” Bekas luka di alis Ronald nyaris memelintir.
“Apa kamu mengerti? Anggap kamu akhirnya bisa menikah dengan Clara sesuai dengan keinginanmu. Apa kamu tidak akan mengambil selir demi dirinya untuk selamanya?” Tanya Ivonne.
Ronald dengan dingin berkata, “Aku mengambil selir atau tidak, apa hubungannya denganmu? Dan lagi, untuk apa kamu menarik Clara ke dalam pembicaraan ini?”
“Mari kita berdiskusi. Apa kamu bersedia atau tidak untuk tidak mengambil selir seumur hidup demi dirinya.”
“Dia berbeda darimu, dia pengertian.”
“Ya, dia pengertian. Dia juga akan secara pribadi memilihkan selir untukmu. Tapi yang kutanyakan adalah apa kamu bersedia hanya melewati seumur hidupmu dengan dirinya seorang? Jika tidak bersedia, kamu sama sekali tidak mencintainya.” Ivonne bisa menjadi ahli cinta bagi pria jaman kuno.
Meskipun Ivonne tidak membaca buku chicken soup mengenai percintaan, tapi asistennya Amy membacanya, Amy paling suka mengungkapkan pandangannya tentang cinta di depannya.
Amy adalah seorang mahasiswa pascasarjana yang gemuk. Sampai sekarang belum pernah berpacaran, bahkan belum pernah melakukan ciuman pertama.
Namun Amy sangat optimis. Dia berkata suatu hari dia akan bertemu dengan orang itu, kemudian dia akan melemparan dirinya sendiri pada orang itu.
Setelah Ivonne menyelesaikan kalimat ini, dia menolehkan kepalanya dan melanjutkan tidurnya.
Ronald terdiam tidak bisa berkata apa-apa.
Ronald tidak senang, sebenarnya siapa yang mengatakan mencintai seseorang harus hidup dengan orang itu saja seumur hidup? Mengambil selir itu untuk memperbanyak keturunan, tidak ada hubungannya dengan cinta.
Bukannya Ronald yang tidak mengerti cinta, tapi Ivonne yang terlalu keras kepala.
Ketika berpikir sampai sini, Ronald tiba-tiba ketakutan, jangan bilang Ivonne mengatakan hal seperti ini di depan Ayahnya?
Ronald ingin bertanya pada Ivonne, tapi ketika mendengar suara nafasnya yang teratur, sepertinya Ivonne tertidur.
Dasar babi, masih bisa tidur dalam situasi seperti ini, apa yang Ivonne bicarakan tadi dengan Ayahnya.
__ADS_1
Ivonne tadinya hanya ingin istirahat sebentar, tapi ketika tertidur, dia malah tertidur selama 2 jam.
Ketika terbangun, Ivonne melihat Rendi dan Yanto duduk berjaga di depan pintu, keduanya diam tidak bersuara.
Menoleh ke samping melihat sekilas pada Ronald, dia tertidur, cahaya lilin keemasan terpapar di wajahnya, bekas luka itu terlihat sangat mengerikan dikarenakan wajahnya yang tenang karena sedang tertidur, luka itu bengkaknya sudah sedikit berkurang, kondisinya sepertinya tampak lebih baik.
Ivonne mengulurkan tangan dan menyentuh dahi Ronald, suhu tubuhnya sedikit panas, masalahnya tidak besar.
Ivonne menghela nafas lega, pikirannya perlahan menjadi jernih.
Sulit membayangkan, beberapa hari yang lalu, Ronald bahkan masih sangat ingin membunuhnya, tapi sekarang mereka malah berbaring dengan tenang di ranjang.
Memikirkan ekspresi Ronald yang dingin sebelumnya, Ivonne tidak bisa tidak berperang dingin, Ivonne tahu bahwa mereka berdua bisa begitu damai dikarenakan krisis di istana mempengaruhi mereka berdua, tapi, setelah masalah ini selesai, mereka pasti akan berubah kembali seperti sebelumnya.
Memikirkan hal ini Ivonne tidak bisa dengan tenang tidur bersama dengannya di ranjang, Ivonne turun dari ranjang, berhati-hati berjalan keluar.
Yanto dengan suaranya yang rendah bertanya, “Permaisuri ingin pergi kemana?”
Ivonne dengan pelan berkata, “Aku ingin keluar untuk mencari udara segar, akan kembali nanti.”
“Kalau begitu Permaisuri jangan sembarangan keluar, berputar-putar di sekitar sini saja, penjagaan di istana ketat, para penjaga tidak mengenal Permaisuri, takutnya mereka akan melukai Permaisuri dengan tidak sengaja.”
“Aku mengerti.” Ivonne menjawab, membuka pintu kemudian keluar.
Ivonne bertanya, “Jam berapa sekarang?”
“Menjawab Permaisuri, baru lewat jam 1 subuh.”
Ivonne berjalan, ada lampu lentera yang tergantung di depan koridor, membuat halaman itu memiliki daya tarik yang mempesona.
Ivonne tidak pergi jauh, keluar dari kediaman, duduk di bawah pohon magnolia.
Sekeliling hening.
Suara katak terdengar memasuki telinga, Ivonne memejamkan matanya dan menikmati karunia alam.
Untuk sesaat, Ivonne perlahan membuka matanya, menatap kosong ke rumput di sebelahnya, suara serangga dan katak itu, Ivonne ternyata mengerti.
Bisa mengerti perkataan Lucky sudah membuatnya sangat terkejut, sekarang dia bahwa bisa mengerti komunikasi antara serangga dan katak, sebenarnya apa yang terjadi? Apa dia sudah mati? Apa dia adalah roh yang kesepian? Benarkah ada hantu di dunia ini?
__ADS_1
Seketika Ivonne merasakan perasaan ngeri yang perlahan mengelilinginya dari dalam kegelapan, hatinya panik, merangkak naik, pergi ke dalam Istana bagai dikejar hantu.
Yanto dan Rendi terkejut dengan langkah kaki Ivonne yang begitu kasar, mendongak menatapnya, melihat Ivonne merangkak naik ke atas ranjang dengan panik, menyibakkan selimut kemudian masuk ke dalamnya.
Ronald terbangun, membuka matanya menatap Ivonne, melihat wajah Ivonne yang pucat, nafasnya yang terengah-engah, tanpa sadar mengerutkan kening dan bertanya, “Kenapa?”
Ivonne bersandar di samping Ronald, “Takut!”
“Apa yang kamu takutkan?” Ronald terpaku seketika, merasakan tubuh Ivonne yang gemetar, Ivonne benar-benar takut.
Ivonne menguburkan kepalanya di bawah selimut, pikirannya kacau, merasakan ketakutan akan hal yang tidak diketahui.
Sebuah tangan dingin menggenggam tangan Ivonne yang gemetaran!
Telapak tangan itu kasar, jari-jarinya ramping, menggenggamnya dengan erat, menggunakan kekuatan yang dimilikinya.
Ivonne merasa tangan itu seakan memiliki kekuatan yang tak ada habisnya, menarik hatinya yang mengambang di udara, menggenggamnya, menggenggamnya dengan kuat di telapak tangannya.
Ivonne tidak pernah berpikir bahwa Ronald akan membuat tindakan yang hangat seperti itu, berpikir Ronald akan menertawakannya dan mengejeknya.
Kepala Ivonne perlahan-lahan dikeluarkan dari dalam selimut, kedua mata yang panik itu juga berubah menjadi gelap dan hening, Ivonne terlihat sangat lembut dan patuh.
Jantung Ronald tanpa sadar seakan tercubit, kemudian rasanya seperti digigit semut, memberi perasaan sakit padanya.
Lengan mereka sekali lagi merapat, karena ketakutan dalam hati Ivonne membuat dirinya melepaskan dirinya, mencoba untuk mendapatkan perasaan nyata dalam waktu singkat ini.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Ronald.
Suara Ivonne sedikit tercekat, “Merindukan rumah.”
Itu hanya alasan yang asal saja, tapi setelah kata-kata merindukan rumah keluar, kesedihan yang mendalam dan kerinduan melanda hati, bagai awan kelam yang tidak pergi, hidungnya masam, Ivonne membenamkan wajahnya di lengan Ronald, air matanya berlinang.
Sejak datang ke sini, serangkaian rasa sakit, hampir tidak pernah berhenti, lingkungan yang keras membuatnya tidak bisa dan tidak berani menangis dengan keras, seolah-olah jika menangis, maka kelemahan akan tumbuh dari dalam lubuk hati dan akan menelan keseluruhan dirinya.
Tidak ada yang bisa diandalkan di sini, Ivonne tidak memenuhi persyaratan untuk bersikap lemah.
Ivonne hanya bisa menghibur dirinya sendiri, sejal awal, Ivonne adalah yang terbaik, yang paling cerdas, IQ-nya 180, tidak ada yang tidak bisa dia atasi.
Tapi, saat ini di depan orang yang bisa dianggap musuh, Ivonne mau tidak mau membiarkan dirinya menjadi lemah.
__ADS_1
Ronald merasakan lembab di tangannya, merasakan pundak Ivonne bergetar, merindukan rumah? Mungkin ada, lagipula, mendengarkan perkataan Yanto, sejak keluarga Ivonne tahu bahwa dirinya tidak disukai, mereka jarang berkomunikasi.
Namun, Ivonne menangis bukan karena dia merindukan rumah, tapi karena dia takut.